Posted by: niadilova | 26/03/2012

KPM #73 – AWAK SEBIDUK KARAM SEORANG

Menuliskan pantun mungkin boleh dikatakan menyurat pada dengung. Artinya, ia adalah usaha untuk menuliskan sesuatu yang bersifat lisan. Kita disajikan sejumlah ciri kelisanan yang jelas: rima akhir yang berpasangan, rentetan alirerasi, paralelisme, asonansi, dan sejumlah ciri kelisanan lainnya. Membaca bait-bait pantun yang disajikan dalam rubrik ‘Khazanah Pantun Minangkabau’ ini mengingatkan kita pada performance, bukan membaca seorang diri dalam kesunyian. Selamat menikmati sajian pantun-pantun Minangkabau di nomor ini (73).

563.

Minangkabau di ateh langik,

Ka puncak batang lanjudah,

Raja Bantan nan kamanjaik,

Tuan [Nan] Tongga nan manyudah.

564.

Ka puncak batang lanjudah,

Tabu banamo karek-karek,

Tabu ‘rang siang jo sirauik,

Tuan [Nan] Tongga nan manyudah

Baju dipacik ganggam arek,

Baju nak tabang ateh langik.

565.

Tabu ‘rang siang jo sirauik,

Dilatak di dalam padi,

Baju nak tabang ateh langik,

Baju si Puti Andam Dewi.

566.

Barakik baranang kumpang,

Bakayuah lalu ka subarang,

Alang sakiknyo ‘rang manompang,

Karam biduak baranang sorang.

567.

Putiah sadikik kaki labi,

Putiah takilek ka subarang,

Heran sadikik hati kami,

Awak sabiduak karam sorang.

568.

Asam jaruak di munggu tanah,

Karambojo di ateh padi,

Tidak biduak karam sabalah,

Karam sadonyo mangko jadi.

569.

Uang sakupang duo kupang,

Labiah pambali giriang-giriang,

Di lauik bao urang manumpang,

Di darek bao urang sairiang.

Bait 563 adalah sambungan nomor yang lalu (73): tentang tingginya nilai seni pakaian (di) Minangkabau. Bersama dua bait berikutnya (564 & 565) sudah agak jelas bahwa yang dimaksud adalah baju kiramaik milik Puti Andam Dewi, tunangan Anggun Nan Tongga Magek Jabang (lihat: Nigel Phillips, Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Cambridge: Cambridge University Press, 1981). Tetapi di sini tercampur motif cerita (kaba) lain: yaitu Kaba Malin Deman, yaitu kisah seorang pemuda bumi (Malin Deman) yang menawan seorang dari tujuh bidadari yang sedang mandi di sebuah telaga di tengah hutan dengan cara menyembunyikan bajunya yang bisa menerbangkannya ke kayangan. Di Jawa cerita ini dikenal dengan nama Jaka Tarub. Di daerah lain juga dikenal variasi cerita ini. Di Minangkabau cerita ini terkenal di banyak tempat, misalnya dalam tradisi Basimalin di daerah Payakumbuh dan sekitarnya (lihat: Suryadi, Naskah Tradisi Basimalin: Pengantar Teks dan Transliterasi. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1998).

Bait 566 menyampaikan suara si pecundang. Dalam bait ini digambarkan dengan kiasan yang sangat halus, yaitu dengan memakai simbol biduk (sampan), tentang cinta yang terdorong kepada seseorang tapi tak mendapat balasan yang setimpal dari orang itu – kasih yang cenderung bertepuk sebelah tangan. Mabuk kepayang sendiri, sementara si dia cuek saja. Itulah yang ingin disampaikan dalam kiasan pekat: ‘nasib seorang yang menumpang biduk orang lain, jika biduk itu karam dia sendiri yang terpaksa berenang ke tepi’.

Gambaran tentang cinta yang kuaik sabalah itu lebih dipertajam lagi dalam bait berikutnya (567): ‘Heran sedikit hati kami, kita sebiduk tapi yang karam adalah diri saya sendiri’. Maksudnya tiada lain adalah: kenapa diri saya sendiri yang hancur ketika terjadi krisis kasih sayang dengan si dia? Diriku sudah hampir hancur karenanya, tapi dirinya tampaknya tenang saja, malah perpisahan ini membuat dirinya bergembira. Berarti selama ini cintanya kepada saya mungkin hanya berpura-pura.

Kiasan pada bait 567 ini sangat elok, dan sering kita dengar dipakai pada syair beberapa lagu Minang standar. Perlu pula dicatat bahwa ‘biduk’ atau ‘perahu’ adalah salah satu simbol yang sering juga dipakai dalam syair-syair Sufi dalam sastra Melayu klasik (lihat: Vladimir I. Braginsky 2009). Tapi dalam konteks pantun yang lebih berotientasi profan, simbol ‘biduk’ lebih melambangkan cinta atau nasib. Simbol itu masih dipakai pada bait 568. Dalam bait ini diungkapkan secara implisit bahwa seharusnya kedua sejoli itu harus merasakan akibat yang sama dari perpisahan itu.

Bait terakhir (569) menyiratkan sifat yang baik: di manapun Anda berada tetaplah pakaikan sifat penolong dan sifat suka berteman. Jauhkan sifat individualis yang hanya mau memang sendiri dan mementingkan diri sendiri. Bait ini mengajarkan nilai-nilai kebersamaan (komunalitas) dalam masyarakat kita yang konon kini semakin menipis seiring dengan perubahan zaman. Dalam banyak wacana budaya tentang Minangkabau digambarkan bahwa orang Minangkabau makin kehilangan sifat gotong royong dan musyawarah mufakatnya. Dikatakan pula, sebagaimana diberitakan oleh media, bahwa orang Minangkabau sekarang mengalami krisis kebudayaan. Jika benar, tentu saatnya sekarang kita bercermin diri. Kalau salah di ujung jalan, sebaiknya kita segera kembali ke pangkal jalan.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 25 Maret 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: