Posted by: niadilova | 12/12/2011

KPM #58 – DIRENDANG PANAS TUJUH BULAN

Generasi Minangkabau kini sedang dilanda amnesia bahasa ibu (mother tongue). Mereka hidup dalam alam kebahasaan yang sama sekali tak nyambung lagi dengan alam kebahasaan Minangkabau yang simbolis yang kaya dengan kata-kata kiasan. Akibatnya mereka jadi gagu dengan kebudayaan sendiri, sampai ada yang memaki-makinya. Fenomena etnolinguistik inilah yang terefleksi dalam berbagai forum facebook group sekarang, semisal Pelurusan Adat Minangkabau yang berdasarkan ABS-SBK, Palanta RantauNet, Benarkah Adat Minang Berdasarkan Syarak?, dan lain sebagainya. Rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ dimaksudkan untuk memperkenalkan kembali kekuatan estetika Bahasa Minangkabau yang sebenarnya.

447.

Alah ilia rakik Si Ringan,

Alah anyuik puntuang suluahnyo,

Alah datang rokok kiriman,

Bak mano rupo batang tubuahnyo?

448.

Alah patang kironyo hari,

Alah kambang bungo pitulo,

Alah datang si rangkai hati,

Baru pulang darah ka muko.

449.

Alah datang si kapa api,

Pasang bandera ujuang tiang,

Kok datang si rangkai hati,

Hati di dalam tidak tanang.

450.

Basikek duduak di pintu,

Rambuik tajelo ka halaman,

Bari tarang Kualo Tiku,

Mukasuik nak lalu ka Pariaman.

451.

Urang manjalo maco jo gabua,

Jangan dibari batali banang,

Jago-jago si Anu tidua,

Jangan pabia lalok surang.

452.

Lumbo-lumbo tapuang galombang,

Babeleang  pucuak malapari,

Cubo-cubo batanam mumbang,

Kalau tumbuah suntiang nagari.

453.

Barabab batali tujuah,

Bagandang lalu ka tapian,

Sabab mumbang tak namuah tumbuah,

Dirandang paneh tujuah bulan.

454.

Tabang balam batali rotan,

Pangkek-bapangkek bungo jati,

Pajam gunung hilang daratan,

Balun dapek balun baranti.

Tiga bait pertama (b. 447-449) merekam suasana hati ketika seseorang yang ditunggu-tunggu dikabarkan akan datang dan akhirnya memang datang. Rokok kiriman sudah datang, tapi batang tubuhnya belum kelihatan (b. 447).

Rupanya pada suatu masa rokok kiriman menjadi satu simbol keinginan seseorang hendak berjumpa. Kita masih dapat melihat jejak tradisi ini sampai sekarang, misalnya dalam tradisi undangan menghadiri pesta perkawinan dengan rokok (untuk kaum laki-laki) dan sirih (untuk kaum perempuan).

Jika si ‘rangkai hati’ datang, dan wajah anda kembali bersemu merah (pulang darah ka muko), itu agaknya menyiratkan bahwa Anda dan dia sudah lama berkenalan, sudah saling tahu isi hati masing-masing (b. 448). Tapi kalau dia datang, lalu Anda salah tingkah dan gelisah (b. 449), ini menyiratkan Anda dan dia sepertinya belum lama kenalan, masih dalam tahap penjajakan.

Kiasan yang menggunakan alam perairan digunakan dalam bait 450. Pantun-pantun seperti ini sering digunakan dalam teks-teks sastra lisan seperti indang atau rabab Pariaman. Bait ini menggambarkan betapa orang dulu mempunyai sitinah ketika menempuh kampung orang lain, karena setiap orang tahu ‘tiok lasuang baayam gadang, salah tampuah buliah diambek’. Kini banyak orang telah melupakan adat ini.

Ada erotisme selembut sutra lagi dalam bait 451. Si aku lirik berpesan agar keluarga menjaga si jantung hati Anda yang terpaksa ditinggalkan. Anda berpesan jangan dia dibiarkan tidur sendirian. Tapi, tak usah saya eksplisitkan: di balik itu sebenarnya tersirat keinginan sendiri untuk seperaduan dengan si dia.

Berharap dari menanam sesuatu yang kecil dan tidak berarti akan muncul hasil yang besar, itulah refleksi bait 452. Dalam konteks ini sepertinya ada kaitannya dengan keturunan yang kelak akan menjadi ‘sunting negeri’ (orang yang menjadi kebanggaan dalam negeri). Dalam konteks lain ungkapan ‘cubocubo mananam mumbang’ berarti menanam suatu harapan kecil yang kelak diharapkan akan menghasilkan sesuatu yang besar. Bisa saja harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan, tidak membuahkan hasil (‘dirandang paneh tujuah bulan’) seperti terefleksi dalam bait 453.

Kekerasan hati dalam meraih suatu cita-cita (dalam konteks ini bisa berarti menaklukkan hati seorang gadis) terkilat dalam bait terakhir (454). ‘Sampai ke ujung dunia akan kucari’ – meminjam bait sebuah lagu. Boleh saja begitu asal ‘perkakas’ untuk berburu itu cukup. Kalau tidak, nanti Anda bisa kecewa dan akibatnya bisa putus pula ‘tali gitar’ Anda. Hati-hatilah! Saya dengar Rumah Sakit Gadut sudah penuh sekarang.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  11 December 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: