Posted by: niadilova | 06/02/2012

KPM #66 – KAMI DI BAWAH TELAPAK KAKI

Jika kita meninjau sejarah Minangkabau, maka dapat dikesan bahwa sistem budaya dan revolusi agama (Perang Paderi) telah memberikan batasan-batasan terhadap hubungan lelaki-perempuan. Dalam bidang seni tari, misalnya, hampir tak ada usur duet antara lelaki dan perempuan dalam tari-tari Minangkabau, kecuali mungkin pada musik hibrida sepergi gamaik yang hanya eksis di Padang. Saya berspekulasi bahwa pembatasan itulah yang telah mendorong orang Minangkabau menyalurkan perasaan mereka secara maksimal lewat seni kata-kata, sehingga memunculkan seni sastra yang sarat emosional seperti dapat dirasakan pada genre pantunnya. Kita nikmati lagi keindahan literer pantun-pantun Minangkabau itu dalam nomor ini.

508.

Pado batungkek ka Malako,

Elok ka Pulau Bilang-Bilang,

Bago sasukek aia mato,

Bao bagurau nak nyo ilang.

509.

Tupai malompek sanjo hari,

Urang manembak tangah ladang,

Adiak pandai di sifat hati,

Baru disabuik lansuang datang.

510.

Mamutiah ikan balanak,

Urang mamapeh di tapian,

Aia janiah ikannyo jinak,

Gadang buayo mahunikan.

511.

Urang darek baju basandiang,

Pai mamukek balam timbago,

Kok tak dapek nan langkai kuniang,

Gunuang batapuak awan lago.

512.

Buah dalimo kacang parang,

Tumbuah di jirek Tuan Haji,

Jangan dihino kami datang,

Kami di bawah tapak kaki.

513.

Dalimo daun dalimo,

Babuah tigo di pucuak daun,

Kasiah Tolan Ambo tarimo,

Jadi utang saribu tahun.

514.

Alah lamo tidak ka ladang,

Batang padi dililik kangkuang,

Alah lamo tidak kupandang,

Putuih hati pangarang jantuang.

515.

Duo tigo tagak manari,

Badaga-daga buni papan,

Ungko patah siamang mati,

Bakandak buah manggih hutan.

Kalau lagi sedih memang gurau adalah obat paling manjur untuk menghilangkannya. Itulah gunanya teman dan sahabat. Bait 508, dengan hiperbola yang cantik (walau sesukat air mata) mengajak seorang yang sedang dirundung sedih supaya bergurau dengan teman untuk menghilangkan kesedihannya.

Sebuah sanjungan kepada seorang gadis yang ‘tau digarak’ direfleksikan dalam bait 509: baru saja si Uda menyebut namanya, tak lama kemudian dia sudah datang. Kalau meminjam istilah orang sekarang: ‘instingnya kuat’, ‘punya indira keenam’. Yang jelas, itu juga semacam tanda adanya ‘tali’ yang kuat yang mengikat dua hati, tanda ‘saulah’.

Bagi si cendkia Minangkabau, bait 510 yang sangat elok perumpamaannya sudah jelas kemana arahnya: ‘ikan’ adalah perlambangan perempuan dan ‘buaya’ dalam konteks ini adalah perlambangan protektor (pelindung) yang kuat. Jelasnya, bait ini mengilatkan keadaan suatu negeri dimana para wanitanya ramah dan menarik tapi tak mudah bagi orang luar untuk mendekati mereka karena proteksi yang berlapis.

Bait 511 mengekspresikan kehendak seseorang yang begitu kuat untuk mempersunting atau mendapatkan cinta seorang gadis. Jika si dia yang semampai dan berkulit kuning langsat (nan langkai kuniang) gagal dia persunting, maka hidupnya akan kacau balau (gunuang batapuak, awan lago). Bisa pula artinya: di lelaki akan nekat melakukan apa saja jika kehendaknya tidak tercapai.

Suara yang merendah dalam berbicara terefleksi dalam bait 512. Bait ini menyifatkan ungkapan Minangkabau lama: ‘kok mandi di baruah-baruah, bakato di bawahbawah’. Konteksnya bisa dalam berbagai hal: dalam hubungan muda-mudi, acara kesenian dalam alek nagari, dan lain sebagainya. Bait ini mengingat orang agar tidak bersifat sombong dalam berkata-kata.

Ada nada sanjungan pada bait 513. Kata ‘kasiah’ dalam konteks ini bisa bermakna ganda: ‘cinta’ (love) dan ‘sayang’ (affection), dan kata ‘Tolan’ bisa berati kekasih atau sahabat yang sifatnya netral. Dengan demikian, bait ini bisa berarti cinta suci murni yang tak mungkin dibalas dengan apapun atau refleksi dari ungkapan ‘utang emas boleh dibayar, utang budi yang dibawa mati’.

Bait 515 merekam momen pertemuan dari dua orang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa. Rasa taragak yang sudah membuat ubun-ubun berasap diekspresikan dengan kiasan elok: ‘putus hati pengarang jantung’. Kiasan hiperbolis ini benar-benar mampu memberikan bayangan bagaimana sesungguhnya perasaan hati seseorang yang sedang dimabuk asmara.

Bait terakhir (516) sangat pekat dan arhais kiasannya, karenanya mungkin agak sulit dipahami oleh orang Minang modern si zaman ini, apalagi mereka yang sudah hidup dalam budaya urban. Bait yang memiliki kiasan indah ini merefleksikan kehendak kepada sesuatu yang sulit dicapai, yang akhirnya membawa kesengsaraan kepada badan diri. Tapi dalam konteks ini, kata ‘manggis hutan’ bisa merujuk ke sesuatu yang erotis. Dengan kata lain, banyak orang jadi sengsara karena berkehendak kepada si ‘kuniang lanjai’, tapi modal cekak. Maka dari itu, lebih baik dalam hidup ini tetap dipakai prinsip: ‘bayang-bayang sepanjang badan’.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  5 Februari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: