Posted by: niadilova | 19/09/2011

KPM #46 – SETAPAK TIDAK BERCERAI

Di zaman modern ini, di mana masyarakat Indonesia, termasuk Minangkabau, sudah menjadi masyarakat elektronik (electronic society), genre sastra tradisional seperti pantun mungkin sudah terdesak oleh genre-genre lain yang datang dari luar. Namun demikian, dalam ranah budaya, tampaknya pantun masih terpakaikan, misalnya dalam lirik lagu-lagu pop Minang, dalam pasambahan untuk berbagai macam tujuan, dan malah dalam teks-teks ucapan Selamat Lebaran: “Assalamualaikum ww.wb. //Rumah gadang maimbau pulang/ tanah rantau Manahan hati/jikok salah talampau gadang/ maaf dipintak satulus hati. // Arok padi batamu lasuang/tasuo bareh lah jadi nasi/ arok hati batamu lansuang/ hanyo SMS kaganti diri. // Batang rambutan tinggi manjulang/ dahannyo patah tolong kamehkan / di Hari Rayo ko kami ndak pulang/ salah jo khilaf tolong maafkan.// Selamat Idul Fitri 1432 H. Minal’aidin walfaizin” tulis sebuah SMS yang saya terima. Sejuk rasanya hati mendapat SMS lebaran berona pantun itu. Minggu ini kami sajikan lagi serenjengan pantun Minangkabau klasik untuk pembaca setia rubrik ini. Selamat menikmati.

359.

Ilia maampang Batang Masang,

Baladang malereang tabiang,

Tanamlah naneh jo bukunyo,

Jangan barabuik jo baragang,

Harato urang takuik sumbiang,

Bangih beko urang nan punyo.

360.

Padi kok badorong masak,

Sipuluik tuai daulu,

Anak kunci sambilan pasak,

Alah sudah ungkai daulu.

361.

Anak urang di Tanjung Alai,

Tabang binalu banyak-banyak,

Pado bacarai jo nan lanjai,

Amuah bacarai jo nan banyak.

362.

Badarun tabang tampuo,

Badatak batang anjalai,

Sataun tidak basuo,

Satapak tidak bacarai.

363.

Kok riak riam dahulu,

Aia tanang kito jaloi,

Kok indak diam daulu,

Molah kini kito muloi.

364.

Karambia sabuah butun,

Ditanak Sutan Duano,

Dilahia di lua hukum,

Di batin kami nan punyo.

365.

Pitih sakupang di Pangkalan,

Den ambiak panuka kapeh,

Mingkudu di parak tingga,

Hati lah tunggang nak bajalan,

‘Rang kampuang suko malapeh,

Nan Kuning jo sia tingga?

Ada peringatan halus dalam bait 359 kepada para pemuda yang sedang berkompetisi menarik perhatian kembang desa yang tampaknya sudah bertunangan. Sebaiknya jangan berebut dan jadi ribut karenanya. Itu bisa merusak suasana, baik secara pribadi maupun sosial. Lebih baik mengakui kekalahan dan cari gadis yang lain.

Kiasan pada bait 360 cantik sekali: suatu ungkapan betapa proteksi kuat terhadap si gadis – yang diibaratkan sebagai  ‘anak kunci sembilan pasak’ – berhasil juga dibobol oleh si pemuda yang memburu hatinya. Mudah-mudahan trik yang digunakan benar-benar murni, bukan dengan pertolongan capakcapak baruak.

Bait 361 menghadirkan hiperbol yang manis pula: tampaknya si kuning lanjai (semampai) lebih penting daripada orang banyak. Memakai bahasa anak muda sekarang: ‘peduli amat apa kata orang’. Tapi dalam konteks ini, si pemantun ingin menggambarkan betapa besarnya kasih sayang si dia kepada si kuning lanjai itu. ‘Indak talok dilarai lai’, kata orang sekarang.

Bait 362 tak kalah cantik bahasa sastrawinya. Bait ini mengilatkan betapa jarak geografis sebenarnya tak berarti apa-apa bagi si pencinta yang sangat setia: walau setahun tidak bertemu (secara fisik), tapi setapak tidak pernah bercerai (dalam ingatan). Mungkin kasih sayang sekaliber ini sulit ditemukan sekarang, baik dalam dunia nyata apalagi dalam sinetron. Yang banyak sekarang justru sebaliknya: ‘baru baganggang [fisik] lah bacarai [hati]’.

Ada permohonan untuk mendapatkan kepastian cinta dalam baik 363. Si dia tampaknya memberi sinyal yang mengawang dan tak jelas: mau serius atau hanya sekedar berteman? Makanya si pengharap berkata: yang pasti-pasti saja. Kalau betul serius, mari sekarang kita mulai. Ini tampaknya semacam sindiran kepada anak muda yang suka plin-plan dan ragu-ragu.

Bait 364 juga terasa indah, walau secara sosial isinya penuh kontradiksi. Tapi dalam kenyataan hidup mungkin sering ditemukan bahwa tubuh kasar sudah jadi milik seseorang, tapi hatinya milik orang lain. Dulu apa yang diungkapkan dalam bait ini banyak ditemukan dalam kasus kawin paksa: badan rancak Sitti Nurbaya sudah jadi milik Datuk Maringgih, tapi batin yang bersemayan dalam tubuh rancak itu sesungguhnya milik Samsulbahri. Fenomena seperti ini bukan tak ada sekarang, tapi konteks dan faktor penyebabnya bukan lagi soal kawin paksa.

Keragu-raguan si calon perantau terefleksi dalam bait terakhir (365): orang se-nagari dan keluarga matrilineal sudah memberi izin. “Merantaulah dulu waang ke Jawa, karena di kampung berguna belum”. Tapi tekad bulat itu jadi goyah begitu melihat bubungan atap Puti Lenggogeni di ujung desa. Bumi terasa goyang dan lutut si pemuda jadi goyah ketika meningkat tangga oto Gumarang. Tapi akan surut tentu tidak, itu pantangan lelaki Minang. Bait ini dengan manis memotret suasana hati dalam momen perpisahan antara seorang bujang Minangkabau yang hendak pergi merantau dengan kekasih hatinya, si kuning lanjai itu, yang ditinggalkan di kampung. Suasana seperti itu mungkin tak begitu terasa kini, di mana ungkapan perpisahan hanya disampaikan lewat SMS pendek, dan sesampai si dia dalam pesawat Lion Air penerbangan terakhir yang sering ditunda itu, SMS itu pun segera dihapus.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  18 September 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: