Posted by: niadilova | 24/10/2011

KPM #51 – HINGGAP DI DAHAN KENA GETAH

Masyarakat Minangkabau sekarang mestinya masih bersyukur bahwa khazanah pantun masih lagi dihidupkan oleh para tukang bagurau, tukang rabab Pariaman, pencipta lagu-lagu pop Minang, dan lain sebagainya. Kadang-kadang kita melihat bahwa telah muncul penggunaannya pada konteks yang baru. Namu itu wajar mengingat zaman beralih musim bertukar. Di nomor ini kami sajikan lagi bait-bait pantun klasik Minangkabau yang merekam semangat zamannya.

394.

Pacah cawan ditimpo cawan,

Pacah ditimpo limau kapeh,

Patamukan awan samo awan,

Itu banamo bungo cangkeh.

395.

Usah ditahan tabiang runtuah,

Kalau ditahan ditimponyo,

Usah ditahan hati rusuah,

Kalau ditahan digilonyo.

396.

Dibahan tidak tabahan,

Balam nan tidak talimbuangkan,

Ditahan tidak tatahan,

Malam nan tidak tatiduakan.

397.

Binaso pandan dek api,

Api nan tidak tapadami,

Binaso badan dek hati,

Hati nan tidak tatahani.

398.

Pacah balah batu di gunuang,

Angku Kapalo bajalan malam,

Aduhai Allah tidak tatangguang,

Raso tidak dikanduang alam.

399.

Dirajah dicancang talang,

Daun limau aku ruruik’i,

Kok santano bak alang tabang,

Ka langik ijau aku turuik’i.

400.

Parapati batalua ijau,

Manateh di tapak tangan,

Siki tabang ka langik ijau,

Ujuang tali di tapak tangan.

401.

Tandikek kayu tandikek,

Jangan tatakiak kayu bagatah,

Tabang ka langik kanai pikek,

Inggok ka dahan kanai gatah.

Bait 394 telah menjawab pertanyaan kiasan di ujung bait edisi yang lalu (no.50, 16-10-2011). Awan putih yang bergelombang memang ibarat putihnya bunga cengkeh yang sedang mekar. Senang hati dan sejuk mata melihatnya. Putihnya awan atau bunga cengkeh tentu dapat dilihat, putih hati berkeadaan.

Keluh kesah menahan hati terefleksi lagi dalam bait 395 – 397. Jelas sekali bahwa penyebabnya bukan pertama-tama oleh faktor ekonomi, tapi lagi-lagi oleh masalah cinta. Ini terefleksi dari baris isi bait 397: binasa badan oleh hati. Tampaknya keinginan si aku lirik untuk bertemu dengan orang yang dirindukannya terhalang oleh sesuatu. Mungkin halangan itu datang dari pihak keluarga salah satu pihak atau dari pihak lain. Yang jelas, ada rindu yang tak terlepaskan. Siapa yang mengalaminya tentu merasakan dunia ini seolah akan terban.

Bait 398 merefleksikan penderitaan berat yang dialami oleh seseorang. Konsteksnya bisa soal cinta, bisa juga bisa soal ekonomi. Tapi mungkin lebih menarik menghubungkannya dengan yang terakhir, di tengah carut-marut pengelolaan negara yang tidak berkeruncingan ini.

Pantun yang disampaikan dalam hiperbol yang bagus ini sudah sering kita dengar. Namun demikian, masih saja kurang jelas bagaimanakah rasanya bagai tidak dikandung alam? Mungkin kaki tidak merasa berjejak di bumi, semangat terasa terbang ke langit hijau.

Begitu berat penderitaan dan begitu besar penanggungan si aku lirik. Tak ada lagi orang yang bisa dimintai pertolongan. Dunsanak sudah menjadi orang asing. Negara pun sudah berlepas tangan. Rezim reformasi yang bertopeng demokrasi lebih uedhan lagi dari rezim otoriter Orde Baru. Maka, makin sempurnalah nasib mereka yang ridak berpunya di negeri ini.

Bait 399 sangat manis hiperbolnya: Seandainya aku bisa terbang bagai elang, ke langit hijau akan aku turuti. Suatu ungkapan yang merefleksikan kesetiaan yang sejati dan tekad yang besar. Namun, tampaknya si aku lirik tidak memiliki cukup syarat untuk mewujudkannya. Rupanya ia masih berandai-andai: kok santano….

Bait 400 mengilatkan seorang yang sudah tak mungkin lagi lari dari Anda karena Anda sudah memegang tali kalawan-nya. Ibarat yang digunakan di sini adalah orang melepas layangan: layangan membubung ke langit hijau, tapi ujung tali untuk mengendalikannya ada di tangan Anda. Jelasnya, ini sebuah kiasan yang bagus yang menggambarkan kesetiaan hubungan cinta antara suami-istri atau kekasih. Tapi pada masa lampau kiasan seperti ini sering juga dihubungkan dengan pemberian pekasih oleh seseorang kepada pasangannya. Tak tahu saya apakah kini masih ada orang di Minangkabau ini yang memberikan cirik barandang kepada suaminya. Sudah tidak mode euy, Piak!

Bait terakhir sungguh pekat hiperbolnya. Bait ini menggambarkan situasi seseorang yang tidak dapat mengelak lagi, sudah kena fait accompli; ibarat jerat, makin digarik makinsantuang. Kata burung terbang yang terefleksi pada bait ini jelas menghubungkan pikiran pembaca dengan gadis atau perempuan. Jadi, bait ini merefleksikan cinta atau pinangan yang tak mungkin ditolak lagi. Kalau sudah begitu, lah di sinan jodoh Anda tumah. Terima sajalah, siapa tahu itu awal sebuah kebahagiaan seumur hidup. Banyak yang kawin pacaran, tapi akhirnya cerai juga.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 23 Oktober 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: