Posted by: niadilova | 19/11/2012

Minang Saisuak #111 – Apakah ini Sketsa wajah Sultan Abdul Jalil Salahudin Muningsyah?

4920e035fec31b9a4c05157b28019f62_minang-saisuak-apakah-ini-sketsa-wajah-sultan-abdul-jalil-salahudin-muningsyah

Sketsa ini pertama kali dimunculkan oleh Ricky Syahrul di laman fb-group Kerajaan-kerajaan di Minangkabau. Sketsa ini (c. 14,5×10,4 cm.), yang sekarang tersimpan di Tropenmuseum Amsterdam, dibuat oleh Ridder Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers pada tahun 1826. De Stuers (1788-1861) adalah Residen Sumatra’s Westkust (1824-1829), salah seorang petinggi kolonial Belanda yang ikut terlibat dalam Perang Paderi (1803-1837). Pengalamannya selama bertugas di Minangkabau dituangkannya dalam dua jilid bukunya yang berjudul De vestiging en uitbreiding der Nederlanders ter Westkust van Sumatra (Amsterdam: P.N. Kampen, 1849, 1850). Di dalam buku itulah (Jilid 2, 1850) sketsa Tuanku Imam Bonjol yang pertama ditemukan, yang berjubah putih, bersorban, berjanggut, dan memegang tasbih, yang kemudian dikenal luas sampai sekarang.

Demikian pula halnya sketsa yang menarik yang kami turunkan dalam rubrik “Minang Saisuak” kali ini. Sangat mungkin bahwa, sebagaimana halnya sketsa Tuanku Imam Bonjol, sketsa ini dibuat sendiri oleh De Stuers. Rupanya pejabat militer Belanda yang satu ini senang melukis. Dalam sketsa ini terlihat ‘orang saleh dari sumatra’ (vrome mannen (sic) uit Sumatra) ini juga memegang tasbih, tanda kesalehannya. Di bagian atas sketsa ini tertulis: “Orang Siak, padries van Lintou, 1826″ (Orang Siak, pengikut Paderi dari Lintau, [sketsa ini dibuat tahun] 1826). Di tengah, bagian kiri, ada lagi tulisan: “Sulthan Boea, Shalahadin” (Sultan Buo Salahudin). Keterangan inilah yang memicu timbulnya beberapa interpretasi tentang siapa sebenarnya sosok yang divisualkan dalam sketsa ini.

Kedua wajah dalam sketsa ini jelas orang yang sama. De Stuers tampaknya ingin melukis tampak depan dan tampak samping wajah tokoh ini. Ricky Syahrul dan Sutan Ismail dalam thread yang memuat foto ini di fb-group yang disebutkan di atas berspekulasi bahwa gambar ini adalah sketsa wajah Yang Dipertuan (YDP) Nan Bakumih Daulat Yang Dipertuan Sultan Abdul Jalil Salahudin Muningsyah, Raja Adat di Buo. Baginda adalah ayah YDP Bawang Sultan Alam Muningsyah, yaitu ayah YDP Garang Sultan Sembahyang, dan paman Sultan Alam Bagagarsyah. E. Francis yang menjadi Residen Sumatra’s Westkust (1834-1837) mencatat dalam bukunya Herinneringen uit den levensloop van een Indisch ambtenaar van 1815 tot 1851 (Batavia: H.M. van Doorp, 1859) bahwa YDP Nan Bakumih mendapat pengaruh kaum Paderi dan menjadi pengikut Tuanku Lintau. Jadi, tampaknya setelah ajaran Paderi menyebar di darek, dalam kalangan bangsawan Pagaruyung sendiri muncul perpecahan karena ada anggota keluarga kerajaan yang “menyeberang” ke pihak Paderi seperti YDP Nan Bakumih ini. Tampaknya pembakaran Istana Pagaruyung tahun 1815 menyusul pembunuhan terhadap keluarga raja adalah salah satu klimaks dari perpecahan itu. Bukti-bukti historis menunjukkan bahwa revolusi pengislaman Minangkabau yang memakan waktu hampir 4 dekade memang cukup rumit dan berdarah-darah.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 18 November 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: