Posted by: niadilova | 27/02/2012

KPM #69 – MENCARI BUAH ‘PAUH JANGGI’

Berbeda dengan syair, yang akar historisnya di dunia Melayu dapat diidentifikasi melalui beberapa temuan arkeologis dan epigrafis (lihat misalnya ‘Prasasti Minye Tujuh’ di Aceh; Willem van der Molen 2007), sejarah awal keberadaan pantun belum begitu jelas. Ini mungkin disebabkan oleh hakekatnya yang aural sebagai produk tradisi lisan. Namun para sarjana cenderung berpendapat bahwa pantun adalah produk literer asli Alam Melayu, sedangkan syair diadopsi dari luar. Di nomor ini, kita lanjutkan apresiasi kita terhadap pantun-pantun Minangkabau.

532.

Alang malewek sikok mandi,

Ruruah salibu bao pulang,

Larang mandapek sipaik hati,

Dalam saribu Tolan sorang.

533.

Badantiang tali layang-layang,

Putuih ka kabun Bandaharo,

Dilapeh raso ka sayang,

Ditahan apo kagunonyo?

534.

Tidak guno dirangguangkan,

Bao ka Pulau Bilang-bilang,

Tidak guno dimanuangkan,

Lawan jo gurau nak nyo hilang.

535.

Bakukuak ayam nan kiramaik,

Kukuaknyo badarai-darai,

Kalau dunia lah ka kiamaik,

Tandanyo badan ka bacarai.

536.

Tanah Nieh Gunuang Taneju,

Udang bingkarak jangguik jolang,

Baniaik hati nak batamu,

Badan jauah di rantau urang.

537.

Tubo-manubo urang di ulu,

Tubo manubo di tapian,

Cubo-mancubo urang dahulu,

Cubo-mancubo jo janjian.

538.

Gamuruah hujan di parahu,

Parang babalah jo bintuangan,

Larang mukaluak nan katahu,

Antah kok Allah jo Junjuangan.

539.

Ka Pauah juo pai bapandan,

Di kida pandan baduri,

Ka jauh juo tampannyo badan,

Mancari buah pauah janggi.

Pujian bergaya hiperbol diungkapkan dalam bait 532: sanjung  berhadapan, tapi mudah-mudahan bukan ‘mengepit daun kunyit’ atau rayuan gombal. Katanya: banyak yang cantik atau gagah tapi hanya Anda seorang yang sangat cocok di hati.

Bait 533 manis sekali ungkapannya. Bait ini merekam situasi dilematis dalam hubungan kasih sayang yang tampaknya sudah baparinggo (retak menunggu akan pecah). Lidah kelu untuk mengucapkan ‘talak tiga’, tapi kalau masih terus bertahan situasinya malah makin runyam: akan baik lagi mungkin tidak, kusutnya sudah seperti sarang tempua.

Jika hati sedang bersedih, elok bergurau dengan teman samo gadang. Mungkin kesedihan itu disebabkan oleh masalah dengan si dia atau Anda sedang berjauhan dengannya. Atau kesedihan itu terkait dengan masalah sosial-ekonomi. Apapun penyebabnya, jika hati sedang bersedih, jangan dibawa bermenung seorang diri, khawatir nanti aka Anda jadi singkek, pangana ilang: ambil keputusan menerjuni Ngarai Sianok, misalnya. Itulah refleksi bait 534.

Janji erat buatan teguh dikilatkan dengan gaya hiperbol dalam bait 535: selama dunia masih terkembang sejoli itu akan terus bersama; hanya kiamatlah yang dapat menceraikan (memisahkan) mereka berdua. Mudah-mudahan begitulah janji yang dibuat oleh para pembaca setia rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ dengan pasangan hidup masing-masing.

Ada suara rindu dari si perantau kepada kekasih hati yang ditinggalkan di kampung terekam dalam bait 536. Ini mengingatkan saya pada surat Samzulbahri di Batavia yang dikirimkan kepada Sitti Nurbaya di Padang. Sayang Datuk Maringgih telah membuat segalanya berantakan. Bait ini mengandung pesan kepada bujang perantau Minang: sering-seringlah menelepon sang pujaan hati yang ‘dititipkan’ di Ranah Bundo (paling tidak 100 SMS setiap sehari cukuplah), jika tidak ingin ‘si kuniang lanjai’ Anda disembaalang’. Kalau itu terjadi, bisa tararau Anda di rantau.

Bait 537 merekam cara orang saisuak berpacaran: saling mencoba mengajuk hati dengan janji. Tentu saja caranya bukan raun dengan honda bebek ke Malibu Anai, seperti yang dilakukan banyak anak muda sekarang. Paling banter hanya berpapasan di pakan sambil melempar senyum, atau mengirim isyarat melalui pantun dalam acara basicontiak. Kalau di zaman kakak-kakak saya Darman Moenir, Khairul Jasmi, St. Zaili Asril, dan Hasril Chaniago lagi bujaha dulu: sudah tampak bubungan rumah orang tua si dia, sudah senang sekali rasanya hati, serasa sudah berjumpa dengan si dia.

Ada gaya hiperbol lagi dalam bait 538 yang merefleksikan penderitaan hati yang sungguh sangat berat: ‘jarang makhluk (manusia) tahu, kecuali mungkin Allah dan Junjungan (Nabi Muhammad SAW)’. Ungkapan seperti ini cenderung merujuk pada derita cinta.

Dalam bait akhir muncul lagi simbol buah ‘pauah janggi’ yang sudah pernah muncul dalam nomor-nomor yang lalu. Seperti sudah saya katakan, ‘pauah janggi’ tampaknya adalah simbol yang cukup bernuansa erotis untuk perempuan atau gadis yang cantik dan seksi. Sungguh menarik untuk dikaji lebih jauh bagaimana erotisme direpresentasikan dalam estetika literer sastra tradisional Minangkabau, seperti pantun. Ini tentu dapat dihubungan dengan konteks budaya dan agama masyarakatnya. Di nomor depan, beberapa bait yang memakai simbol buah ‘pauah janggi’ akan muncul lagi. Bait 539 mengilatkan perjalanan jauh seorang bujang untuk menemukan gadis pilihannya. Dalam konteks ini, kata ‘jauah’ (jauh) bisa bermakna jarak geografis, tapi bisa juga bermakna tingginya tingkat kesulitan yang akan dihadapi. Kalau dalam soal ini sama tahulah kita: ‘dek hati mati, dek mato buto’.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 26 Februari 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: