Posted by: niadilova | 26/09/2011

KPM #47 – DIGUYU LALU DIGAMANGKAN

Muhammad Haji Salleh dalam artikel terbarunya, “Sailing the Archipelago in a boat of rhymes: Pantun in the Malay world”, Wacana, Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya FIB Universitas Indonesia 13.1 (April 2011: 78-104) mengatakan bahwa pantun bermula dari sumber yang tidak jelas lalu menyebar ke seluruh dunia Melayu, pertama dalam bahasa Melayu, kemudian ke berbagai bahasa lokal lainnya di Asia Tenggara. Menurutnya, pantun ditemukan paling tidak dalam 40 dialek bahasa Melayu dan 35 dialek bahasa-bahasa non Melayu. Pantun Minangkabau jelas salah satu yang menonjol di antaranya. Walau bagian dari dialek bahasa Melayu, pantun Minangkabau memiliki estetika sendiri. Dalam rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ nomor 47 ini, kami sajikan lagi beberapa untai pantun klasik Minangkabau untuk pembaca setia Padang Ekspres edisi Minggu.

366.

Kabau den nan panjang tanduak,

Nan bakabek sambilan tali,

Adiak den nan panjang abuak,

Nan minyak di tangan kami.

367.

Apo dirandang di kuali,

Padi sipuluik tulang ladang,

Apo diarok pado kami,

Ameh tidak banso pun kurang.

368.

Bulan tabik bintang bacahayo,

Turun gagak makan padi den,

Singgah mamakan padi Jambi,

Kok tolan indak picayo,

Tariak rencong balah dado den,

Manyilau jantuang putiah hati.

369.

Kain ameh deta kasumbo,

Sarawa guntiang ‘rang Batawi,

Jaiktan Sutan Kampuang Perak,

Dijaik sadang tangah hari,

Iliakan pasia Kampuang Lato,

Singgah ka rumah jurumudi,

Batang ameh rantiang suaso,

Buahnyo intan dengan pudi,

Pucuak dihuni buruang merak,

Urek dilingka nago sati,

Pipik nak inggok ka rantiangnyo,

Lai ko raso ka manjadi?

370.

Babelok aia di Mingkudu,

Babelok lalu diganangkan,

Ijuak panyaga kulik manih,

Samak rimbonyo padi Jambi,

Taga dek pandai malatokan,

Ka Puruih pandan manjarami,

Tidak patuik tolan baitu,

Diguyu lalu digamangkan,

Dipujuak lalu dipatangih,

Sangaik taibo hati kami,

Taga dek pandai mangatokan,

Kuruihlah badan maidok’i.

Nada merayu yang khas menggema lagi dalam bait 366. Si gadis rambut ekor kuda tentu memerlukan minyak kelapa tanak untuk membuat rambut panjangnya yang hitam legam itu selalu berkilat dan mudah disisir. Tapi minyak itu ada di tangan seorang perjaka. Maka tak ada cara lain selain si gadis harus ‘mendekat’ kepada di pemuda itu. Saling butuh, kata orang sekarang.

Ada suara nelangsa si pecundang lagi dalam bait 367: rupanya emas dan derajat sosial juga yang dipandang orang. Suara rendah diri ini sering menggema dalam pantun-pantun muda Minangkabau. Barangkali sampai batas tertentu ini merefleksikan orientasi materialistis masyarakat Minangkabau, seperti terungkap dalam satu ungkapan: ‘Dek ameh juo mako kameh, dek padi juo mako jadi’ . Bait ini seolah ingin mengatakan bahwa seseorang tak akan dipandang orang jika tidak beremas. Maka bergedurulah di bujang Minang pergi merantau dengan cita-cita suatu saat akan pulang nanti dengan sedan berkilat dan saku padat.

Hiperbol dalam bait 368 mungkin sering dipakai oleh orang yang sedang jatuh cinta berat. Si dia diminta oleh kekasihnya membelah dadanya agar dapat melihat betapa kasih sayang sang kekasih hanyalah untuk dirinya seorang. Mudah-mudahan suruhan seperti ini jangan dimaknai secara harfiah, bisa-bisa membunuh orang kita jadinya nanti. Bait ini mengilatkan bahwa tak ada yang bisa dipercaya dalam diri manusia selain hatinya. Akan tetapi hati pulalah tempat yang paling penuh rahasia dalam raga manusia. Lihatlah betapa banyak idiom yang terkait dengan hati ini dalam bahasa Minangkabau: ‘kanai hati’, ‘patah hati’, ‘makan hati’, ‘lapang hati’, ‘sampik hati’, ‘baiak hati’, ‘jantuang hati’‚ ‘sakik hati’, ‘putiah hati’, ‘ibo hati’, ‘sanang hati’, dll.

Pantun panjang 12 baris pada bait 369 menggemakan suara si pecundang lagi. Kiasan pada bait ini terasa sangat mengena: si dia berasal dari kelas sosial atas (orang berada) yang diibaratkan seperti sepohon kayu dari sorga yang berbatang emas dan beranting suasa, berbuah intan dengan podi, di pucuknya bersarang burung merak yang cantik, dan di pokoknya melingkar ular naga sakti yang selalu siap membinasakan siapa saja yang mendekat ke pohon itu. Sementara si pecundang hanyalah manusia dari kelas rakyat berderai, ibarat burung pipit kecil yang lemah. ‘Tak mungkin rasanya kita akan dapat hidup bersama’, batinnya.

Bait terakhir (370), yang juga berupa pantun panjang, mungkin rancak dibaca oleh si pencinta yang tidak setia, guna dijadikan iktibar: bahwa tidak elok bermain-main tidak berkeruncingan dengan cinta. Pasti akan ada yang terluka hatinya. Luka tangan dapat diobati, luka hati susah memperoleh obatnya. Janganlah suka mengguyu (menggoda) tetapi bila dia sudah terlanjur suka, lalu Anda berlalu cigin kepada yang lain. Pasti si dia akan terhiba hatinya (tarumuak). Tak elok membuat anak gadis orang jadi sedu sedan dan berurai air mata dalam kalumun. Di lahir si dia menunjukkan kegembiraan seperti biasa, tapi di batin sebenarnya dia merana. Siapa pun pembaca rubrik setia ‘Khazanah Pantun Minang’ harus menghindari sifat yang tidak baik ini. Percayalah, orang yang suka mempermainkan hati orang lain bisa terkena karma santuang palalai.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  25 September 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: