Posted by: niadilova | 31/12/2012

SERATUS SATU ‘INTAN BERKILAU’ DARI MINANGKABAU

0dd8e849ea9c8a6653c87a8f66864cf2_suryadi-101-orang-minang-di-pentas-sejarahJudul buku : 101 Orang Minang di Pentas Sejarah

Penulis : Hasril Chaniago

Penerbit : Citra Budaya Indonesia, Padang, 2010

Tebal : xviii + 566 hlm.

ISBN : 978-979-3478-19-7

Peresensi : Suryadi (Leiden University Institute for Area Studies, Leiden, Belanda)

Tradisi merantau telah menyerakkan orang Minangkabau ke berbagai tempat di dunia. Kapan persisnya budaya merantau etnis Minangkabau itu dimulai, tak ada keterangan pasti. J.T. Newbold dalam artikelnya “Sketch of the four Menangkabowe States in the interior of the Malayan Peninsula” dalam Journal of the Asiatic Society of Bengal 14 (January December 1835: 241-252) menulis bahwa penduduk ‘Sungieujong’ atau ‘Simujong, Rambowe, Johole’, dan Sriminanti’ di daerah yang sekarang disebut Negri Sembilan (Malaysia) berasal dari kerajaan Menangkabowe’ di Sumatera. Mereka hijrah ke sana pada abad ke-14 (hlm.241). Mungkin tak banyak pula orang Minang yang tahu bahwa jejak penghijrahan orang Minangkabau yang berusia lebih dari 600 tahun ditemukan pula di tanah orang Dayak Tumon di Pegunungan Schwaner di pedalaman pulau Kalimantan, sebagaimana ditulis oleh Herwig Zahorka dalam artikelnya, “Die Ethno-Historie de ‘Tumon Dayak’ im Schwaner Gebirge Zentral-Kalimantans: eine uber 600 jahre alte, ubersehene Minangkabau Kolonie”, yang dimuat dalam KITA: das Magazin de Deutsch-Indonesischen Gesselschaft 3 (2011):49-59. Barangkali bukan kebetulan kalau orang Dayak (Tumon) punya Rumah Panjang dan orang Minang punya Rumah Gadang.

Buku ini mengumpulkan ‘mutiara-mutiara’ Minangkabau yang terserak di berbagai tempat di Nusantara dan tempat-tempat lain yang lebih luas dari itu akibat budaya merantau. Sebagaimana terefleksi pada judulnya, buku ini mencatat 101 orang Minangkabau, yang sebagian besar gadang di rantau, yang telah mengukir sejarah dalam berbagai bidang pekerjaan, seperti negarawan, politisi/diplomat, ulama, tokoh adat, pendidik, birokrat, militer, ekonom/saudagar, ahli hukum, ahli perminyakan, ahli perbankan, ahli bahasa, budayawan (seniman, penari, sineas, sastrawan), wartawan, dan lain sebagainya.

Mereka (dalam urutan menurut daftar isi buku ini) adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Mohammad Natsir, Haji Agus Salim, Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Muhammad Yamin, Hamka, Mahjoeddin Dt. Soetan Maharadja, Chairil Anwar (dan kemudian menurut abjad), Abdoel Raoef Soehoed, Abdul Halim, Abdul Karim Amrullah, Abdul Latief, Abdul Muis, Abdul Rivai, Abdullah Ahmad, Abu Hanifah, Adnan Kapau Gani, Adnil Hasnan Habib, Ahmad Husein, Ahmad Rasyid Sutan Mansur, Ahmad Syafii Maarif, Aisyah Aminy, Ali Akbar Navis, Ani Idroes, Anwar St. Saidi, Asrul Sani, Assaat, Awaloeddin Djamin, Azwar Anas, Azyumardi Azra, Bachtiar Chamsyah, Bagindo Azischan, Baihaki Hakim, Bustanul Arifin, Chairul Saleh, Chatib Sulaiman, Datuak ri Bandang, Djamaluddin Adinegoro, Djamaludin Malik, Emil Salim, Eni Karim, Fahmi Idris, Gamawan Fauzi, Harun Zain, Hasan Basri Durin, Hasjim Djalal, Hasjim Ning, Hazairin, Huriah Adam, Ibrahim Muda Parabek, Iljas Jacoub, Imam Bondjol, Irman Gusman, Jahja Datoek Kajo, Jalaluddin Thaib, Kaharoeddin Dt. Rangkayo Basa, Karni Ilyas, Kemal Idris, Lukman Harun, Lukman Harun, Mahmud Junus, Mansoer Daoed Dt. Palimo Kayo, Marah Roesli, Marlis Rahman, Mohammad Djamil, Mohammad Sjafei, Muchlis Ibrahim, Muchtar Luthfi, Mufidah Miad Saad, Muhammad Alwi Dahlan, Muhammad Jamil Jambek, Muhammad Nasrun, Muhammad Saleh al-Minangkabawi, Rahmah el-Yunusiyah, Rais Abin, Rais Yatim, Rasuna Said, Roestam Effendi, Rohana Kudus, Rosihan Anwar, Saiful Sulun, Siti Manggopoh, Sjahrir, Sulaiman ar-Rasuli, Sutan Mohammad Rasjid, Sutan Muhammad Zain, Syahril Sabirin, Taher Marah Soetan, Tahir Jalaluddin, Tarmizi Taher, Taufik Abdullah, Taufiq Ismail, Taufiq Kiemas Dt. Basa Batuah, Tuanku Abdul Rahman, Usmar Ismail, Yusof bin Ishak, Zainal Abidin Ahmad, Zainal Bakar, Zakiah Darajat, dan Zubir Said.

Mestika Zed yang memberi kata pengantar untuk buku ini (hlm.xiii-xviii) telah memaparkan analisa dan kritik akademisnya terhadap pemilihan 101 nama yang dibiografiringkaskan pengarang dalam buku ini. Namun, seperti dijelaskan oleh Hasril dalam Prolog buku ini (hlm.1-20), tujuan buku ini adalah untuk memetakan keterwakilan etnis Minangkabau dalam lapangan politik, sosial, agama, ekonomi, dan budaya di panggung Indonesia khususnya dan dunia Melayu Nusantara pada umumnya. Angka 101 jelas lebih sebagai representatif, sebab jumlah orang Minangkabau yang sudah mengukir panggung sejarah melalui dunianya masing-masing di tingkat nasional ataupun regional dalam rentang waktu lebih kurang empat abad, seperti yang dijangkau oleh buku ini, jelas jauh lebih banyak lagi. Demikianlah umpamanya, buku ini tidak memasukkan biografi ringkas Syekh Burhanuddin, salah seorang tokoh Minangkabau yang justru dicatat oleh Tamar Djaja dalam Poesaka Indonesia: Orang-orang Besar Tanah Air (1940).

Namun, dari semula pengarang sudah menyadari bahwa mengenai pilihannya terhadap “101 nama dalam buku ini, tentu tidak semua orang akan sependapat”. (hlm.viii). Penulis mengatakan bahwa ia akan menulis Ensiklopedi Orang Minang yang memuat sekitar 200 entri lagi di luar nama-nama yang sudah ada dalam buku ini sebagai kelanjutan dari buku ini.

Bagi saya yang suka menulis artikel (baik untuk jurnal ilmiah maupun untuk media massa), buku seperti 101 Orang Minang di Pentas Sejarah ini sangat besar manfaatnya. Buku seperti ini tak ubahnya bagai katalog tempat kita dapat merujuk sesuatu dengan cepat dan mencari informasi-informasi baru mengenai tokoh-tokoh yang sedang kita telusuri. Demikianlah umpamanya, melalui buku ini kita baru tahu Yang Dipertuan Agong Malaysia yang pertama, Tuanku Abdul Rahman, yang wajahnya ternukil dalam salah satu seri Ringgit Malaysia, adalah seorang yang berdarah Minang. Demikian juga halnya Presiden pertama Republik Singapura, Yusof bin Ishak, yang wajahnya juga tertera dalam salah satu seri lembaran Dollar Singapura, dan pencipta lagu kebangsaan negeri pulau itu, Zubir Said, rupanya juga seorang yang berdarah Minangkabau.

Saya berharap Hasril Chaniago, atau orang lain, akan terus mengumpulkan biografi tokoh-tokoh Minang lainnya yang belum disebut dalam buku ini. Tidak saja mereka yang berkiprah di tingkat nasional dan internasional, mereka yang berkiprah di tingkat lokal juga mesti dicatat, seperti Dt. Batuah, Zalmon, Amran SN, dan Anas Malik – untuk sekedar menyebut contoh. Sebuah seri Who’sWho untuk konteks etnis Minangkabau, seperti dikatakan Mestika Zed (hlm.xiv), jelas akan sangat bermanfaat bagi dunia ilmu dan juga bagi generasi-generasi Minangkabau di masa mendatang.

* Resensi in diterbitkan di harian Singgalang, Minggu, 30 Desember 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: