Posted by: niadilova | 09/01/2012

KPM #62 – AMBIL RACUN UNTUK OBATNYA

Mengarang pantun ibarat mengaduk (maaru) gula saka dan santan jadi tengguli. Adukan yang pas akan menghasilkan tengguli yang manis dan enak. Sebuah ungkapan Minang lama berbunyi: ‘Kurang  aru cirik kambiangan, talampau aru bapalantiangan’. Ungkapan itu menyiratkan bahwa hanya tangan dan yang cekatan dan emosi yang tertatalah yang dapat menghasilkan tengguli yang bagus. Demikian pula halnya dalam mengarang pantun. Di nomor ini kami turunkan lagi pantun klasik Minangkabau – contoh yang telah sudah, tempat tuah diambil kepada yang menang.

476.

Dicabiak kain dibali,

Dielo tangah tigo elo,

Mintak tabiak kami banyanyi,

Badan ketek kurang pareso.

477.

Balayia kapa dari Kurinci,

Balabuah tantang Pulau Panai,

Kok banci katokan banci,

Jangan ditulak jo parangai.

478.

Ajuang di Lauik Nagosati,

Si Angkuik namo nangkodonyo,

Jauah nan tidak taturuti,

Dangakan sajo baritonyo.

479.

Siriah kuniang pinang manari,

Anak garudo pandai tabang,

Sabab kami datang kamari,

Maliek bungo jolong kambang.

480.

Koja Usin mangguntiang daun,

Layang-layang di Pulau Judah,

Tujuah musim sambilan tahun,

Kasiah sayang alun lai sudah.

481.

Ikan banamo parang-parang,

Tuhua sisiak mangko dibalah,

Mukaluak nan bukan alang-alang,

Pihak Rasul Khalifatullah.

482.

Kok pandai tagak di Madiun,

Saraso tagak di Kediri,

Kok pandai maminum racun,

Saraso santan jo tangguli.

483.

Dikarek rotan dilabiahkan,

Dikarek lalu ka ureknyo,

Padiah rangkuangan minun santan,

Ambiaklah racun kaubeknyo.

Bait 476 sering ditemukan dalam bagian awal (pembukaan) beberapa genre sastra lisan Minangkabau di mana tukang cerita (storyteller) minta maaf kepada khalayak (audience) sebelum melanjutkan ceritanya jika nanti penyampaian cerita olehnya kurang menarik atau iramanya kurang bagus. (Lihat bahasan G.L. Koster mengenai dalang dan dagang yang terkait dengan hal ini dalam bukunya, Roaming trough Seductive Gardens: Reading in Malay Narratives. Leiden: KITLV Press, 1997).

Suatu penolakan cinta yang dilakukan dengan cara menampilkan perangai tertentu direfleksikan dalam bait 477. Ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya dia sudah membenci Anda, karena itu dia mencari gara-gara (lilik) supaya Anda marah kepadanya, sehingga timbul kesan bahwa Andalah yang menyebabkan timbulnya persoalan dan menginginkan perpisahan.

Jarak antara rantau dan kampung terbayang lagi dalam baris isi bait 478: rantau yang begitu jauh, yang sering ‘menelan’ dagang Minangkabau, dulu dan kini. Betapa canggihnya teknologi komunikasi dan transportasi sekarang, tapi tetap banyak dagang Minangkabau yang ‘hanyut’ dan ‘tergadai’ di rantau, tak kuat menampakkan muka di kampung.

Gadis manis perawan desa yang membuat mabuk hati banyak bujang (dan duda) muncul lagi dalam bait 479. Tepat sekali dalam bait ini dipakai kiasan ‘bungo jolong kambang’, yang dulu hampir selalu ada di tiap desa. Sekarang mungkin sudah banyak yang hijrah ke kota-kota besar, dan tampil dalam bingkisan ‘plastik’ dengan parfum dan gincu buatan luar negeri, jauh dari kesan asri dan alamiah.

Hiperbol pada bait 480 terasa sangat kuat dalam merepresentasikan kegigihan dan kekuatan cinta: ‘tujuh musim, sembilan tahun’, suatu ungkapan yang menyimbolkan kesetiaan yang mampu bertahan lama. Hendaknya kesetiaan seperti itu dialami pula oleh banyak pembaca setia rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ ini. Jangan cepat berpindah ke lain hati.

Bait 481 berisi pujian kepada rasul (-rasul) Allah: khalifatullah. Dalam konteks ini tampaknya yang dimaksud adalah Muhammad S.A.W., khalifah Allah di dunia, manusia yang dianggap paling berpengaruh sepanjang zaman di bumi ini.

Perumpamaan pada bait 482 sungguh indah terasa, sebuah gaya literer pantun yang khas Minangkabau. Bait ini tidak dimaksudkan untuk mengajak mati tanpa merasa sakit. Bait ini secara implisit ingin menyampaikan nasehat bahwa penderitaan yang berat, jika diterima dengan lapang dada, bisa terasa sebagai suatu kebahagiaan juga. Dengan kata lain, hadapilah kesulitan dengan tawakkal. Orang yang pandai menyembunyikan penderitaan yang paling pahit yang sedang dialaminya, sehingga di hadapan publik ia tetap terlihat bahagia.

Konstruksi makna asimetris dan kontradiktif pada bait terakhir (483) seakan menghadirkan puncak estetika pantun Minang. ‘Jika perih tenggorokan minum santan, ambillah racun untuk obatnya’. Jika menderita karena kecantikan dan kenikmatan, maka selami benar penderitaan itu sampai ke dasarnya yang terdalam. Saya harap kata kiasan ini tidak akan dipraktekkan dengan pemaknaan denotatif pakai kacamata kuda oleh generasi sekarang. Bisa jatuh korban yang tak diinginkan. Yang jelas, bait nan indah ini layak dimanfaatkan oleh para pencipta lagu Minang yang berselera seni tinggi.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  8 Januari 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: