Posted by: niadilova | 17/09/2012

Minang Saisuak #103 – Pemandangan di Nagari Palembayan

ed98793889e81f4dbaae67ed9b7a54c2_minang-saisuak-pemandangan-di-nagari-palembayan

Tampaknya sangat mungkin untuk menyusun sejarah (visual) sebuah nagari sambil melihat perubahan-perubahan topografis nagari itu sebab cukup banyak tersedia foto-foto klasik yang mengabadikan pemandangan naga-nagari di Minangkabau, khususnya nagari-nagari yang menonjol pada masa lampau, seperti Koto Gadang, Taram, Pariangan, dan lain-lain. Waktu saya menulis bukuSyair Sunur (terbit 2004) saya menemukan cukup banyak data mengenai penduduk dan keadaan nagari yang bertetangga dengan Ulakan itu pada abad ke-19. Harsja W. Bachtiar juga telah menulis satu artikel yang berjudul: “Nagari Taram: A Minangkabau Village Community”, dalam: Koentjaranigrat (ed.), Villages in Indonesia (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1967: 348-385) (lihat juga rubbrik ‘Minang Saisuak’: “Nagari Taram di Payakumbuh”, Singgalang, 2 Oktober 2011).

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan sebuah foto klasik tentang nagari Palembayan di Luhak Agam. Kodak  ini (17,6×27,8 cm.) adalah hasil jepretan Christian Benjamin Nieuwenhuis dalam kisaran tahun 1892-1922. “Dorpgezicht, Palembajan” (Pemandangan desa Palembayan), demikian judul foto ini tertera di katalog Tropenmuseum Amsterdam tempat foto ini disimpan. Sangat mungkin foto ini adalah sebuah kartu pos (postcard) dari proyek wisata kolonial yang mempromosikan keindahan dan keunikan nagari-nagari Minangkabau pada abad ke-19. Adalah Asisten Residen Agam Tua, L.C. Westenenk, yang gencar mempromosikan keindahan alam pedalaman Minangkabau kepada pelancong Eropa, seperti dapat dikesan dalam buku turistiknya Eight days in Padang Bovenlanden(Delapan hari di Padang Darat) yang penuh ilustrasi (Batavia: Java Books, 1909).

Melihat foto ini tentu mengingatkan kita pada suasana tradisional di nagarinagari di Minangkabau zaman saisuak: lapau, sasaran silat, hamparan padi menghijau atau menguning dengan berkaum-kaum tempua dan pipit maraok ke atasnya, suara genta pedati, bunyi alu menghantam lubang lesung bertalu-talu, suara taguaktaguak di tengah malam, bunyi mendayu suara tukang rabab, resitasi al-Quran di surau-surau, rumah gadang dengan anjung bak alang ka tabang dengan gadis berambut legam bergerai mencigap di jendelanya, dan gotong royong membersihkan tali banda. Suasana itu sudah sulit dijumpai di masa kini. Nagarinagari sudah ‘terpolusi’ oleh aroma uang,sounds of modernity, dan hingar-bingar musik orgen tunggal dengan goyangan berputar-putar tak kerkendali biduan wanitanya bak gasiang yang kapia lanaik ketika dipangko-kan.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum, Amsterdam) | Singgalang, Minggu, 16 September 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: