Posted by: niadilova | 29/10/2012

Minang Saisuak #108 – Seorang “Murtadin” Besar Minangkabau

0498b8d5268359a368f01c2b4bbf6f99_minang-saisuak-seorang-e28098murtadine28099-besar-minangkabau

Rubrik “Minang Saisuak” kali ini menurunkan foto dan hikayat yang barangkali kedengaran agak ganjil di telinga orang Minangkabau, tapi mungkin bisa digunakan untuk bakaco bacamin diri, yaitu mengenai seorang pendeta asal Minangkabau yang semasa hidupnya pernah aktif menjadi penganjur Kristenisasi di Ranah Bundo-nya sendiri. Namanya Abdul Wadud Karim Amrullah (AWKA).

AWKA lahir di Kampung Kubu, Sungai Batang, di tepian Danau Maninjau, tgl. 7 Juni 1927 dari pasanganDr. Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul alias Inyiak Dotor (bersuku Jambak) dengan istri keduanya, Siti Hindun (bersuku Melayu). AWKA dalam otobiografinya (lihat penjelasan di bawah) mengaku bahwa ayahnya tidak pernah menceraikan ibunya. AWKA adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara seayah. Salah seorang kakaknya seayah adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), ulama Minangkabau yang terkenal di tingkat nasional dan internasional dan penulis prolifik yang telah menulis ratusan buku, artikel, dan jenis-jenis tulisan lainnya.

Seperti anak-anak Minangkabau lainnya, AWKA (yang waktu kecil dipanggil Awe) menghabiskan masa kecilnya di Maninjau. Ia ikut mengaji bersama anak-anak lain di surau di kampungnya dan ia juga memasuki sekolah agama di Padangpanjang yang dikelola oleh murid-murid ayahnya. AWKA meninggalkan kampung halamannya tanggal 8 Agustus 1941. Ia ikut dengan ayahnya ke pembuangan Belanda di Sukabumi. Di zaman pendudukan Jepang ia bersama ayah dan ibu tirinya pindah ke Jakarta. Di kota itu AWKA bersekolah dan ikut berjuang bersama pemuda-pemuda lainnya di zaman pendudukan Jepang dan zaman polisionil, sampai kemudian memutuskan untuk pergi bertualang ke luar negeri. Pada bulan Februari 1949 ia naik kapal ke Rotterdam, dan tahun 1950 ia meneruskan perjalanan ke Amerika Serikat.

Kisah hidup AWKA dapat dibaca dalam otobiografinya yang belum lama ini terbit (lihat catatan di bawah). Yang penting dicatat di sini adalah persitiwa-peristiwa yang membuat dia batuka kabilaik.

Di AS, AWKA menetap di Los Angeles, California. Tahun 1962 ia mendirikan IMI (Ikatan Masyarakat Indonesia) di kota itu. Tgl. 6 Juni 1970 ia menikah dengan Vera Ellen George, seorang gadis Indo. Tahun 1977 ia kembali ke Indonesia dan bekerja di agen pariwisata Pacto cabang Denpasar milik Hasyim Ning. Di sanalah ia bermula menghadapi goncangan keagamaan: di Denpasar ia dan istrinya sering merasa diganggu oleh kekuatan-kekuatan magis yang menurutnya ditujukan oleh orang-orang yang tidak senang melihat keberhasilan mereka. AWKA dan istrinya juga percaya bahwa dalam budaya Bali praktek-praktek mencelakakan orang dengan ilmu hitam biasa dilakukan orang. Istri AWKA, yang semula telah memeluk Islam, kembali menjadi seorang Kristen. Karena sayang istri, AWKA pun menukar kabilaik-nya. AWKA dibaptis sebagai “anak Yesus” di Jakarta tgl. 6 Februari 1983. Tahun 1988 ia ditasbihkan sebagai pendeta di Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII) di Los Angeles. Sejak itu AWKA (lebih dikenal dengan nama Willy Amrull) sangat aktif mengkhotbahkan “ajaran Yesus”, termasuk ke kampung halamannya sendiri: Minangkabau. (Ampun Waden!). Ia merekrut anak-anak muda Minang, khususnya dari golongan ekonomi lemah, untuk dialihimankan menjadi orang Kristen. Mungkin ada yang masih ingat kasus Wawah (1998) yang sempat menghebohkan Sumatra Barat. AWKA juga tersangkut dalam kasus itu (lihat otobiografinya hlm. 193-226).

AWKA meninggal tgl. 25 Maret 2012 di Los Angeles. Ia menamatkan hidupnya sebagai seorang Kristen. Sebagai seorang anak Minangkabau, saya mungkin tidak tertarik menziarahi kuburannya, tapi sangat ingin tahu surau tempat ia pertama kali mengeja Juz Amma. Harapan saya, semoga tak ada lagi putra Maninjau yang terkena “kutukan” Bujang Sambilan, di rantau maupun di kampung.

Suryadi – Leiden, Belanda. | Singgalang, Minggu, 28 Oktober 2012

Sumber foto: Abdul Wadud Karim Amrullah, Dari Subuh hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan Kebenaran (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2011:viii).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: