Posted by: niadilova | 10/12/2012

Minang Saisuak #114 – Sebuah Pesta Rakyat di Ombilin

1077d02a8fb20ab3e8e4e5d878f0404c_minang-saisuak-sebuah-pesta-rakyat-di-ombilin

Pesta rakyat adalah tradisi yang eksis dan dapat dijumpai dalam berbagai kelompok masyarakat di dunia. Jika ditinjau secara filosofis, pesta rakyat sebenarnya adalah satu klep yang digunakan oleh kelas penguasa untuk mereduksi kritisisme kawula sekaligus untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Rakyat dihibur dengan aneka mainan dan simbil-simbol kebesaran penguasa diperlihatkan lewat pawai-pawai. Rakyat dilenakan dengan pesta-pesta.

Di Indonesia tradisi pesta rakyat berbeda-beda antara satu etnik dan etnik lainnya. Demikianlah umpamanya, ada pesta rakyat yang disebut alek nagari di Minangkabau. Selain itu, juga ada pesta rakyat yang dulu diperkenalkan oleh pemerintah kolonial yang biasa disebut pasar malam. Konseppasar malam sebenarnya lebih mirip dengan pesta kermis di Belanda. Ada banyak permainan yang ditampilkan dan juga ada berjenis-jenis makanan rakyat yang dijual.

Rubrik Minang Saisuak kali ini menampilkan sebuah foto klasik yang mengabadikan satu pesta rakyat di Sawah Lunto. Judul foto ini adalah Volksfeest voor het kantoor van de Ombilin steenkoolmijnen in Sawahloento (Pesta rakyat untuk kantor Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto). Tampaknya, ini adalah rekaman visual peresmian kantor pusat administrasi Tambang Batu Bara Ombilin yang gedungnya terlihat dalam foto ini. Foto yang berukuran 8,6 x 13,8 cm. ini dibuat sekitar 1915-1925. Tidak disebutkann siapa mat kodaknya.

Dalam foto ini kelihatan orang banyak sedang menonton. Tapi kurang jelas tontonan apa yang sedang mereka saksikan. Terlihat juga beberapa pejabat orang Belanda (kulit putih) di latar depan. Pakaian dan posisi mereka dalam pertemuan-pertemuan di ruang publik merefleksikan segregasi kelas sosial antara penguasa dan kawula di zaman itu. Di zaman kemerdekaan ini arwah kolonial seperti itu mestinya sudah hapus, tapi kenyataannya banyak elit penguasa malah berperilaku lebih congkak dari penguasa kulit putih di zaman kolonial dulu.

Suryadi Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum, Amsterdam) | Singgalang, Minggu, 9 Desember 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: