Posted by: niadilova | 21/11/2011

KPM #55 – MENARUH ‘DENDAM’ BELUM SUDAH

Menurut Muhammad Haji Salleh dalam artikelnya “Sailing the Archipelago in a boat of rhymes”, Wacana 13(12), 2011:80, arketip pantun Nusantara berasal dari Kerajaan Sriwijaya dan bentuk puisi ini kemudian diturunkan ke wilayah sekitarnya, termasuk ke Minangkabau, sebelum menyebar lebih luas lagi ke daerah-daerah lain du dunia Melayu. Sebagai ‘ancestral home’ Bahasa Melayu – memimjam kata-kata William Marsden (1807) – Bahasa Minangkabau (termasuk genre pantunnya) memang menarik untuk diteliti. Tugas saya menyajikannya kepada para pembaca, tugas orang pandailah untuk menelitinya lebih dalam.

423.

Diabuih daun sapalapah,

Dikarek agak sapaduo,

Tujuah ratuih urang managah,

Sakandak hati kito baduo.

424.

Kain putiah barendo perak,

Baolah naiak ka parahu,

Tampuahlah aia jangan bariak,

Nak nakhoda jan sampai tau.

425.

Gajah langkok gadiang suaso,

Dulang nan jangan diampehkan,

Bia hancua tidak mangapo,

Nan Kuniang jangan dilapehkan.

426.

Baladang di Padang Laweh,

Janguangnyo bao ka tapian,

Tuan maadang lauik lapeh,

Ambo manangguang paratian.

427.

Usah kito duduak maajun,

Mari kito duduak ka tangah,

Usah kito rintang di pantun,

Mari kito pulang ka rumah.

428.

Batu Mundam disangko pulau,

Urang Siam duo barakik,

Rindu dandam bao bagurau,

Dibao diam jadi panyakik.

429.

Takabek pimpiang di balimbiang,

Itu sangakaran balam tabu,

Takilek cincin di kalingkiang,

Itulah ubek hati rindu.

430.

Lubuak Tumangguang kayu jati,

Kapa balayia dari Judah,

Duduak tamanung kanai hati,

Manaruah dandam balun sudah.

Hati keras, semangat baja, begitu biasanya sifat yang diperlihatkan oleh sejoli yang sudah berjanji sehidup semati. Itulah refleksi bait 423. Kalau memang sudah bajanji arek, silakanlah pertemukan ninik-mamak dari kedua belah pihak. Sekarang bukan Zaman Siti Nurbaya lagi. Namun demikian, perlu diingat: hadapi segala konsekuensi dari pilihan sendiri.

Kiasan yang halus dapi bercahaya bagai kelemayar disampaikan dalam bait 424: rahasia hati Anda berdua dengan dia jangan sampai diketahui oleh orang lain; kalau manyuruak ilangilang. Kata ‘nakhoda’ yang dipakai di sini menyiratkan bahwa konteks pantun ini sepertinya kisah cinta segitiga: ‘selingkuh’ kata orang sekarang.

Bait 425 merefleksikan pengorbanan yang besar untuk orang yang sangat dicintai (Nan Kuniang). Memang kalau Anda sangat sayang kepadanya, sudah seharusnya Anda berkorban – harta, benda, dan kalau perlu nyawa. Kalau bukan begitu, bukan setia namanya.

Bait 426 dengan manis mencatat perasaan sepasang kekasih atau suami-istri yang akan berpisah berbilang tahun. Si lelaki akan menghadang laut lepas (baca: perjalanan yang panjang penuh bahaya menuju rantau), sementara si kekasih akan tinggal di kampung menanggung rindu (manangguang paratian). Bait ini merekam lagi tradisi merantau etnis Minangkabau yang khas itu.

Konteks bergurau pantun terungkap dalam bait 427. Tampaknya pantun muda Minangkabau, seperti yang disajikan dalam rubrik ini sejak dari nomor pertama sampai nomor 55 ini, aslinya dipresentasikan dalam acara keramaian, seperti pesta perkawinan, di mana muda-mudi saling bertemu. Seperti terefleksi dalam bait ini: sudah terlalu lama bergurau dan saling memantun. Hari sudah larut, lebih baik pulang ke rumah masing-masing sambil membawa perasaan gembira.

Bait 428 juga mengandung gurauan: rupanya pantun adalah bagian untuk bersenda gurau menghibur diri. Kata para ahli, seni memang mengandung katarsis, semacam obat yang tidak perlu diminum dengan air. Ingin kita melihat suasana seperti itu lagi kini. Tapi anak muda zaman sekarang sering melupakan kesedihan dengan berteman dengan Ganjo, Jenewer dan Putau.

Cincin yang terkilat di kelingking si dia sudah cukup untuk mengobat hati yang rindu (bait 429). Barangkali cincin itu dibelikan oleh sang kekasih. Yang jelas cincin itu bukan cincin tunangan karena tidak dipasangkan di jari manis. Tentu saja Anda akan ingat ketika si dia memasangkan cincin itu di jari runcing bulu landak Anda sebelum dia berangkat ke rantau.

Kanai hati tapi cinta bertepuk sebelah tangan, memang terasa menyakitkan. Si dia akhirnya digunggung oleh orang lain. Itulah refleksi bait 430. Jika ini yang tersua oleh para pembaca setia rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’, saya harap Anda bertawakal dan bersabar. Orang sabar dikasihi Allah SWT.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 20 November 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: