Posted by: niadilova | 05/03/2012

KPM #70 – ANTARA MEKAH DAN MADINAH: DI SANA ‘BUAH PAUH JANGGI’

Genre pantun boleh dibilang tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan. Walapun zaman berubah, musim berkisar, pantun tetap hidup meskipun secara estetika ia mengalami transformasi. Namun itu adalah sesuatu yang wajar terjadi. Di negeri ini sekarang pantun juga populer di ranah politik. Politikus seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Tifatul Sembiring, misalnya, suka mengungkapkan pesan politiknya lewat pantun, sebagaimana dibahas oleh Erizal dalam artikelnya ‘Politik Pantun Yang Rumit’ (2011:75-80). Pantun memang bagian dari politik kehidupan, tak terkecuali pantun Minangkabau, yang beberapa bait lagi, penyambung nomor-nomor yang lalu, kami sajikan lagi di nomor ini.

540.

Apo badantuang di tapian,

Urang manumbuak ampo padi,

Apo tarapuang di lautan,

Itu nan buah pauah janggi.

541.

Sukatan balantak timah,

Sudah panyukek ampo padi,

Antaro Makah jo Madinah,

Di sinan buah pauah janggi.

542.

Disangko gurah batang padi,

Bungo cimpago kambang malam,

Disangko murah pauah janggi,

Kironyo dalam lauik dalam.

543.

Bungo cimpago kambang malam,

Lalu ka lubuak ‘rang cancangi,

Dalam talago lauik dalam,

Mari jo biduak kito ranangi.

544.

Sirauik parencuang upiah,

Dibao urang ka dalam padi,

Dilatak di ateh batu,

Di darek bungo tanjuang putiah,

Di lauik buah pauah janggi,

Piliah di Tuan salah satu.

545.

Dilatak di ateh batu,

Dituriah jo batang padi,

Kalundi tangah halaman,

Piliah di Tuan salah satu,

Asa kabuliah pauah janggi,

Carikan biti tando tangan.

546.

Pinang batuntun nan batumpok,

Tidak ka jatuah-jatuah lai,

Dituriah jo batang padi,

Saribu satu injok pasok,

Tidak mungkin tarungkai lai,

Dima ka buliah pauah janggi.

547.

Dititih batang linjuang,

Dititih balari-lari,

Carikan pitih limo uang,

Nak buliah buah pauah janggi.

Pengertian ‘buah pauah janggi’ (selanjutnya: ‘pauh janggi’) dalam makna denotatif dan konotatif dipermainkan secara bolak-balik dalam tujuh bait pantun yang disajikan di nomor ini. Jika kita merujuk kepada pembicaraan R.J. Chadwick (1994) yang telah mengekplorasi metafora dalam pantun-pantun Minangkabau, maka ketujuh bait pantun di atas menyembunyikan secara elok erotisme yang jauh dari kesan vulgar. Itulah yang  ‘Minangkabau’ wahai pembaca sekalian.

Pauh janggi adalah sejenis kelapa laut (double coconut) yang kelihatannya kembar tapi sebenarnya satu. Tanaman ini berasal dari Kepulauan Seychelles di pantai timur Afrika (mungkin juga di Kepulauan Maladewa), sebab nama ilmiahnya adalah lodoicea maldiva yang termasuk dalam famili palmae (palma), suku Anarcadiaceae, marga Mangifera, walaupun orang Minang menyebutnya pauah janggi yang lebih berkonotasi ke keluarga pohon mangga. Rupanya ‘buah pauh janggi’ ini punya khasiat tertentu untuk kesehatan. Ia dikenal sebagai obat batuk ‘kelapa laut Afrika’. Bagi orang Sumatra atau dunia Melayu pada umumnya buah ini tentu sulit didapat dan kadang-kadang hanya ditemukan terapung-apung di laut dibawa oleh arus laut dari tempat yang jauh (pantai timur Afrika).

Jika dilihat sepintas lalu bentuk buah pauh janggi ini seperti dua buah dada perempuan, tapi jenis yang lain kelihatan seperti pantat (lihat bentuk visualnya di google). Warna kulitnya ketika masih muda biru kekuning-kuningan dan menjadi hitam kecoklatan bila sudah tua. Bentuknya yang ‘seksi’ itulah, saya kira, yang membuat buah ini digunakan untuk melambangkan perempuan.

Dalam bait 540 dikatakan betapa jauhnya ‘buah pauh janggi’ tumbuh dan betapa susahnya mendapatkan ‘buah’ itu. ‘Buah’ itu terapung di lautan luas, tapi dalam bait berikutnya (541) dikatakan bahwa ‘buah’ itu hidup di sebuah tempat antara Mekah dan Madinah. Dalam konteks ini pemakaian kata Mekah dan Madinah merujuk kepada tempat yang sangat jauh, menandakan bahwa tidaklah mudah untuk mendapatkan ‘buah pauh janggi’ yang diminati banyak orang itu. Dalam pikiran para Muslim Melayu, yang pada waktu dulu kebanyakan buta huruf, Mekah dan Madinah adalah nama yang sering dipakai untuk mengekspresikan atau menunjukkan jauhnya suatu tempat. Ini tentu terkait dengan tradisi naik haji. Oleh karena itu bagi kebanyakan orang Melayu dari kampung-kampung, tempat yang paling jauh di dunia ini adalah Mekah atau Madinah. Seperti disebutkan dalam Syair Rukun Haji oleh Syekh Daud Sunur (lihat Suryadi 2006), Mekah adalah ‘pusat’ dunia ini.

Sulitnya mendapatkan ‘buah pauh janggi’ itu diekpresikan lagi dalam bait 542: ia tersimpan jauh di dasar laut yang dalam yang hanya bisa diperoleh dengan merenanginya dengan biduk (543). Sementara dalam bait berikutnya (544) didedahkan dua perbandingan (‘bunga tanjung putih’ di darat dan ‘buah pauh janggi’ di laut) yang kedua-duanya sama cantik dan menawannya, tapi ‘Tuan’ hanya boleh memilih salah satu di antaranya. Cukup jelas di sini bahwa keduanya melambangkan perempuan cantik. Tapi tampaknya pilihan lebih condong ke ‘buah pauh janggi’ yang untuk mendapatkannya memang harus ada kejelasan hitam di atas putih: harus ada bukti tanda tangan, tegasnya, harus dilamar secara resmi (bait 545).

Bait 546, sekali lagi, mengilatkan betapa sulitnya mendapatkan ‘buah pauh janggi’. ‘Buah’ yang diinginkan oleh banyak lelaki itu diproteksi, dilindungi oleh seribu satu ‘injok pasok’ (ingatlah pasok lukah yang jika ikan sudah masuk ke dalamnya, sulit akan bisa ke luar lagi). Artinya: memang sulit mendapatkan ‘buah’ itu. Siapa yang ingin mendapatkannya memang perlu modal (Carikan pitih limo uang) (bait 547). Kalau modal dengkul saja, mungkin yang akan Anda dapatkan hanya ambacang munggu yang banyak ulatnya.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 4 Maret 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: