Posted by: niadilova | 03/12/2012

OTOBIOGRAFI HASAN BASRI DURIN: “MITOS” DAN REALITAS SEORANG PAMONG

1ea7bd7a5a14a938bf165ca324ade0c6_resensi-buku-otobiografi-hasan-basri-durinJudul buku : Hasan Basri Durin; sebuah otobiografi

Editor : Hasril Chaniago & Eko Yanche Edrie

Penerbit : Citra Budaya Indonesia, Padang, 2011

Tebal : xvii + 510 hlm.

ISBN : 978-979-3458-25-0

Peresensi : Suryadi (Leiden University Institute for Area Studies, Leiden, Belanda)

Sejak Zaman Reformasi bergulir bagai bola liar, politik Sumatra Barat, sebagaimana halnya yang terjadi di propinsi-propinsi Indonesia lainnya, juga di tingkat nasional, terus berjalan, dan lebih sering huyung seperti orang mabuk. Para politikus baru datang, dengan gaya dan merek mobile (e-phone) yang berbeda, juga dengan program-program baru. Mereka yang sudah mundur dari dunia yang selalu ramai dengan sikut-sikutan itu begitu cepat terlupakan. Tapi hal itu mungkin tidak sepenuhnya berlaku bagi para mantan politikus yang tahu akan kekuatan tulisan. Salah satunya adalah Hasan Basri Durin.

Buku yang kita bicarakan ini adalah otobiografi Hasan Basri Durin, mantan gubernur Sumatra Barat keempat (1987-1997). Buku ini mencatat dengan lengkap perjalanan karier politik anak nagari Jaho (sekarang masuk wilayah Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar) kelahiran 15 Januari 1935 itu.

Hasan Basri Durin mengatakan bahwa ibunya yang bernama Darama (yang beliau panggil Amai) sangat berperan dalam kehidupan masa kecilnya. Ayahnya, Mahmud Durin Datuk Majo Indo, yang beristri dua, adalah seorang guru di Perguruan Tarbiyah Islamiyah yang didirikan oleh Syekh Djamil Djaho.

Sebagaimana halnya banyak anak lelaki Minangkabau, Hasan Basri Durin menjalani masa kecil di kampungnya. Ia masuk Sekolah Desa di Jaho, kemudian akhir tahun 1947 meneruskan pendidikannya ke SMP di Padang Panjang. Setamat SMP, ia ingin masuk SGA (Sekolah Guru Atas), juga di Padang Panjang. Namun, cita-cita itu tidak kesampaian karena ia gagal dalam tes kesehatan pertama. Kemudian Hasan Basri Durin memilih masuk SMA di Bukittinggi dan tamat tahun 1954.

Sebagaimana umumnya anak muda Minangkabau, rantau, dimana kecambah tuah akan ditanam atau, sebaliknya, karam di darat akan dialami, sudah memanggil-manggil Hasan Basri Durin setamat SMA. Pada Desember 1954, dengan kapal Van der Lijn ia meninggalkan Teluk Bayur menuju Jakarta untuk mengikuti tes pegawai Departemen Luar Negeri, menghapus ambisinya untuk masuk Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Batusangkar. Namun, ia gagal dalam tes itu. Kegagalan itu terobati dengan datangnya surat undangan kepada orang tuanya di Padang Panjang bahwa ia mendapat kesempatan untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan beasiswa ikatan dinas dari Departemen Dalam Negeri. Dari Jakarta, Hasan Basri Durin melanjutkan perantauannya ke Yogyakarta.

Tahun 1958 Hasan Basri Durin meraih gelar Sarjana Muda di UGM. Kemudian ia segera ditugaskan oleh Depdagri di Jambi sebagai Sekretaris Panitia Pemilihan Daerah. Setelah dua tahun bertugas di Jambi, ia melanjutkan pendidikan tingkat doktoral di UGM. Ketika itulah, sekitar awal 1960, Hasan Basri Durin berjumpa dengan Zuraida Manan, gadis sekampungnya yang telah dikenalnya sejak SMA, yang kemudian menjadi istrinya. Akhir 1960, Hasan Basri Durin menyelesaikan studi doktoralnya di UGM, kemudian ia segera ditugaskan kembali di Jambi, menjadi Sekretaris Wali Kota Jambi. Untuk memperdalam pengetahuan di bidang pemerintahan, Hasan Basri Durin dikirim ke Wayne State University, Michigan, Amerika Serikat, tahun 1962-1963. Pulang dari Amerika, ia dipercaya menjadi Penjabat Wali Kota Jambi (1966-1967), saat usianya waktu itu baru mencapai 31 tahun.

Namun, intrik-intrik politik di Jambi mengakibatkan Hasan Basri Durin harus meninggalkan daerah itu. Akhirnya ia pulang kampung setelah ditolak pula di Bengkulu. Namun hal itu seperti membuka jalan karir yang cemerlang baginya di Departemen Dalam Negeri. Tahun 1970, ia menjabat Sekretaris Panitia Pemilihan Daerah Sumatra Barat. Tahun berikutnya, ia diangkat menjadi Penjabat Wali Kota Padang, yang kemudian menghantarkan dirinya menjadi Wali Kota Padang tahun 1973 hingga tahun 1983. Empat tahun berikutnya ia menjabat Pembantu Gubernur Sumatra Barat Wilayah II, sebelum kemudian terpilih menjadi Gubernur Sumatra Barat selama dua periode (1987-1997), menggantikan Ir. Azwar Anas.

Setelah turun dari jabatan Gubernur Sumatra Barat, Hasan Basri Durin terpilih menjadi Ketua Fraksi Utusan Daerah MPR-RI (1997). Setelah itu ia menjabat Menteri Agraria Kabinet Reformasi (Mei 1998) yang dipimpin Presiden B.J. Habibie. Pada saat itu politik Indonesia sedang berada di awal pusaran badai reformasi yang kemudian memaksa Suharto lengser dari kursi presiden RI dan akhirnya menumbangkan Rezim Orde Baru. B.J. Habibie yang menggantikan Suharto tidak berhasil mengendalikan kapal politik Indonesia yang sedang oleng itu. Sedikit banyaknya hal itu berimbas kepada Hasan Basri Durin, seperti fitnahan-fitnahan korupsi terhadap dirinya semasa menjabat Gubernur Sumatra Barat yang antara lain berakibat pada terjadinya insiden penyanderaan terhadap dirinya dalam bis ketika mengunjungi Kampus IKIP Padang, Air Tawar, bulan Agustus 1998 (hlm. 449-552).

Tanggal 23 Oktober 1999 Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menggantikan B.J. Habibie melantik kabinetnya. Hanya dua orang dari kabinet sebelumnya yang terpilih lagi: Wiranto (Menko Polkam) dan Juwono Sudarsono (Menhan). Gus Dur menghapus Kementerian Agraria. Bersamaan dengan itu karier politik Hasan Basri Durin, yang telah dijalaninya selama 43 tahun, berakhir.

Otobiografi ini, yang terdiri dari 20 bab, ditambah dengan catatan akhir dan daftar pustaka, mencatat pula peran Hasan Basri Durin dalam memajukan dunia pendidikan tinggi di Sumatra Barat. Dua hal penting yang dicatat dalam otobiografi ini adalah pembangunan kampus baru Universitas Andalas (dimulai sejak 1983 dan diresmikan pemakaiannya oleh Presiden Suharto pada pertengahan 1995) dan pendirian Yayasan Universitas Bung Hatta (1981) di mana ia tetap terlibat dalam kepengurusannya setelah lengser dari dunia politik. Selain itu, otobiografi ini mencatat pula dengan lengkap ranji keluarga Hasan Basri Durin: ke atas maupun ke bawah.

Lewat otobiografi ini, sampai batas tertentu kita dapat mengetahui bagaimana Rezim Orde Baru (1966-1998) mengorganisir dirinya. Otobiografi ini melengkapi Catatan Seorang Pamong (Penyunting: Abrar Yusra & Hasril Chaniago. Jakarta: Yayasan Obor 1997), memoar Hasan Basri Durin yang berisi catatan pengalamannya sebagai seorang penjabat pemerintah. Dalam narasi setiap bab otobiografi ini terefleksi kekuatan seorang malaikat penuh kuasa yang berumah di Jakarta. Tangan-tangannya yang bercabang ribuan menggenggam kuasa sampai ke tingkat desa, tak terkecuali di Sumatra Barat. Apa yang dikatakan Prof. Dr. Taufik Abdullah, MA. sejarawan Indonesia terkemuka, teman Hasan Basri Durin ketika di SMA Bukittinggi, yang menulis esai pengantar untuk otobiografi ini mungkin benar, bahwa lewat narasi otobiografi Hasan Basri Durin ini dinamika sesungguhnya dari [Rezim] Orde Baru lebih bisa dipahami dan dari pengangkatan dan pengalaman jabatannya pula wajah Orde Baru sebagai sebuah rezim lebih jelas kelihatan. (hlm. 11).

Otobiografi memang sebuah mitos pribadi, sebuah narasi yang mengadung unsur literer juga, tapi tak mungkin vakum dari unsur-unsur sosial politik di saat dan di mana sang pribadi itu hidup. Dengan demikian, sebuah otobiografi pada hakekatnya juga merupakan sebuah dokumen sosial. Jika lewat otobiografi Hasan Basri Durin kita, sampai batas tertentu, mendapat kesan tentang sistem dan dinamika sosial politik Sumatra Barat di Zaman Orde Baru, otobiografi Gubernur-Gubernur Sumatra Barat Zaman Reformasi mungkin akan dapat menjadi bahan perbandingan untuk mengetahui sistem dan dinamika politik Indonesia di tingkat daerah pasca 1998. Akankah Gubernur-Gubernur Sumatera Barat Zaman Reformasi menulis pula otobiografinya? Mari sama-sama kita nantikan.

* Resensi ini dimuat di harian Singgalang, Minggu, 2 Desember 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: