Posted by: niadilova | 19/12/2011

Minang Saisuak #75 – Sebuah Rumah Gadang di Solok

minang-saisuak-sebuah-rumah-gadang-di-solok

Rumah gadang sambilan ruang, salanja kudo balari, sapakiak budak maimbau, begitu penggalan ungkapan Minangkabau yang sering kita dengarkan mengenai kebesaran dan kemegahan rumahgadang. Memang kalau kita lihat banyak foto klasik mengenai rumah gadang, ataupun beberapa di antaranya yang masih dapat kita saksikan sampai kini di darek, maka mungkin tak terlalu menyombong kalau kita katakan bahwa nenek moyang orang Minangkabau dulu sudah menguasai teknologi pertukangan yang cukup tinggi.

Rumah gadang jelas dibuat dengan jiwa seni yang halus dan bermutu tinggi, yang memainkan rasa dan pikiran. Kemegahannya mencerminkan sebuah tamadun yang cukup tinggi. Setiap bagian darirumah gadang dihiasi dengan ukiran yang memiliki nilai falsafah tertentu. Berbagai nama ukiran yang terdapat di rumah gadang aka cino, pucuak rabuang, itiak pulang patang, dan cancadu bararak, untuk sekedar menyebut contoh merepresentasikan falsafah hidup orang Minangkabau yang berguru kepada alam (Alam takambang jadi guru). Pembangunan rumah gadang juga merefleksikan sifat kegotongroyongan orang Minangkabau zaman lampau yang sangat kental, sebagaimana telah dikaji dengan mendalam oleh Marcel Vellinga dalam bukunya Constituting Unity and Difference: Vernacular Architecture in a Minangkabau Village (Leiden: KITLV Press, 2004). Sifat gotong royong orang Minangkabau itulah yang sudah memudar sekarang, berganti dengan sifat indivisualisme yang kadang-kadang melebihi orang Barat.

Rubrik Minang Saisuak kali ini menurunkan foto sebuah rumah gadang Minangkabau denganrankiang tinggi sitangka lapa di depannya. Foto ini dibuat oleh mat kodak Jean Demeni di Solok sekitar tahun 1915, seperti dapat dikesan dari judul foto ini: Een fraai Menang Kabausch huis te Solokyang berarti Sebuah rumah Minangkabau yang cantik di Solok. Foto ini dicetak dengan tekniklichtdruk oleh Winkel Maatschappij Paul Bumer & Co. di Padang.

Foto adalah sebuah artefak sejarah yang bisa berbicara banyak kepada kita hari ini. Selain merekamrumah gadang, foto ini juga merekam beberapa lelaki dan perempuan yang kelihatan memakai pakaian serba putih. Barangkali bahannya sejenis ganiah atau marekan yang murah pada masa itu. Tapi lebih dari itu, ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa Gerakan Paderi (1803-1837) telah mempengaruhi cara berpakaian orang Minangkabau dan juga cara mereka memilih warna pakaian. Orang yang berpakaian warna putih cenderung diasosiasikan dengan golongan agama dan yang memakai warna hitam diasosiasikan dengan golongan parewa atau golongan adat.

Dari penampilan fisik rumah gadang, dan dari cara membangunnya, tersimpan kearifaan masyarakat Minangkabau, seperti tersirat dalam pantun: Rumah gadang bari bapintu / Nak tarang jalan ka dalam/ Dibalun sagadang kuku / Dikambang saleba alam / Bago sagadang bijo labu / Bumi jo langik ado di dalam. Kini banyak orang yang sebesar balon raksasa (baca: sangat berkuasa), tapi di dalamnya hampa, kosong melompong, jauh dari sifat arif bijaksana, dan…bebal.

Suryadi Leiden, Belanda. (Sumber foto: Souvenir der Padangsche Bovenlanden. Padang: Winkel Mij. v/h P. Baumer & Co,19xx).

Singgalang, Minggu, 18 Desember 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: