Posted by: niadilova | 24/09/2012

Minang Saisuak #104 – Tari piring di Sungai Pua

1eea2cf54fe0a6a80e076be50615edc4_minang-saisuak-tari-piring-di-sungai-pua

Kalau orang bicara tentang tarian tradisional Minangkabau, salah satu tarian yang mungkin langsung teringat oleh kita adalah tari piring. Sejauh yang saya ketahui, belum ada penelitian tentang asal-muasal tari piring ini. Yang ada baru deskripsi tentang struktur pertunjukannya dan metodologi pengajarannya, misalnya oleh Mid Jamal (1992), Trianti Nugraheni (2004) dan Deni Hermawan (2004). Barangkali perlu juga diteliti lebih dalam sejarahnya oleh civitas akademika ISI Padang Panjang atau UNP supaya dapat diketahui dari mana dan bagaimana asal muasal tari piring ini. Data tertulis dan visual tentangnya mungkin tak kurang lengkapnya, seperti antara lain diperlihatkan dalam foto klasik yang kita turunkan dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini.

Foto ini (18×24 cm.) mengabadikan sebuah pertunjukan tari piring di Sungai Pua pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Mat kodaknya tidak dikenal. Dalam catalog institusi yang menyimpan foto ini disebutkan bahwa tarian ini bernama “lampendans” (tari lampu). Barangkali nama ini didasarkan atas penggunaan lilin di piring yang dilenggang-lenggokkan.

Secara arbitrer saya memperkirakan tari piring ini mungkin asalnya dari acara pesta perkawinan atau keramaian lainnya yang melibatkan prosesi makan, misalnya dalam pesta panen dan lain-lain. Jadi, ketika muncul kegembiraan saat itu, seorang secara spontan mengambil piring yang kosong dan menari-nari dengan melenggang-lenggokkannya. Banyak kajian antropologi (tari) menunjukkan bahwa tarian-tarian tertentu dalam berbagai kelompok etnis terkait dengan ritus panen dan kesuburan tanah. Namun demikian, asumsi saya di atas tentu perlu dibuktikan lebih lanjut lewat kajian ilmiah.

Konteks foto di atas tampaknya satu prosesi penyambutan tamu-tamu terhormat. Lihatlah ekspresi para penonton yang memanjangkan leher melihat ke rah depan. Di latar belakang terlihat gabagabayang menunjukkan bahwa di tempat ini sedang ada pesta keramaian. Terlihat bahwa para penari dalam foto ini adalah kaum lelaki, tidak seperti sekarang di mana tari piring cenderung ditarikan oleh perempuan (yang kadang-kadang masih dikombinasikan dengan penari laki-laki). Dulu di Minangkabau alek kaum laki-laki dibedakan dengan alek kaum perempuan: tamu laki-laki dilayani oleh tuan rumah laki-laki dan tamu perempuan juga dilayani oleh tuan rumah perempuan. Kinizaman lah moderen, angin Baraik lah barambuih. Ka dipangakan lai.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum, Amsterdam). | Singgalang, Minggu, 23 September 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: