Posted by: niadilova | 23/12/2011

Seni Verbal Tradisional Minangkabau di Era Komunikasi Elektronik: Media Baru, Tempat Baru

Selama dua dekade lalu industri rekaman daerah di Indonesia berkembang dengan pesat. Hampir setiap kelompok etnis di Indonesia memiliki musik pop sendiri yang sekarang tersedia dalam rekaman-rekaman komersial berupa kaset dan VCD. Perkembangan pesat industri rekaman daerah di Indonesia ini juga mempengaruhi sastra lisan etnik, termasuk seni verbal tradisional di Minangkabau. Sumatra Barat merupakan salah satu pusat industri music terbesar di Indonesia setelah Jakarta. Meskipun produk utama dari perusahaan-perusahaan rekaman di Sumatra Barat adalah Pop Minang, genre seni verbal tradisional Minangkabau juga tercermin sangat kuat. Ketika persaingan di antara perusahaan rekaman meningkat, ada mediasi budaya Minangkabau yang ekstensif, termasuk sastra lisan, yang mempengaruhi secara struktural dan sosiologis bentuk-bentuk seni tradisional.

Makalah ini mengulas proses-proses mediasi genre seni verbal tradisional di Minangkabau, dan menilai cara mediasi ini mempengaruhi bentuk dan resepsi sastra lisan Minangkabau, dan bagaimana ia bergelut dengan soal-soal modernitas dan identitas budaya.

Sastra Lisan Minangkabu dan Rekamannya

Daerah Minangkabau menjaga keragaman bentuk sastra lisan yang kaya, serta peran penting dalam ritual tradisional dan kehidupan sosial. Sebagian genre ditemukan di banyak daerah di Sumatra Barat, sedang genre-genre lainnya menjadi ciri khas bagi daerah-daerah tertentu dengan teks-teks yang sangat dipengaruhi oleh dialek khas bahasa Minangkabau. Sebagian genre mendaraskan kaba, dongeng-dongeng yang berisi pelajaran etika dan moral, dan genre lainnya berisi bait-bait tradisional yang dinyanyikan seperti pantun dan syair. Genre-genre utama yang direkam dalam kaset-kaset komersial dan VCD di antaranya: rabab Pariaman, indang, rabab Pesisir Selatan (or rabab Pasisia), dendang Pauah, sijobang, saluang (atau bagurau), salawat dulang, randai and pidato adat dan pasambahan. Bentuk-bentuk ini secara tradisional disuguhkan pada kesempatan-kesempatan perayaan, semisal perkawinan, peringatan Maulid Nabi di surau, perayaan nagari, dan pesta-pesta merayakan pengangkatan penghulu baru. Bentuk-bentuk kesenian itu juga sering dipertunjukkan untuk mengumpulkan dana untuk membangun fasilitas publik semisal sekolah dan balai desa.

Rekaman-rekaman pertama dari seni verbal Minangkabau muncul dalam bentuk piringan hitam (gramaphone discs) pada tahun 1930an. Namun munculnya industri rekaman kaset pada awal 1970an lah yang menghasilkan produksi dan konsumsi rekaman berskala besar. Industri baru ini berkembang pertama kali di Jawa dan Bali, kemudian merambah ke pulau-pulau luar Jawa lainnya. Di Sumatra Barat Tanama records dan Sinar Pandang Records didirikan pada awal 1970an. Sejak akhir 1980an, pesaing-pesaing baru semisal Pelangi Records, Minang Records, dan Talao Records, juga memproduksi sastra lisan Minangkabau dalam bentuk kaset-kased komersial dan VCD.

Rabab Pesisir Selatan adalah genre paling populer dari sastra lisan Minangkabau yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan rekaman Sumatra Barat. Para penyanyinya dilibatkan oleh para produser kaset lebih sering ketimbang rekan-rekan mereka dari genre lainnya. Genre ini menerapkan prosa lirik dengan menggunakan bahasa modern Minangkabau dan menambahkan humor. Penyanyi Syamsuddin tampaknya adalah pemain pertama yang merilis rekaman komersial Rabab Pesisir Selatan, mulai pada 1971 dan terus dengan karya-karya semisal Kaba Merantau ke Jambi, yang dibuat dalam 5 kaset oleh Tanama Records pada 1975 (Phillips 1991: 81-82). Keberhasilan Tanama Records dalam memasarkan rekaman komersial rabab Pesisir Selatan tampaknya mengilhami pula perusahaan-perusahaan lainnya. Sinar Padang terkenal karena merilis jumlah terbanyak judul rababPesisir Selatan dalam VCD, yang ia produksi sejak awa 2000an.

Saluang or bagurau, yang sudah direkam sejak era piringan hitam, juga dirilis baik dalam bentuk kaset maupun VCD. Sekarang, karena pengaruh industri rekaman daerah Sumatra Barat, saluangmengadopsi teks-teks dan gaya-gaya musikal baru yang memadukan unsur-unsur pop Minang. Perubahan ini tecermin pada sampul kaset dan VCD saluang dalam gaya baru, yang digambarkan sebagai saluang maso kini, saluang dangdut dan dendang saluang mode AseRege. Yang terakhir diilhami oleh melodi lagi Asereje oleh tiga bersaudari dari Spanyol yang dikenal sebagai Las Ketchup yang menjadi hit dunia pada 2002. Rekaman Randai juga muncul dalam bentuk kaset dan sejak 2000-an juga dalam bentuk VCD. VCD Randai VCD memungkinkan khalayak menikmati tidak hanya aspek audio dari teater rakyat Minangkabau ini, tetapi juga aspek visualnya.

Rekaman-rekaman Pidato adat dan pasambahan telah dibuat sejak tahun 1980an, yang diprakarsai oleh Yus Dt. Parpatiah, seorang panghulu dari Maninjau, Sumatra Barat, yang menjadi pimpinan kelompok teater Rumah Gadang 83 di Jakarta (Suryadi 2003a: 61). Rekaman-rekaman komersial dari genre ini muncul hanya dalam bentuk kaset. Di antara kaset Yus Dt. Parpatiah dalam genre ini adalah Kepribadian Minang, Nasehat Perkawinan Versi Adat, Baringin Bonsai: Krisis Kepemimpinan Niniak-Mamak Di Gerbang Era Globalisasi, Konsultasi Adat Minangkabau, dan Pitaruah Ayah untuak Calon Panghulu.

Baru, Genre yang Gayut dengan Media (Media-Bound Genres)

Hadirnya rekaman juga memunculkan beberapa genre yang tidak memiliki padanan asli dalam pertunjukan-pertunjukan publik, yang hanya ada dalam media semisal kaset, VCD, radio, dan televisi. Contohnya adalah drama Minang moderen yang dibuat pada 1980an oleh dua kelompok teater Minangkabau yang didirikan oleh para perantau di Jakarta. Kaset-kaset yang diproduksi dari drama ini antar alain adalah Diseso Bayang (Disiksa Bayang(an)), Kamari Bedo (Serba Salah), Di Simpang Duo (Di Simpang Dua; maksudnya: dalam dilema), Kasiah Tak Sampai (Kasih Tak Sampai), Rajo Angek Bacakak jo Turih (Rajo Angek Ribut dengan Turis), dan Puber Kaduo (Puber Kedua). Sebagian judul ini dikeluarkan lagi baru-baru ini tetapi hanya dalam bentuk kaset, bukan VCD.

Drama-drama Minangkabau modern ini dipertunjukkan oleh sekelompok yang terdiri dari lima sampai sepuluh pemain laki-laki dan perempuan dalam bentuk drama radio. Para pelaku menyampaikan dialog mereka seolah sedang memerankan sebuah permainan, menyisakan khalayak tentang skenario bayangan dari aksi dan menggunakan banyak efek suara. Humor dan candatawa membumbui kisah-kisahnya, yang menggabungkan musik dan dialog yang dinyanyikan dan diucapkan, sebagian dalam bahasa Indonesia dan sebagian besar dalam bahasa Minangkabau (dialek sastra formal dan keseharian). Sampul kaset dibuat dari guratan-guratan lukisan atau gambar-gambar fotografik yang menunjukkan skenario yang ditampakkan secara cermat dari para pemain kelompok drama dalam kostum tradisional dan modern.

Dengan mencerminkan persepsi para perantau Minangkabau terhadap perubahan sosial yang terjadi di tanah kelahiran mereka dan di antara generasi Minangkabau yang lahir di rantau, tema-tema dari drama itu berpusat pada persoalan-persoalan keluarga Minangkabau modern – pilihan pasangan hidup, perselisihan warisan, masalah hidup di rantau, dilema dan ketertarikan menikahi gadis non-Minangkabau, pertalian mamak (saudara laki-laki ibu) – kemenakan (anak saudara perempuan), kesetiaan pada adat dan lunturnya budaya di kampong halaman. Cerita-cerita lainnya diilhami oleh legenda-legenda setempat atau sejarah Minangkabau di masa penjajahan.

Drama-drama kaset Minangkabau modern ini hanyalah satu contoh dari bagaimana budaya etnis digambarkan dan dihidupkan kembali dengan menggunakan teknologi media modern. Menghidupkan kembali semacam ini melibatkan penciptaan genre-genre baru, yang sebagian besar melalui pencampuran genre-genre yang ada sebelumnya baik dari dalam maupun dari luar budaya.

Pengaruh Rekaman pada Teks-Teks Lisan

Keadaan sekitar tentu saja mempengaruhi bentu sastra lisan. Setiap pertunjukan dalam beberapa hal adalah penciptaan baru bagi sang penyanyi, yakni membuat teks baru. Teks-teks sastra lisan yang direkam dalam kaset atau VCD cenderung dipadatkan; kadang para para tukang cerita menyatakan bahwa mereka sedang memendekkan ceritanya, yang menunjukkan kesadaran mereka akan ruang yang terbatas yang tersedia pada media semisal kaset dan VCD.

Kadang-kadang para pemain menggunakan ekspresi-ekspresi formulaik (formulaic

expressions) yang menujukkan mereka bergeser di antara kaset-kaset itu.

Contohnya adalah yang berikut ini oleh penyayi Amir Hosen dalam Kaba Nan Gombang Patuanan & Sutan Pangaduan :

Ujuang tali pangabek paga / Ujung tali pengikat pagar

Putuih bajelo masuak balai / Putus berjela masuk pasar

Jelo-bajelo ka kadaian / Jela-berjela ke perkedaian

Ujuang nyanyi jatuah ka kaba / Ujung nyanyi jatuh ke kaba

Sakarang kini kito mulai / Sekarang kini kita mulai

Disambuang [di] kaset nan kalapan / Disambung di kasen nomor delapan

Pendeknya, pergulatan genre sastra lisan dengan media baru seperti kaset dan VCD mempengaruhi teks-teksnya. Teks dari pertunjukan studio cenderung dipadatkan, dengan sedikit paralelisme, pasangan sinonim yang sedikit, atau sedikit frase-frase vokatif yang panjang, meskipun unsur-unsur formula genre khusus dipertahankan.

Otentisitas dan Modernitas

Otentisitas dan modernitas adalah dua ciri khas yang berlawanan yang digunakan untuk mengenali dan menjual bentuk-bentuk verbal rekaman. Pada sampul kaset dan VCD indang kata Pariaman asli selalu muncul. Kata-kata ini menunjukkan bahwa genre yang direkam dalam kaset dan VCD adalah versi tradisional indang Pariaman, dimainkan oleh para pemain laki-laki saja, dan bukan versi modern baru yang dimodifikasi (indang moderen), dimainkan oleh pemain laku-laki dan perempuan yang sering dipentaskan sebagai atraksi budaya untuk pariwisata. Sebaliknya, kaset-kaset komersial rabab Pesisir Selatan dilabeli gaya baru (Phillips 1991: 81), yang menunjukkan perubahan-perubahan struktur intrinsiknya dan menegaskan sikap para tukang ceritanya (tukang rabab) terhadap modernitas. Gambargambar sampul kaset dan VCD memperkuat konsep modernitas dan otentisitas ini. Penyanyi rabab Pesisir Selatan Pirin Asmara dan Hasan Basri, misalnya, tampil dengan pakaian modern. Pada satu sampul Pirin memakai pakaian ala Barat dengan dasi dan jaket, suatu kesan yang tentunya menjauhkan rabab Pesisir Selatan dari tradisi seni verbal Minangkabau. Sebaliknya, para peman dari genre-genre lainya seperti rabab Pariaman, salawat dulang, dan sijobang, tampil dalam pakaian tradisional pada sampul-sampul kaset komersial mereka. Gambaran-gambaran modernitas di satu sisi dan otentisitas di sisi lain juga muncul dalam klip-klip VCD yang menyertai pertunjukan-pertunjukan sastra lisan Minangkabau.

Kesempatan Baru Resepsi

Pergulatan sastra lisan Minangkabau dengan komunikasi elekronik telah membuka cara-cara baru resepsi di samping pola tradisional pertunjukan publik dalam festival-festival tradisional di kampung-kampung di Minangkabau. Persaingan untuk membuat rekaman-rekaman komersial dalam bentuk kaset dan VCD telah memberi masyarakat Minangkabau cara baru untuk memahami genre-genre ini.Perantau, separuh dari 6 juta total penduduk Minangkabau yang sekarang tinggal di luar Sumatra Barat, bisa menikmati bentuk-bentuk ini jauh dari tanah asal mereka. Para pengecer kaset di Padang, Pariaman dan Bukittinggi melaporkan bahwa kaset-kaset dan VCD komersial sastra oral Minangkabau sering dibeli oleh para perantau Minangkabau. Dan produsen rekaman terkenal, Tanama Records dan Sinar Padang Records, telah mendirikan toko-toko suplier sendiri di Glodok Plaza, Jakarta, untuk melayani pasar calon pembeli yang semakin meluas.

Namun demikian, tampaknya para perantau Minangkabau tidak sepenuhnya puas hanya dengan rekaman-rekaman genre oral Minangkabau. Baru-baru ini para perantau Minangkabau mengundang para tukang cerita sastra lisan Minangkabau untuk melakukan pementasan di rantau. Para penyanyiSaluang dan rabab Pesisir Selatan seringkali diundang oleh para perantau Minangkabau yang tingkal di Denpasar, Jakarta, Bogor, Bandung, Medan, Palembang dan Batam. Ketika mereka datang bersama untuk menikmati pertunjukanpertunjukan itu di rantau, kerinduan para perantau Minangkabau akan kampung halaman mereka bisa terobati. Perkembangan ini menegaskan bahwa mediasi genre-genre sastra lisan tidak mengancam pertunjukan langsungnya. Meski kaset dan VCD telah menciptakan public baru bagi bentuk-bentuk verbal Minangkabau, khususnya di daerah-daerah perkotaan rantau, jelas para konsumen masih mengapresiasi pertunjukan dalam latar publik.

Catatan Penutup

Melalui kaset dan VCD komersial, dimensi dengar dan lihat dari sastra lisan Minangkabau sekarang bisa dinikmati jauh dari tempat asalnya. Kaset dan VCD itu memudahkan jembatan emosional antara para perantau dan kampung halaman mereka. Meski dibawa melalui media elektronik baru ke audiens virtual yang tersebar dan berhubungan dengan aliran budaya setempat, genre-genre itu masih menekankan identitas dan komunitas lokal dan akar rumput, baik di kampung halaman maupun rantau.

Versi-versi media sastra lisan Minangkabau bergelut dengan dialog tentang modernitas dan otentisitas dalam masyarakat Minangkabau. Dalam hal ini kaset dan VCD turut menghidupkan kembali dan menakrifkan kembali identitas budaya daerah dalam Indonesia kontemporer. Dalam konteks regional, kaset dan VCD mempertegas sensitivitas lokal, yang berjalan seturut euforia otonomi daerah dalam ruang politik Indonesia kontemporer. Akibatakibat politik yang lebih luas dari perkembangan ini masih harus dilihat. Tak syak mediasi budaya lokal turut menyumbang makna perbedaan dari yang lain, suatu potensi perpecahan.

Dan diperkirakan hal itu mempengaruhi, secara politik dan sosial, proyek negara-bangsa Indonesia sebagai negeri multi-etnis.

Kepustakaan

Phillips, Nigel. 1991. Two variant forms of Minangkabau kaba, in : J.J. Ras and S.O. Robson (eds.), Variation, transformation and meaning; Studies on Indonesian literatures in honour of A. Teeuw, pp. 73-86. Leiden: KITLV Press

Suryadi. 2003a. Minangkabau commercial cassettes and the cultural impact of recording industry in West Sumatra, Asian Music 32.2: 51-89.

SURYADI (Leiden University, The Netherlands)

International workshop – Cultural Performance in Post-New Order Indonesia, 28-6-2010

http://workshop.blhatley.id.au/Summaries/Suryadi%20Summary-i.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: