Posted by: niadilova | 17/12/2012

Minang Saisuak #115 – Haji Ahmad bin Abdul Murid (1883-1928): Tokoh Sarikat Islam Tanah Datar

f345eed21e6adb889972d0411402b203_minang-saisuak-haji-ahmad-bin-abdul-murid

Kodak lama ini pertama kali dimunculkan oleh Fikrul Hanif Sufyan di laman facebook-nya. Tampaknya foto ini terkait dengan topik tesisnya yang berjudul Dari isterinya Siti Aisyiah, Haji Ahmad dikaruniai beberapa orang anak yang aktif di organisasi Muhammadiyah, seperti: A. Malik Ahmad (Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Beliau juga dikenal sebagai penentang asas tunggal Pancasila. Sebagian mahasiswa angkatan 80an yang sering mengikuti pengajian di Kandang Ampek, kenal dengan sosok ini. Salah satu kadernya yang saya tahu adalah Prof Bustanuddin Agus, Prof Mansur Malik, Lukman Harun, dsb.), Sjamsuddin Ahmad (Panglima Hizbullah di Sumatera Barat), dan Hasan Ahmad.Penolakan Abdul Malik Ahmad terhadap Asas Tunggal Pancasila di Organisasi Muhammadiyah (1982-1985) [Padang: PPS Unand, 2011]. Dalam tesis it ia membahas sosok dan pemikiran politik Abdul Malik Ahmad (1912-1994), mantan wakil Ketua PP. Muhammadiyah, yang merupakan salah seorang anak laki-laki dari tokoh yang sedang kita bicarakan ini.

Penelusuran Fikrul melalui keturunan tokoh ini menemukan bahwa Haji Ahmad bin Abdul Murid lahir di Sumaniak tahun 1883. Konon beliau keturunan dari Haji Sumaniak, salah seorang pencetus Gerakan Paderi. Tidak banyak yang diketahui mengenai kisah hidupnya, selain bahwa aktifitas politiknya berada di bawah bendera Sarikat Islam (SI). Seperti telah sama kita ketahui semula SI dan PKI, yang sama-sama tumbuh di Jawa, saling bergandengan sejak 1920, tapi segera kemudian bersibak karena perbedaan haluan politik. Dalam kongres SI bulan Oktober 1921 di Surabaya, PKI resmi berpisah dari Sarikat Islam. Penggembosan dari dalam terus dilakukan PKI terhadap SI melalui apa yang disebut SI Merah atau Sarekat Rajat yang muncul tahun 1921. Tokoh-tokoh utama SI seperti Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis terus digoyang. Muis yang sempat mengunjungi tanah kelahirannya, Minangkabau, akhirnya terpental dari SI. Pengaruh pertelingkahan antara SI dan PKI (yang didukung oleh SI Merah/Sarekat Rajat) merembes pula ke Sumatra Barat. Hal itu tampak sekali di kota Padang Panjang, khususnya di antara para pengajar di Soematra Thawalib. Tiba-tiba PKI menjadi trend di sana setelah dua guru sekolah itu, Datuk Batuah dan Natar Zainuddin ditangkap Belanda pada 11 November 1923. Dalam pertemuan yang diorganisir oleh Sarekat Rajat di Padang Panjang tahun 1924, terlihat pengikut PKI makin bertambah di kota itu.

Selain Sulaiman Labai, ketua Sarikat Islam Silungkang, tidak banyak tokoh Sarikat Islam Sumatra Barat yang lain disebut-sebut dalam gerakan Komunis 1926-1927 di daerah ini (lihat: Harry J. Benda and Ruth T. McVey, The Communist Uprisings of 1926-1927 in Indonesia: Key Documents, Ithaca: Cornell University, 1960; Audrey T. Kahin, Communist Uprising in Sumatra: A Reapraisal, Indonesia 62, 1996:19-36). Oleh karena itu kuat dugaan bahwa Haji Ahmad bin Abdul Murid mungkin tetap berada di pihak SI Putih di Sumaniak. Sejak 1924 SI Putih makin terdesak di Sumatra Barat seiring dengan meningkatnya aktifitas Sjarikat Rajat Sumatra Barat yang berafiliasi dengan PKI, yang kemudian berlanjut dengan berbagai teror di nagari-nagari yang dilakukan oleh berbagai double organizationsimpatisan PKI seperti Sarikat Djin, Sarikat Itam, dan Sarikat Maling (Hitam), serta demo-demo yang dilakukan oleh beragam organisasi simpatisan partai itu, seperti Barisan Merah, Sarikat Tani, Sarikat Djongos, dan Kaoem Iboe (yang terakhir ini dipimpin propagandis komunis Upik Hitam yang ditangkap di Batusangkar sekitar akhir Desember 1926). Fikrul dalam tesisnya mengatakan bahwa Haji Ahmad bin Abdul Murid, yang beristrikan Siti Aisyah, wafat tahun 1928. Saat itu pemberontakan PKI di Sumatra Barat baru selesai diberangus Belanda. Beliau meninggal dalam usia yang cukup muda (45 thn). Apakah kematian beliau di usia yang cukup muda itu terkait dengan huru-hara PKI pada masa itu? Wallahualam!

Fikrul menulis di laman fb-nya bahwa penampilan Haji Ahmad bin Abdul Murid dalam foto ini, yang dibuat sekitar 1925 di tempat yang cukup unik (sulit menentukan apakah ini satu studio foto), tampil cukup modern. Saat itu ia masih menjabat sebagai ketua ISI Cabang Tanah Datar. Ia memakai kemeja lengan panjang, dasi kupu-kupu dan sepatu hitam, lengkap dengan kaos kaki, refleksi penerimaannya terhadap budaya Barat, serta sorban dan sarung, refleksi budaya lokal dan Islam. Penampilannya benar-benar merefleksikan perdebatan seputar pakaian di Minangkabau pada masa itu (lihat: Nico Kaptein, Southeast Asian debates and Middle Eastern inspiration: European dress in Minangkabau at the beginning of the 20th century, dalam: Eric Tagliacozzo (ed.), Southeast Asia and the Middle East: Islam, movement, and the longue dure. Singapore: NUS Press/Stanfrod: Stanford University Press, 2009, pp. 176-95).

Minangkabau dari dulu memang sudah menjadi tumpahan Islam, modernitas Barat, dan berbagai ragam ideologi. Inilah sebuah etnis yang tak pernah henti bergolak, fisik dan pemikiran.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Rasidah Malik Ahmad 74 thn., cucu Haji Ahmad bin Abdul Murid, Ciputat Tanggerang). | Singgalang, Minggu, 16 Desember 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: