Posted by: niadilova | 23/07/2012

Minang Saisuak #96 – Keluarga Besar Laras Sungai Puar: Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman

7b213ed5aeb2909ffc7765d3006a3a67_minang-saisuak-keluarga-besar-laras-sungai-puar

Dalam rubrik Minang Saisuak edisi Minggu, 6 Februari 2011, kami sudah menurunkan satu potret diri Tuanku Laras Sungai Puar, Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman (tertulis Datoe Toemanggoeng Soetan Soeliman dalam banyak dokumen Belanda). Kali ini kami turunkan satu foto yang mengabadikan beliau bersama keluarga besar mantrilinealnya. Foto ini (24×30 cm.) dibuat oleh mat kodak Th. F.A. Delprat di Sungai Puar tahun 1890. Judulnya: Portret van het districtshoofd van Soengei Poear, Soetan Suleiman, met zijn familie (Foto Kepala Laras Sungai Puar, Sutan Sulaiman, dan keluarganya).

Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman menjabat sebagai Kepala Laras Sungai Puar antara 1870-an sampai 1930-an. Beliau mempunyai rumah gadang yang terbesar dan termegah di Sungai puar. Rumah gadang miliknya, yang termasuk paling mewah untuk ukuran waktu itu, seringkali dikunjungi oleh tamu-tamu penting bangsa Belanda, seperti perencana pembangunan jalan kereta api Sawahlunto pantai timur Sumatra J.W. Ijzerman, antropolog Universitas van Amsterdam asal Jerman Alfred Maas, dan mantan misionaris Meint Joustra. Para pengunjung Eropa itu sempat memotret interior rumah gadang milik Satuak Tumangguang Sutan Sulaiman (lihat misalnya, buku Alfred Maas,Quer durch Sumatra: Reise-Erinnerungen. Berlin: Wilhem Ssserott, 1904; M. Joustra, Minangkabau: Overzicht van Land, Geschiedenis en Volk. Leiden: Louis H. Becherer, 1921). Foto-foto itu boleh dibilang cukup langka karena sebenarnya tidak banyak dokumen visual klasik yang memotret interior rumah gadang Minangkabau.

Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman adalah seorang Kepala Laras yang sangat bertanggung jawab dan memperhatikan kemaslahatan masyarakatnya. Ia mengimplementasikan kebijakan-kebijakan Belanda di Sungai Puar dengan selektif dan tidak mau didikte oleh Kompeni. Ia pernah menolak instruksi Belanda untuk memungut belasting kepada penduduk Sungai Puar sehingga ia dibuang ke Pulau Bangka. Barangkali sifat kritis Datuak Tumangguang itulah yang kemudian diwariskan kepada salah salah seorang anaknya, yaitu pahlawan nasional Abdul Muis dan penulis novel Salah Asuhanyang terkenal itu. Abdul Muis (lahir di Sungai Puar, 3 Juli 1883 meninggal di Bandung, 17 Juli 1959) terkenal sebagai sastrawan dan tokoh pergerakan nasional. Saudaranya, Sudirman, yang namanya diabadikan untuk kejuaraan bulutangkis Piala Sudirman, juga telah banyak berjasa untuk Republik Indonesia. Barangkali kedua orang itu ada di antara anak-anak yang terekam dalam potret keluarga ini. Diperkirakan Abdul Muis baru berusia 7 tahun ketika foto ini dibuat, dan saudaranya, Sudirman, berusia lebih muda lagi.

Rupanya Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman punya keluarga matrilineal yang besar. Dalam foto ini terekam tidak kurang dari 47 orang (tua, muda, dan anak-anak). Berdiri di tengah (pakai saluak, baju dalaman putih dan jas hitam) Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman, yang diapit oleh anak-kemenakannya. Bagi keluarga besar matrilineal Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman tentu telah tersua pepatah Bapak kayo mandeh baameh, mamak disambah urang pulo, sarik pintak indak kabuliah, sarik kandak indak kabalaku.

Suryadi Leiden, Belanda. (Sumber foto: KITLV Leiden), | Singgalang, Minggu, 22 Juli 2012

Advertisements

Responses

  1. Pak Suryadi saya sedang menulis Buku ttg Abdoel Moeis. BIsakah dicarikan foto atau keterangan tentang beliau di Perpustakaan Leiden Belanda? Salam. Tavinur Syamsudin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: