Posted by: niadilova | 16/01/2012

KPM #63 – JIKA LEPAS ELANG YANG PUNYA

Mengapa satu bahasa sangat kaya dengan kiasan, dan bahasa lain tidak, khususnya dalam ranah literer? Apakah perbedaan ini mencerminkan perbedaan tingkat ‘sofistikasi’ budaya? Pertanyaan ini mungkin menarik dikaji lebih dalam dari perspektif etnolinguistik. Yang jelas, dibanding dengan pantun-pantun Melayu, misalnya, pantun-pantun Minangkabau jauh lebih rumit, lebih esoteris, dan penuh kiasan, sebagaimana dapat dikesan lagi dalam sajian kami di nomor ini (63).

484.

Ampalu di ateh bukik,

Surau Kamba di baliaknyo,

Dapek malu kami sadikik,

Jauah takaba baritonyo.

485.

Dibukak peti bagewang,

Sambilan anak tanggonyo,

Janganlah hati dipacewang,

Nantikan hari kutikonyo.

486.

Tinggilah bukik Gunung Padang,

Bari bajanjang batu mandi,

Manangih ikan dalam karang,

Bakandak buah pauah janggi.

487.

Dari Langkat ka Batu Baro,

Daun pandan Ambo kiraikan,

Kok dapek budi jo baso,

Badan jo nyao Ambo barikan.

488.

Dipanjek pinang tagayuik,

Digigik mumbang badarai,

Dipandang gunung hilang lupuik,

Alamaik badan ka bacarai.

489.

Nasi satungkuih dari gunuang,

Tiok suduik bakarang bungo,

Tujuah musim ayam takuruang,

Kok lapeh alang nan punyo.

490.

Kudo putiah makan salibu,

Makan salibu padi sawah,

Piliah-piliah dalam saribu,

Tolan sorang dipiliah Allah.

491.

Rareh sabiji buah nipah,

Bulek tangkainyo bapasagi,

Kok di kami tidak barubah,

Antah kok tolan jauah hati.

Sebuah berita kurang baik sudah beredar dibawa angin, sudah berkembang dari mulut ke mulut, tentang si anu yang sudah berpisah dengan si anu, atau tentang si anu yang pinangannya ditolak oleh si anu, yang mungkin diikuti dengan cemooh dan hinaan. Itulah refleksi bait 484.

Bait 485 berisi nasehat untuk pasangan yang terlalu lama berada dalam status bertunangan (atau pacaran): hendaknya jangan sampai bubar sebelum ke pelaminan. Banyak kejadian di mana cincin tunangan harus dikembalikan ke ninik mamak karena salah seorang telah mendua hati sebelum ‘kereta pertunanganan’ itu sampai ke ‘stasiun tujuan’.

Ada kiasan yang dalam dan elok pada bait 486: bait ini mengilatkan suatu keinginan yang sulit diwujudkan karena jarak yang terlalu jauh, baik dalam arti geografis maupun status sosial. Bait ini hendak memberikan nasehat: jika menginkan sesuatu (termasuk kalau jatuh cinta) ingatlah bahwa ‘bayang-bayang harus sepanjang badan’, ‘kalau kail panjang sejengkal, jangan laut hendak didugal’.

Banyak orang yang mau berkorban apa saja jika apa yang diinginkan dapat diperoleh, termasuk dalam soal mencari pasangan hidup. ‘Dapek nan di hati, basobok nan saulah’, begitu terdengar dalam istilah Minangkabau. Memang ‘murahmurah sarik’ mendapatkan model yang cocok di hati ini, sebagaimana pernah diceritakan oleh ‘konco pelangkin’ saya, Nasrul Azwar, kepada saya. Itulah refleksi bait 487.

Bait 488 mengilatkan adegan perpisahan. Hilang Sinyaru, tampak Pagai, itu tandanya Anda sudah jauh dari ‘Tanah Tepi’. Jika puncak Gunung Marapi atau Singgalang sudah tidak kelihatan lagi oleh Anda dalam perjalanan menuju rantau nan bertuah, itu tandanya memang perpisahan akan terjadi. Namun, semoga itu hanya perpisahan sementara, bukan perpisahan abadi, kecuali jika selama di rantau Tanah Jao, Anda sudah ‘keracunan’ pula oleh kuah sayur lodeh.

Kiasan pada bait 489 elok nian: ‘Tujuh musim ayam terkurung, jika lepas elang yang punya’. Ahai…tembakan kata kiasan ini jelas diarahkan ke bujang yang sudah lama maintai seorang gadis cantik yang dipingit atau diproteksi oleh keluarganya. Tiap hari ia mondar-mandir lewat di depan rumah si gadis, ibarat kereta api lansir, ibarat ‘urang maunyian durian’. Eh, pas ketika si gadis sudah lepas dari pingitan, ternyata orang lain (juragan kaya di kampung) yang berhasil mempersuntingnya. Pergilah si bujang merantau ke Jawa, dan dapat diduga (karena kecewa) ia akan mencintai ‘tempe’ daripada ‘rendang’.

Hiperbol yang berlebihan untuk menyanjung pasangan (gadis) terefleksi dalam bait 490. Dikatakan Allah-lah yang menentukan si dia menjadi pasangannya. Saya yakin, pujian seperti ini akan dilanjutkan dengan pujian yang lebih ‘dahsyat’: ‘Engkaulah payuang panji Kakanda ka sarugo, unduang-unduang ka Madinah’.

Hati yang terkelencong dalam janjian dikilatkan dalam bait terakhir (491). Si dia tampaknya sudah mendua hati, mungkin karena digaduah oleh bujang dari kampung tetangga yang pulang dari rantau mambao oto sedan berkilat. Berkucak iman di dadanya, lupa dia dengan janji setianya. Tampaknya akan berapat kembali ninik mamak dari kedua belah pihak untuk mengungkai ‘buek nan lah dibuek, padang nan lah diukua’. Cincin tunangan harus dikembalikan, dan pihak yang mendua hati harus membayar ‘denda’. Dan…si pencundang pasti akan segera membeli tiket Gagak Hitam, menggulung bungkusan, untuk bersiap-siap pergi ke rantau. Seperti terefleksi dalam beberapa novel Indonesia modern berlatar Minangkabau di tahun 1920-an dan 1930-an, mereka yang ‘dikalahkan’ ini sering merantau Cina, kabur baginya jalan ke Ranah Bundo.

(bersambung minggu depan)

Suryadi[Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  15 Januari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: