Posted by: niadilova | 12/03/2012

KPM #71 – MERAPAK BUAH PAUH JANGGI

Erotisme pantun Minangkabau itu terasa tapi tidak mengesan. Minggu lalu sudah kami ketengahkan beberapa bait pantun dengan topik ‘buah pauh janggi’ sebagai salah satu simbol erotisme dalam pantun Minangkabau. Di nomor ini masih kami sajikan beberapa bait lagi pantun Minangkabau klasik dengan tema yang sama yang merupakan kelanjutan dari nomor yang lalu, sebab bait-bait ini ditemukan dalam naskah yang sama di Perpustakaan Universitas Leiden. Selamat menikmati.

548.

Urang Padang manulih pinggan,

Ditulih jo batang padi,

Kapatang kami dari sanan,

Tidak babuah pauah janggi.

549.

Karando atok dakek puan,

Dilatak di dalam padi,

Panduto bana garan Tuan,

Marapak buah pauah janggi.

550.

Dilatak di dalam padi,

Ayam kulabu rumbai putiah,

Kain kasumbo baju juo,

Den turiah jo batang padi,

Marapak buah pauah janggi,

Dalam kulambu tirai putiah,

Kami nak mintak lalu juo,

Asa lai kabulih pauah janggi.

551.

Bacakak nago samo nago,

Nago di barat di bantainyo,

Den turiah jo batang padi,

Walau bapetak bakarando,

Ado isyarat pangungkainyo,

Asa lai kabuliah pauah janggi.

552.

Ayam si jalak si jalibun,

Panjaik dalam kabek pinggang,

Den turiah jo batang padi,

Usah marantak jo baunjun,

Dalam gaib kami betenggang,

Nak buliah buah pauah janggi.

553.

Panjaik dalam kabek pinggang,

Putiahlah suto  kabungonyo,

Dalam gaib kami batenggang,

Kok buliah ado kagunonyo.

554.

Ambiaklah tindo kayu jati,

Bao ka lubuak di Nanggalo,

Dieto tangah tiga eto,

Tarikek jalan ka lubuak,

Lah buliah buah pauah janggi,

Patuik disasok ka disasok,

Kaubek ngilu di kapalo,

Kajimaik patang barisuk.

Bait-bait pantun yang tersaji di nomor ini mengandung suara yang bersahut-sahutan. Seperti telah dikatakan dalam rubrik ini minggu lalu (no.70), buah pauh janggi (Lodoicea Maldiva yang termasuk dalam famili Palmae dari suku Anarcadiaceae dan marga Mangifera) dipakai untuk melambangkan (buah dada) perempuan yang tentu saja bernuansa erotis. Seperti halnya di nomor lalu, dalam bait 548-554 makna denotatif dan konotatif buah pauh janggi (double coconut) dipermainkan sedemikian rupa sehingga menghadirkan polisemi, unsur penting yang menunjukkan karya sastra yang berkualitas tinggi.

Bait 548 dan 549 merupakan dua suara yang bersahutan: yang pertama berdusta bahwa di tempat yang baru dikunjungi tidak ditemukan gadis-gadis yang (berdada) rancak. Tapi dalam bait berikutnya ada suara sanggahan bahwa di tempat itu banyak sekali (marapak) dara-dara (yang berdada) cantik.

Bait 550 yang delapan baris mengilatkan kemauan keras untuk mendapatkan gadis idaman (‘buah pauh janggi’) yang cantik jelita yang dipingit dalam ‘kelambu tirai putih’. Jelas orang yang bermodal besar dan punya kemauan untuk bekerja keraslah yang akan  berhasil memperolehnya. Tapi tekad si bujang tampaknya kuat sekali: walau ‘buah pauh janggi’ itu diproteksi dalam keranda, rupanya dia sudah tahu rahasia untuk membukanya, dan dia berharap akan memperoleh ‘buah indah’ yang diidam-idamkannya itu (bait 551).

Dalam bait berikutnya (552) terefleksi niat yang sudah lama terpendam untuk mendapatkan ‘buah pauh janggi’ itu (baca: gadis idaman). Oleh karena itu perlu pendekatan ekstra hati-hati dan tidak terburu nafsu kalau tidak ingin gagal. Biar lambat asal selamat. Oleh sebab itu dikatakan bahwa yang memiliki atau yang berkuasa atas buah itu dimohon mempertimbangkan permohonan si bujang, sudi kiranya memberi jalan untuk mendapatkannya (bait 553).

Bait terakhir mengilatkan fungsi ‘buah pauh janggi’ itu, yang rupanya sudah berada dalam cakauan si bujang: begitu enaknya buah itu disasok, sehingga hilang rasa ngilu dan pening di  kepala (rabab sajalah yang akan menyampaikan), dan buah itu juga bisa dijadikan ‘azimat’.

Membaca keseluruhan bait di nomor ini, kita dapat juga merasakan fungsi buah pauh janggi sebagai obat dan juga benda keramat. Konon beberapa kerajaan lokal di Nusantara (seperti Brunei Darussalam) memiliki regalia buah pauh janggi ini untuk menandakan hubungan keturunan antara raja-raja yang dianggap satu keturunan dulunya. Konon buah pauh janggi juga berfungsi sebagai obat batuk yang mangkus. Hakikat buah pauh janggi bagi orang Melayu sama dengan gading gajah: karena buah itu susah didapat, sebab kadang-kadang saja ditemukan terapung-apung di lautan, orang yang memilikinya menjadikannya semacam barang antik. Ini juga mungkin disebabkan oleh bentuknya yang kembar menyerupai dua buah dada perempuan. Oleh sebab itulah dalam konteks pantun Minangkabau klasik, buah itu digunakan untuk merepresentasikan hal-hal yang bersifat erotis. Dalam masyarakat Minangkabau yang beragama Islam, bahasa mencari jalan yang melereng untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat erotis. Di Minangkabau kalau erotisme disampaikan dengan kata-kata yang ‘telanjang’, yang menyampaikannya pasti akan mendapat gala ‘si Jibun’ .

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 11 Maret 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: