Posted by: niadilova | 03/12/2012

Minang Saisuak #113 – Sebuah Vila di Padang Panjang

651dd8d4d2fca50e750cf06294ceed9c_minang-saisuak-sebuah-vila-di-padang-panjang

Kota Padang Panjang (ada yang menulis Padangpanjang) rupanya sudah lama menjadi kota wisata. Sejak zaman kolonial kota ini sudah menjadi tempat tetirah bagi orang-orang berduit untuk menghirup hawa segar sambil melepas kepenatan akibat rutinitas kerja sehari-hari. Udara kota Padang Panjang yang sejuk sangat cocok untuk itu. Letaknya yang tidak begitu jauh dari kota Padang juga menjadikan kota ini sebagai alternatif untuk berwisata bagi warga kelas atas yang tinggal ibu kota Sumatra’s Westkust itu.

Padang Panjang dengan alamnya yang indah dan hawanya yang sejuk segar sangat potensial dijadikan kota wisata. Lereng-lereng perbukitannya yang menawan dan hijau menyejukkan mata memandanganya. Kalau kita punya kemauan, Padang Panjang bisa dijadikan sebagai kota untuk konferensi-konferensi dan pertemuan-pertemuan regional, bahkan internasional. Kota ini bisa menjadi daerah peristirahatan bergengsi. Tapi itu jelas pemerlukan pemikiran yang berorientasi jauh ke depan.

Kali ini rubrik Minang Saisuak menurunkan satu foto yang mengabadikan sebuah vila mewah yang bertaman luas di Padang Panjang pada akhir abad ke-19. Foto ini dibuat oleh perusahaan fotografiWoorbury & Page yang sangat terkenal di Hindia Belanda di zamannya. Foto yang berukuran 18,7 x 23,7 cm. ini dibuat sekitar 1875. Waktu itu akses jalan dari pantai barat ke pedalaman Minangkabau lewat Padang Panjang sudah makin baik menyusul rencana besar pemerintah kolonial Belanda membuat jalur kereta api yang menghubungkan darek dan Padang yang tujuan utamanya untuk mengangkut produksi batubara dari Ombilin.

Kurang jelas apakah masih ada sisa bangunan vila mewah ini sekarang. Yang pasti, kalau masih ada bangunan-bangunan kuno di Padang Panjang, sebaiknya dilestarikan dan dijadikan ciri khas kota itu. Kota yang menyimpan sejarahnya pasti jauh lebih menarik dari kota-kota yang hanya menyajikan euforia modernisme yang tidak berkeruncingan.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 2 Desember 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: