Posted by: niadilova | 22/10/2012

Minang Saisuak #107 – Harimau Buruan di Supayang

abb5ab7619a5f7a4343ed35820196c2f_minang-saisuak-harimau-buruan-di-supayang

Perburuan binatang liar di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman kolonial. Salah satu ‘”olah raga”™ para para pejabat kolonial di masa lampau adalah berburu binatang liar. Mereka pergi ke hutan di akhir pekar, diikuti oleh cecunguk-cecunguk pribumi mereka, untuk menembak banteng, harimau, gajah, rusa, dan binaytang liar lainnya.

Peter Boomgaard dalam artikelnya “œTijgerstekerijen en tijgers-buffelgevechten op Java, 1620-1906″,Indische Letteren 21,1 (2006): 45-55 menulis bahwa di Jawa dikenal sejenis hiburan sadis dengan membunuh binatang liar yang disebut “˜rampok macan”™, yaitu tradisi berburu harimau dan tradisi mengadu harimau dengan kerbau. Oleh sebab itu, tak heran jika sekarang harimau Jawa boleh dibilang sudah punah.

Foto Minang Saisuak kali ini menampilkan seekor harimau yang mati yang dikelilingi oleh banyak orang. Foto ini (21,5 x 28 cm.) dibuat di Supayang sekitar 1895. Mat kodaknya tidak dikenal. Daerahdarek yang merupakan bagian dari punggung Bukit Barisan yang berhutan lebat memang banyak dihuni harimau. Tampaknya harimau ini tumbang setelah diburu oleh kelompok orang yang terekam dalam foto ini, sebab terlihat salah seorang di antaranya (berbaju putih di sebelah kanan) menyandang bedil.

Di Sumatra sebenarnya harimau cukup dilindungi dan ditakuti oleh penduduk lokal. Harimau sering “˜dihormati”™ karena dikaitkan dengan nenek moyang dan hal-hal yang bersifat magis, sebagaimana dicatat oleh L.C. Westenenk, bekas Asisten Residen Agam Tua, dalam bukunya Waar mens en tijgers buren zijn (Di mana manusia dan harimau bertetangga) (Den Haag: Leopold, 1927). Pandangan orang Sumatra tentang harimau itu dapat pula dikesan dalam novel Mochtar Lubis Harimau! Harimau!(Jakarta: Pustaka Jaya, 1975). Namun, banyak pula orang memburunya dengan berbagai macam alasan dan tujuan. Sebaiknya kelestarian “˜inyiak“™ kita ini dijaga, agar jangan punah pula seperti yang sudah terlanjur terjadi di Pulau Jawa.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum, Amsterdam) | Singgalang, Minggu, 21 Oktober 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: