Posted by: niadilova | 14/11/2011

KPM #54 – TOLONG DAYUNGKAN DALAM HATI

Bagi pengkaji estetika literer Minangkabau, misalnya pada dosen dan mahasiswa Program Studi Bahasa & Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, sesungguhnya pantun Minangkabau adalah gudang data yang berlimpah. Lebih dari itu, pantun Minang juga dapat dijadikan salah satu sumber untuk menyusun Kamus ‘Webster’ Minangkabau yang mencatat segala bentuk kosakata Minangkabau, baik yang arkhais maupun yang modern. Sajian kami kali ini menghadirkan lagi beberapa bait pantun klasik Minangkabau.

416.

Pakan Salasa daulunyo,

Kini manjadi Ujuang Tanjuang,

Ubek panawa daulunyo,

Kini manjadi biso taduang.

417.

Si Akuik anak kawan rajo,

Mambao padang dengan podi,

Tidak dimukasuik disangajo,

Mangko tolan datang kamari.

418.

Si Akuik anak kawan rajo,

Mambao tombak dangan rumin,

Tidak dimukasuik disangajo,

Dibao ombak dangan angin.

419.

Anak murai di ateh batu,

Rabuang dipapek jo sambilu,

Dek Tolan matilah aku,

Taduang di balik kalang ulu.

420.

Rabuang dipapek jo sambilu,

Tidak pandan katayo lai,

Taduang di baliak kalang ulu,

Tidak manaruah biso lai.

421.

Balayia kapa ka Siantan,

Balabuah tantang Indogiri,

Layiakan ambo dalam badan,

Tolong dayuangkan dalam hati.

422.

Tabang sikok di tapi sumua,

Tabang ditimpo angin ribuik,

Tabik paja singkoklah timua,

Tingga Nan Kuniang di salimuik.

Bisa taduang adalah sejenis racun yang sangat mematikan. Jarang orang yang tak rapun jika terkena olehnya. Bait 416 menghadirkan dikotomi sifat seorang yang dulu sangat mencintai Anda tetapi belakangan berbalik 180 derajat memusuhi Anda melalui kata panawa (penawar) dan biso (bisa/racun) yang saling bertentangan. Cukup jelas di sini bahwa konteksnya adalah cinta yang berbalik menjadi benci.

Bait 417 dan 418 bercerita tentang kehadiran seseorang di satu tempat tanpa disengaja. Ia mengatakan bahwa dirinya kesasar (dibao ombak dengan angin). Namun, orang Minang yang tahu di siratan kata akan paham bahwa maknanya adalah sebaliknya: kedatangannya justru memang dimaksud disengaja. Kita tahu bahwa orang Minang adalah pesilat lidah yang handal (Sayang kini main banyak yang bebal). Jika pantun seperti ini kita dengar dalam pasambahan menjemput marapulai misalnya, maka kita tahu bahwa maksudnya adalah mengelakkan simpai kata yang dipasang oleh lawan bicaranya. Dalam pasambahan Minang setiap kata lawan adalah jarek patiang, dan setiap jarek tak mesti dilekkan dengan lari, tapi cukup dengan gelek.

Menaruh api dalam rabuak, ada musuh dalam selimut: itulah makna yang terkandung dalam bait 419, yang tampaknya masih berkaitan dengan makna yang terkandung dalam bait 417. Kalau dianalogikan kepada hal yang kontemporer: ibarat agen rahasia ganda yang ditanam dalam dinas intelijen sebuah negara. Di depan kita dia bermulut manis, tapi di belakang kita dia berubah menjadi musuh.

Orang bagak yang sudah kehilangan taji, preman besar yang sudah kehilangan pengikut dan kini dilecehkan: kurang lebih itulah refleksi bait 420. Tak ada yang ditakutkan orang lagi padanya. Tuah dan kuasa sudah hilang. Kalau meminjam fenomena sekarang: pejabat yang dulu mamacik tapi akhirnya tergerajai jatuh akibat perubahan politik, lalu dilirik orang pun tiada lagi. Memang tak ada yang abadi di dunia ini. Maka tak ada yang lebih baik dalam hidup ini selain menjauhi sifat sombong.

Betapa eloknya terasa gaya bahasa bait 421 hanya untuk mengatakan ‘kenanglah diriku sebisamu’ – meminjam kata-kata Chairil Anwar. ‘Lupakan aku ketika kamu sedang bahagia, tapi ingatlah diriku ketika hatimu sedang bersedih’ – meminjam kata-kata anak muda sekarang yang lagi mabuk kasmaran.

Bait terakhir mengandung erotisme literer Minangkabau: tipis seperti kabut pagi di Alahan Panjang tapi mencucuk tulang. Memang kalau cinta istri dan keluarga, jangan tidur sampai tinggi hari. Bangunlah pagi-pagi dan pergilah bekerja. Tinggalkan istri tercinta (Nan Kuniang) di rumah. Bawa pulang uang untuk dia di sore hari. Suami menafkahi istri, demikian menurut ajaran Islam. Namun sekarang konon sudah banyak pula suami yang sukanya hanya ongkang-ongkang kaki di rumah atau badimino sepanjang hari di lapau Ajo Badek, sementara istrinya lebih giat bekerja. Beli rokok dan beli kopi dijatah oleh istri. Mungkinkah trend ini efek dari deman menjadi TKW di luar negeri? Entahlah. Yang jelas, kalau biasanya ‘kapal yang meninggalkan pelabuhan’, maka kini ‘pelabuhan yang meninggalkan kapal’. Memang di zaman edan ini, makin banyak saja yang ganjil-ganjil yang tersua.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  13 November 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: