Posted by: niadilova | 28/11/2011

KPM #56 – BAGAI PIPIT TERBANG SEKAWAN

Dari pengamatan sementara, saya menyimpulkan bahwa kebanyakan pantun Minangkabau secara intrinsik tidak begitu mempedulikan persajakan dalam satu baris atau antar baris (aliterasi, asonansi, purwakanti, dan paralelisme). Yang lebih penting ditekankan hanyalah rima akhir. Dugaan ini perlu dibuktikan dengan kajian-kajian yang lebih dalam oleh para peneliti sastra Minangkabau. Di nomor ini saya sajikan lagi beberapa bait pantun muda Minangkabau yang dipetik dari berbagai naskah Minangkabau yang tersimpan di Leiden University Library, Belanda.

431.

Pacah palito urang alim,

Pacah ditimpo sarobannyo,

Takato ‘Astagfirullah al-azim’,

Urang bariman dicubonyo.

432.

Kamuniang di ampang tabek,

Dipungkang jo pinang kuniang,

Putih kuniang gigi bapapek,

Bulu mato panungkek kaniang.

433.

Payahlah kami nan babansi,

Nan barabab di bawah batang,

Payahlah kami dek mananti,

Apo sababnyo lambek datang?

434.

Gadang jambatan Tabek Gadang,

Tampaik mangaia basi-basi,

Sabab kami talambek datang,

Datang rasian dalam mimpi.

435.

Mangaia di Ujuang Karang,

Abih umpan kiraikan daun,

Sarik bajanji jo nan gadang,

Abih musim baganti taun.

436.

Usah taelo bulia padi,

Namun biduak manumpu juo,

Usah baibo-ibo hati,

Kalau iduik batamu juo.

437.

Batang Kapeh Tanjuang Barulak,

Di baliak kampuang  Sungai Nyalo,

Lapeh nan dari tangan burak,

Disemba buruang di udaro.

438.

Taruang darek di tapi sumua,

Nan dipapek kaki tindawan,

Janji arek dibao tidua,

Bagai pipik tabang sakawan.

Ada berbagai kemungkinan konteks bait 431: barangkali seorang saleh yang digaduah oleh seseorang, dalam arti cinta tapi bisa juga ilmu hitam. Biasanya dua hal ini memang menjadi pantangan mereka yang sedang memutuskan kaji dalam ilmu tarekat tertentu. Kedua-duanya adalah perlambangan duniawi yang harus dijauhi oleh seorang beriman yang mengejar ukhrawi.

Bait 432 dengan manis menggambarkan kecantikan wajah seorang gadis yang berkulit kuning langsat. Rupanya kuncinya antara lain ada pada gigi dan alis mata. Gigi bapapek mengingatkan kita pada tradisi mengikir gigi di masa lampau, yang sekarang masih bisa dilihat dalam budaya masyarakat Bali.

Bagaimanakah sesungguhnya alis mata yang ‘panungkek kaniang’ itu? Saya membayangkan alis mata yang agak melengkung ke atas seperti salah satu lereng Gunung Singgalang. Anda mungkin punya bayangan lain (misalnya seperti marawa yang sedang tegak). Yang jelas alis mata yang demikian itu tampaknya sungguh sangat enak dipandang.

Pantun berbalasan dihadirkan dalam bait 433 dan 444. Ada tanya yang merajuk dalam kedua bait ini: kenapa yang ditunggu-tunggu terlambat datang? Dijawab bahwa penyebabnya adalah rasian (mimpi) yang tiba-tiba datang mengganggu. Tampaknya mimpi itu menghadirkan keragu-raguan kepada si tamu untuk segera datang. Barangkali muncul syak dalam hati setelah mimpi itu datang: apa benar si dia serius atau sekedar main-main?

Kasih yang terhambat oleh perbedaan kelas sosial terefleksi lagi dalam bait 445: seorang biasa yang jatuh hati kepada seorang yang status sosialnya lebih tinggi. Sudah berbilang musim berganti tahun belum juga ada kepastian darinya kapan lamaran akan didatangkan kepada mamak dan keluarga matrilinealnya. Yang sering diterima hanya kata ‘tunggu dulu’, ancik ka ancik, dari beko ke bisuak. Bukankah sudah ada ungkapan lama yang mengatakan bahwa sebaiknya si pungguk jangan rindukan bulan. Namun si pencundang tampaknya dihibur dalam bait berikutnya (446): kalau jodoh tentu tidak ke mana; jika umur masih sama panjang, mudah-mudahan keduanya akan bertemu juga. Tapi wanita sekarang butuh kepastian (cepat), berkat gerakan kesetaraan gender barangkali, tidak seperti wanita dulu yang sabar menunggu dalam penantian yang panjang.

Wanita cantik rupanya memang selalu menjadi rebutan. Faktanya sering terlihat jelas dalam masyarakat kita, juga di kampung saya di mana sekarang seorang janda kembang sedang diperebutkan oleh para juragan dan parlente kampung. Fenomena itu dikiaskan dalam bait 447: baru lepas dari tangan seorang yang cukup terpandang (burak) segera sesudah itu sudah digunggung pula oleh orang lain (buruang). Jika Anda mau ikut pula dalam ‘kompetisi’ ini, rosokrosoklah dulu isi kantong Anda.

Kiasan yang manis dihadirkan dalam bait 448: janji erat dibawa tidur bagai burung pipit terbang sekawan. Pernahkah Anda memperhatian pipit terbang sekawan mencari padi yang masak? Lihatlah: terbangnya berpulun-pulun berpilin-pilin seperti tak mungkin akan lepas satu sama lain. Padu, tidak bisa dicerai-beraikan. Pemantun yang handal tidak memerlukan kata-kata denotatif untuk dan konkrit untuk menggambarkan erotisme. Mudah-mudahan Anda kini mengerti bagaimana erotisme diungkapkan dalam pantun Minangkabau.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  27 November 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: