Posted by: niadilova | 12/09/2011

KPM #45 – TERJUJAI HATI SI KUNING LANGSAT

Minggu ini, selepas orang kampung berhari raya (Idul Fitri 1432 H), mungkin masih ada orang rantau yang tinggal di kampung. Tentu ada baiknya kita sajikan lagi seuntai-dua pantun klasik Minangkabau kepada mereka, dan tentu juga untuk dunsanak di kampung si ‘penjaga gawang’ negeri, adat, dan budaya kita. Mudah-mudahan saripati estetika pantun-pantun Minang ini akan membuat si perantau Minang tetap ingat kepada kampung halaman mereka dan membuat adidunsanak di kampung semakin memelihara adat Minangkabau.

351.

Kok jadi Adiak ka pakan,

Bao juo kulik manih den,

Takiakkan di pinggang tabiang,

Kok jadi Adiak bajalan,

Baa juo jari manih den,

Paapuih paluah di kaniang.

352.

Bukiktinggi karang babalah,

Gaba-gaba sarupo bendi,

Indak kini isuak kok alah,

Usah kami diduo kali.

353.

Putuih tarantak tali kaluang,

Ambiaklah rotan pangabeknyo,

Putuih taragak ka nan Kandung

Pai ka pakan malieknyo.

354.

Kok talantak ka dibaakan,

Pauah di dalam padi urang,

Kok taragak kadipangakan,

Dagang jauah di rantau urang.

355.

Ajuang jontak layia ka Pini,

Pandan dituriah urang Jao

Tujuah minyak campuangkan diri,

Badan disisiah urang juo.

356.

Anak urang Pasa Kurao,

Jua padi balikan ubek,

Awak randah tampan tabao,

Tajujai hati si Kuniang Lansek.

357.

Rumah Kadi di Padang Data,

Tampak nan dari Palembayan,

Anguih hati cando dibaka,

Diliek dalam palimauan.

358.

Ilia-ilia mangko ka mandi,

Aso kasiak kaduo pantai,

Katigo hujan di hulu,

Piliah-piliah ka lawan mati,

Aso cadiak kaduo pandai,

Katigo anak panghulu.

Hiperbol dalam bait 351 terasa mengigilkan hati: kekasih Anda menyuruh bawa jari manisnya untuk penghapus peluh di kening Anda jika Anda sedang lelah bekerja keras di rantau. Begitulah cara cinta yang dalam diungkapkan dalam bahasa pantun Minang yang sarat kata melereng itu. Kiranya ‘sapu tangan sirah baragi’ –meminjam judul antologi cerpen Nasrul Siddik (1966) – jadi rendah harganya di sini. Bait ini tampaknya nyambung dengan bait 354 yang merekam kerinduan seorang bujang di rantau kepada kekasihnya yang ditinggalkan di kampung. Tak ada cara lain selain mempersabar hati.

Dalam bait 352 ada permohonan untuk tidak memberikan kasih sayang yang main-main (pura-pura) dari si dia. Tapi ada nada sabar dari si pecundang: jika tidak sekarang mudah-mudahan esok masih bisa hati bertemu; “baranak ampek den nanti juo” kata Elly Kasim. Yang jelas si dia tak ingin dicerai lagi.

Bait 353 merekam cara orang Minang saisuak mewujudkan rasa taragak kepada kekasih hatinya: jelas adat yang ketat tak membolehkan si bujang nyelonong saja pergi ke rumah si gadis, bisa-bisa dia kena hardik oleh mamak, kakak, atau ayah si gadis. Caranya: bila hari sedang pekan (hari pasa) pergilah ke pekan. Di sanalah terbuka kesempatan untuk dapat berjumpa dan saling beradu pandang di antara orang ramai yang sedang berselingkit berjual beli.

Bait 355 berisi keluh kesah si pecundang lagi: rupanya memang sudah nasib menjadi orang tersisih di dunia. Walau sudah memakai tujuh macam minyak kelonyor (‘parfum’ kata orang sekarang), rupanya dirinya tetap disisihkan orang. Hiperbol pada bait ini terasa mengena sekali. Kalau meminjam idiom sekarang: ‘karatu bana nan indak elok’.

Ada pujian sedikit kepada orang pendek (penulis ikut merasa bangga) dalam bait 356: biarpun pendek, tapi wajah cukup tampan. Ternyata si kuning langsat tajujai juga hatinya. Jadi, cowok-cowok pendek jangan cepat merasa minder kalau bersaingan dengan cowok tinggi semampai dalam merebut hati seorang gadis. Peluang untuk menang tetap ada. Tetaplah optimis!

Ada nada nelangsa lagi dalam bait 357: rupanya hati si dia yang Anda tinggalkan begitu saja betul-betul remuk redam. Betapa tidak, kasih sucinya Anda permainkan begitu saja. Hatinya hangus menghitam, demikian terlihat dalam ramalan seorang dukun di Lambuang Bukik. Bait ini rancak sekali gaya bahasanya, patut direpresentasikan dalam sebuah lagu Minang yang bernada berhiba-hiba seperti ciri khas lagu-lagu karya Dr. Ir. Agusli Taher.

Bait terakhir (358) seolah telah meramal kenyataan masa depan: zaman sekarang orang memang cenderung cari pasangan yang cerdik, pintar, dan bonafide. Kalau bukan dengan anak gubernur, ya, pacaran dengan anak bupati cukuplah. Bait ini jelas merefleksikan dunia urang bapunyo dan bakuaso. Kalau saya, jangankan anak bupati, anak wali nagari saja mungkin tak akan berani saya mendekati. Saya harus bercermin dulu ke kubangan tingga.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  11 September 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: