Posted by: niadilova | 26/11/2012

Minang Saisuak #112 – Terminal Bus Lintas Andalas 1970-an

00479f44d52a69acfeb8dfa0a22ccbbf_minang-saisuak-terminal-bus-lintas-andalas-1970-an

Kapan kita di Padang punya terminal lagi…[?], demikian Eko Alvares Z. memulai thread-nya di lamanfacebook-nya yang memuat foto ini; [D]isinilah kami bermain masa kecil dulu [], komentar pengunjung Nita Indrawati Ibrahim; Jadi ingat masa kecil dulu, tinggal di ruko Jalan M. Yamin, mainnya, ya, sampai terminal ini, kenang pengunjung Syahjohn Toton. Apakah kuburan Belanda itu dibongkar sebelum dijadikan terminal? Orang mati harus dihormati, sambung pengunjung Abdur-Razzaq Lubis. Waktu itu masih ada bus Cemerlang, Sibualbuali, [Ubani, H.Z.N.], dan Bintang Kejora.Klaksonnya bisa main musik, kata pengunjung Febri Anes; [M]elihat bus-bus yang ada, saya jadi ingat, pernah naik bus Gagak Hitam. Kalau buka jendela[nya] digulung ke atas, sambung Jofianto Bledoeg; [S]ekarang [Padang adalah] satu-satunya kota propinsi yang tidak punya terminal bus, komentar pengunjung John Harnelis. Masa sih Padang bisa diacak-acak sama mall? […], komentar pengunjung Moeliono Tea.

Komentar-komentar di atas, yang dikutip (dan diedit) dari laman facebook Eko Alvares Z., sepertinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Henk Maier dalam artikelnya, Maelstrom and Electricity: Modernity in the Indies (1997), bahwa every picture tells a story (setiap gambar mengisahkan sebuah cerita. [E]very picture can be made to tell a story and some pictures can be made to tell a more extensive story than others, a wider variety of story than others (setiap gambar dapat dibuat untuk menceritakan sebuah cerita dan beberapa gambar dapat dibuat untuk menceritkan sebuah cerita yang lebih ekstensif dari yang lainnya, lebih luas variasinya dari yang lainnya), kata Maier lagi.

Gambar yang kami sajikan dalam rubrik Minang Saisuak kali ini memang menyimpan sebuah cerita, penggalan kisah tentang kota Padang. Inilah gambar terminal bus Lintas Andalas, sebuah lambang kota Padang yang pernah menyatu dengan ingatan kolektif warganya. Mungkin terminal ini telah menyimpan banyak kisah sedih dan gembira: lambaian perpisahan dari yang akan berangkat ke tanah rantau dan sambutan gembira bagi yang kembali ke Ranah Bundo.

Eko Alvares Z. mengatakan bahwa foto ini dibuat sekitar tahun 1970-an. Ia tidak menyebutkan sumbernya. Sangat mungkin pula ini adalah sebuah postcard yang sederhana, walau di bagian depan tidak terlihat tanda-tanda sebuah kartu pos. Teknologi komunikasi facebook kini telah membuat manusia lebih leluasa menyelam ke masa lalu: foto-foto lama (dan baru) bermunculan di dunia maya, teman-teman masa SMA, bahkan waktu SD, ketika ingus masih meleler di ujung bibir, ditemukan lagi. Berbagai reuni untuk itu diadakan, tak peduli berapa jauh jarak, berapa lama waktu, dan berapa jumlah uang yang diperlukan untuk itu.

Foto ini, dengan latar langit hijau dan gabak di hulu yang mengandung hujan, jelas mengembalikan ingatan kita pada keindahan kota Padang di suatu masa di zaman dulu. Keindahan tetap abadi dalam kenangan, dan kebobrokan-kebobrokan hari ini akan mempertebal kenangan-kenangan kepada keindahan masa lalu itu. Kini terminal Lintas Andalas sudah berubah wujud menjadi mall lambangxenocentrims dan ketololan.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: fb Eko Alvares Z.) | Singgalang, Minggu, 25 November 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: