Posted by: niadilova | 13/02/2012

KPM #67 – DAGING HABIS TULANG BERKISAI

Pengalaman masa lalu yang menunjukkan kurangnya jumlah pantun yang terdokumentasikan dalam bentuk tulisan mestinya memberi pelajaran kepada kita kini, khususnya para sarjana (scholar) bidang ilmu bahasa dan budaya, untuk bergiat mendokumentasikan pantun. Di masa sekarang, di mana teknologi media yang semakin canggih telah memberi berbagai kemudahan, pendokumentasian pantun-pantun Minangkabau mestinya dalam bentuk kombinasi tulisan dan visual. Dengan demikian teks dan konteks penggunaan pantun itu dapat didokumentasikan. Di nomor ini kami sajikan lagi beberapa untai pantun klasik Minangkabau dari akhir abad ke-19.

516.

Kayu rakik nan tabanam,

Panjapuik pisang ka muaro,

Bulan sakik matoari damam,

Bintang nan susah babicaro.

517.

Malenggang biduak ka Padang,

Minyak di dalam kualonyo,

Apo katenggang anak dagang,

Urang di dalam nagarinyo.

518.

Apo badatak di parahu,

Anak juragan Pulau Pinang,

Haram talak kami kok tahu,

Bahaso bungo dilarang urang.

519.

Bungo naneh bungo cimpago,

Lalu dikarang dipasuntiang,

Tolan ameh, kami timbago,

Dima ka buliah samo kuniang.

520.

Si Dauik namo ‘rang Palinggam,

Pandai manyurek sambia tagak,

Tolan sapantun tulih pinggan,

Hancua luluah barubah tidak.

521.

Ayam batalua dalam samak,

Mati dipungkang urang lalu,

Dagang nan tidak badunsanak,

Mati disandai bania kayu.

522.

Singosari makan di jirek,

Makan pauh barulam jantuang,

Tuan sorang dunia akhiraik,

Tampaik nyao badan bagantuang.

523.

Karang Tigo tigo suduiknyo,

Tagantuang di baliak tirai,

Jikok datang hukum ujuikNyo,

Dagiang abih tulang bakisai.

Kesedihan yang diderita oleh anggota keluarga tentu akan mengakibatkan efek psikologis kepada anggota keluarga yang masih sehat: yang sehat juga jadi ikut murung. Atau jika konco pelangkin sedang rusuh, tentu kita akan rusuh pula. Itu mungkin disebabkan oleh perasaan senasib sepenanggungan. Itulah refleksi bait 516. Namun penyimbolan benda-benda langit pada bait ini bisa juga dimaksudkan untuk menggambarkan keluarga bangsawan.

Bait 517 menggambarkan konsep ‘nagari bapaga undang, kampuang bapaga buek’, ‘otonomi daerah’, kata orang sekarang. Bait ini merefleksikan betapa jika seorang berada di nagari-nya, ia jadi bagak dan berkuasa, dan oleh sebab itu jangan coba-coba menganggunya.

Ada rasa kaget ketiga baru mengetahui bahwa gadis yang diincar selama ini sudah dipingit (mungkin karena sudah dalam status bertunangan). Ini menjadi pelajaran bagi orang muda sekarang: jangan sampai menggilai ‘bunga larangan’ kalau tidak mau patah hati nantinya. Itulah refleksi bait 518.

Perbedaan kelas dan status sosial terkilat lagi dalam bait 519: ‘emas’ jelas melambangkan seseorang yang status sosialnya tinggi dan, sebaliknya, ‘tembaga’ menyimbolkan seseorang yang punya status sosial rendah. Rupanya sudah menjadi hukum dunia dari dulu bahwa yang kaya bergandeng dengan yang kaya, yang miskin berkumpul dengan yang miskin, persis seperti yang tercermin dalam tata pergaulan sosial negeri ini sekarang.

Kecantikan abadi (lahir-batin) memang tidak akan pernah sirna oleh zaman. Hati yang bersih dari dengki, itulah syaratnya yang utama. Jika Anda berhasil memperoleh kasih sayang dari orang seperti ini–sayang sekali orang seperti ini cukup langka di dunia–maka mungkin Anda sudah merasakan sedikit sudut sorga di dunia. Itulah refleksi bait 520. Kata ‘tulih pinggan’ merujuk kepada sejenis porselen putih yang sangat bangus dan mahal harganya.

Hidup seorang dagang yang sangat tarasairasai direfleksikan dalam bait 521: hidup yang sebatangkara tanpa sanak saudara dan teman, wanderer dalam pengertian yang sesungguhnya, yang mati kelaparan di pokok (bania) kayu dalam ramainya wacana bursa saham dan bursa politik pilkada. Banyak orang seperti ini di dunia ini, tak terkecuali di negeri kita ini, tapi sering luput dari perhatian kita, dihindari oleh orang-orang kaya, juga jarang mendapat perhatian oleh negara.

Pernyataan kesetiaan seorang perempuan kepada pasangannya tercermin dalam bait 522: ‘Hanya dirimu seorang yang dipujanya dunia akhirat, tempat jiwa dan badannya digantungkan’, demikian katanya. Alangkah indahnya dunia jika memperoleh pasangan setia seperti ini. Mudah-mudahan para pembaca setia rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ yang telah berumah tangga sudah memperolehnya.

Peringatan akan hari kematian menggema dalam bait terakhir (523). Memang tidak akan ada yang dapat menghalangi jika sang elmaut sudah datang menjemput. Itu tentu sangat disadari oleh orang Minangkabau yang identik dengan Muslim. Bait ini memberi peringatan kepada kita tentang alam kubur: dalam hitungan hari wajah nan rancak dan kulit yang halus akan hancur dimakan tanah, dan dalam hitungan bulan kerangka tubuh akan rarak terai, lalu akan hancur (bakisai). Liang lahat, dengan beragam jenis cacing dan bakteri yang menghuninya, akan memakan tubuh Anda dengan lahap, walau ditutup dengan peti mati dari kayu jati nomor satu, tak peduli apakah Anda semasa hidup di dunia adalah seorang presiden, seorang ketua DPR(D), seorang pengusaha sukses, seorang rektor universitas ternama, seorang walikota yang berilmu ‘basi-’, seorang ‘kucing gubernuran’ (meminjam judul cerpen A.A. Navis), atau seorang wanderer tanpa sanak saudara yang mati tersandar di bania kayu.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  12 Februari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: