Posted by: niadilova | 07/11/2011

KPM #53 – PUTUS JANTUNG PENGARANG HATI

Pantun mungkin berfungsi pula sebagai formula pengingat dalam satu masyarakat yang bersandar pada tradisi lisan seperti etnis Minangkabau. Dalam masyarakat yang hidup dalam kelisanan (orality) terdapat sistem cara mengingat, menyimpan, dan mentransfer ilmu yang berbeda dengan masyarakat yang bersandar pada tradisi keberaksaraan (literacy) seperti di Barat. Hakikat kelisanan dalam pantun belum sepenuhnya terungkap. Kajian-kajian yang belum tuntas mengenai hubungan antara sampiran dan isi dalam pantun masih memberi ruang untuk melihat kembali bagaimana sebenarnya fungsi genre ini sebagai media pengingat, penyimpan, dan penurunkan ilmu dan kebijakan-kebijakan dalam mayarakat Minangkabau dan Melayu pada umumnya yang hidup dalam tradisi lisan yang kuat. Di nomor ini kita lanjutkan menikmati alam pantun Minangkabau yang menawan itu.

409.

Tinggi bukik Gunuang Kudandam,

Gunuang Bulang gampo sabalah,

Anak mudo diaru dandam,

Nak sumbayang takbirnyo salah.

410.

Pulai di ulak Batu Mandi,

Alah rampak manjulai pulo,

Basuo kito nan ka lai,

Nan carai ka mulai pulo.

411.

Gulai pariyo paik-paik,

Apo dibuek parancahnyo?

Tolan tamusahua sampai ka langik,

Mano sadikik faedahnyo?

412.

Alah putuih tali katidiang,

Tampan talunggang malah padi,

Alah dapek kawan sairiang,

Tampan tabuang kironyo kami.

413.

Bungkuih banamo sapu tangan,

Babuhua ujuang ka ampeknyo,
Buruang banamo Ganggo Aman,

Musim pabilo kadapeknyo.

414.

Layang-layang manyemba suntiang,

Tampak nan dari subarang ko,

Anguih hatiku bak diguntiang,

Maliek anak nan surang ko.

415.

Si Upiak di Bangkahulu,

Pandai mangarang bungo padi,

Manembak tidak bapiluru,

Putuih jantuang pangarang hati.

Ada unsur gurauan dalam bait 409. Kalau seorang (anak muda) sedang rindu berat (diaru dandam) kadang-kadang berpengaruh besar pada jiwa dan badannya. Tampaknya si anak muda memang sedang kebelet cinta sehingga sampai-sampai takbirnya salah waktu shalat. Pantun ini juga menyiratkan dikotomi profan dan sakral dalam dunia seni Minangkabau: dalam pantun yang bersifat profan (duniawi), kadang-kadang unsur-unsur yang terkait dengan agama (ukhrawi) pun dijadikan bahan gurauan.

Baru jumpa tapi rupanya sudah harus berpisah lagi. Belum lepas rindu dendam rupanya si dia sudah harus pergi lagi. Tampaknya dia hanya dapat bertemu dengan Anda karena kebetulan dia lagi transit. Barangkali si dia kerja jadi anak kapal. Pertemuan sesaat yang dirindukan tapi juga bikin penasaran, demikianlah refleksi bait 410.

Bait 411 mungkin biasa diucapkan oleh seseorang kepada temannya yang sudah sukses, yang sudah mamacik, tapi lupa kepadanya. Bait ini kontekstual sekali dengan Minangkabau: di negeri ini kalau seseorang kaya atau pandai tapi tidak bermanfaat untuk orang kampung, famili, dan teman-teman selapik seketidurannya dulu di surau, maka dengan cepat akan keluar ungkapan: ‘Kok kayo, kayo sorang se lah, kok pandai pandai sorang se lah, nan awak indak ka mamintak.’ Memang sering kejadian bila seseorang sudah berhasil dalam hidupnya, dia bisa lupa kepada teman-temannya. Kadang-kadang sudah berjumpa di jalan, tapi dia menaikkan kaca hitam oto sedannya. Janganlah lupakan kawan lama walau Anda sudah sukses.

Ada suara si pencundang lagi dalam bait 412. Si dia rupanya sudah dapat ‘pameman’ yang baru. Datak hati ateh pado tanuang: sudah berdetak hati Anda bahwa diri Anda tampaknya segera akan ditinggalkan. Tak tahu mengapa justru setelah Anda membelikannya BlackBerry baru, dia malah mulai menampakkan tanda-tanda ketidaksetiaan. Itulah refleksi bait ini.

Bait 413 mengambil perumpamaan burung lagi untuk melambangkan seorang gadis yang jadi rebutan pemuda sekampung. Nama burung ‘ganggo aman’ ini disebut dalam beberapa bait pantun dalam nomor-nomor sebelumnya, tapi belum jelas benar oleh saya jenis burung apa ini? Yang jelas, tampaknya ini sejenis burung yang indah dan mungkin bersuara bagus, sehingga sering diambil menjadi perlambangan untuk wanita. Bait ini merepresentasikan suara lelaki yang sangat mengidam-idamkan seorang wanita cantik, tapi si cantik bunga desa itu tak kunjung jatuh ke haribaannya.

Hiperbol yang manis muncul lagi dalam bait 414: kata ‘hangus’yang biasanya asosiatif dengan api kini disandingkan dengan kata ‘gunting’. Terjadi lompatan horizon harapan pembaca. Rupanya lenggang si ‘Kuning Lampai’ bunga desa itu menimbulkan tsunami dalam hati si pemuda (si aku lirik). Barangkali ada pembaca setia rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ yang pernah atau sedang mengalami hal yang sama. Makan tak enak, tidur parti tak nyenyak.

Barangkali si pemuda harus meminta bantuan Dewi Amor, seperti disarankan dalam bait terakhir (415). Maksud bait ini tiada lain untuk menggambarkan seorang yang hatinya telah terkena panah asmara: mandamam dibuatnya. Mungkin lagu ‘Ubekkan Denai’ cocok untuk menggambarkan gelora hati yang sedang diaru dandam ini: ‘Ubekkan denai, suaokan denai, basuo mako sanang di hati’, kata Elly Kasim. Anda mungkin pernah pula mengalaminya: lah dilampok jo tapak tangan, di salo jari tampak juo. Kalau sudah begini keadaannya, bilang sajalah terus terang kepada mamak kepala waris, supaya lamaran segera disampaikan. Anda dan si dia diam sajalah dulu. Kalau sudah sampai pada tahap ini, itu sudah menjadi urusan keluarga besar matrilineal, ipabisan, dan andanpasumandan.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  6 November 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: