Posted by: niadilova | 05/09/2011

KPM #44 – JIKA KANGEN SAMA TANGGUNGKAN

Apakah spirit (semangat) bahasa pantun dapat dikemaskinikan untuk generasi muda Minangkabau? Apakah pantun dapat dijadikan salah satu bahan untuk muatan lokal di sekolah-sekolah di Sumatra Barat? Ini tentu perlu dipikirkan oleh para pengambil keputusan yang terkait dengan pendidikan di Provinsi ini. Yang jelas, pantun sebagai hasil kesusastraan Minangkabau mungkin perlu kita pelajari kembali, kita sosialiasikan kepada masyarakat luas, sebab di dalamnya terkandung perilaku berbahasa yang santun dan simbolis, yang mementingkan ketinggian budi untuk menyampaikan maksud. Di nomor ini kami lanjutkan menghidangkan pantun-pantun itu kepada para pembaca Padang Ekspres.

344.

Jan Adiak rusuahkan singka,

Singka lah Aden pataduahkan,

Di bawah batang langgudi,

Jan Adiak rusuah ka tingga,

Adiak lah Aden pataruahkan,

Di urang dalam nagari.

345.

Pucuak pauah silaro pauah,

Daun jirak laduang-laduangkan,

Adiak jauah kami pun jauah,

Kok taragak samo tangguangkan.

346.

Kok indak talang bapapek,

Antah talantak rigo-rigo,

Kok indak gunuang maambek,

Antah tampak nyo dari siko.

347.

Den tabang dadok baduri,

Rabahnyo ka rumpun kincuang,

Ari paneh alang babuni,

Raso di pasa ‘rang Sijunjuang.

348.

Lah runtuah tabiang ‘rang Kurai,

Lah tampak jenjang batunyo,

Taga diambek daun tabu,

Lah rusuah nan kuniang lampai,

Lah tampak tulang dadonyo,

Taga talampok dalam baju.

349.

Padang Tarok di Pangambiran,

Bakeh mananam bijo kapeh,

Janganlah diarok di pujian,

Badan mancari bakeh lapeh.

350.

Dilenggangkannyo dadiah den,

Dilenggangkannyo ka banto,

Diilangkannyo kasiah den,

Kok mati masuak narako.

Dua bait pertama mengandung gema tradisi merantau Minangkabau yang khas itu, yang menurut Mochtar Naim (1979) mengandung unsur voluntary (sukarela). Si pemuda yang sudah memakai cincin tunangan tampaknya akan berangkat juga menuju Tanah Jao (Jawa). Mudah-mudahan di sana dia tidak akan tergelincir oleh ‘goreng tempe’. Dia membujuk dan menenangkan hati tunangannya yang gundah dengan mengatakan bahwa sang tunangan sudah dititipkan kepada orang senagari (344). Bait 345 mengandaikan si pemuda yang sudah berada di Betawi, mungkin sudah menggalas di Proyek Senen atau Pasar Tanah Abang. Dia menyatakan rindunya kepada sang tunangan yang ditinggal di kampung: ‘Adik jauh, saya pun jauh,  jika sama-sama kangen jiwa terasa tersiksa’, katanya.

Bait 346 kiasannya cukup indah: ‘jika tidak dihalangi gunung, mungkin si dia kelihatan dari sini’. Ini kiasan untuk rindu yang meremuk hati oleh seorang kepada kekasihnya yang terpaksa berpisah jauh karena untung perasaian. Walaupun si jauh, wajahnya tetap jelas terbayang.

Kiasan yang tak kalah cantiknya muncul lagi dalam bait 347. Pantun ini sangat mungkin dibuat oleh orang Pariaman. Maksudnya adalah ingin mengatakan perasaan hati dan pikiran yang sunyi atau melayang jauh. Dalam konteks bait di atas ada kesan bahwa pasar Sijunjung itu cukup lengang.  Dalam beberapa ungkapan yang menyatakan sesuatu yangg ekstrim, orang Pariaman mengandaikannya dengan letak Sijunjung, mungkin karena wilayah Sijunjung letaknya jauh dari Pariaman, di daerah pedalaman di perbatasan Minangkabau dengan Jambi. Hal ini misalnya terefleksi dalam ungkapan: ‘Pakiak e tadanga sampai ka Sijunjuang’ (Pekiknya terdengar sampai ke Sijunjung). Maksudnya: pekiknya sangat keras, lantang sekali, sehingga sampai terdengar dari jarak yang jauh.

Refleksi tentang jiwa yang tersiksa, yang membuat badan menjadi kurus, sehingga tulang dada sudah seperti rak piring, digambarkan dengan elok dalam bait 348. Rupanya sudah kurus si dia menanggung seso hati, sudah kelihatan menonjol tulang-tulang dadanya, tapi syukur masih tertutup oleh baju. Kalau patah hati memang sering diikuti oleh patah selera untuk makan. Soto Garuda pun mungkin akan terasa pahit di lidah.

Mungkin Anda harus sadar bahwa tak ada gunanya menunggu pujian dari si dia yang sebenarnya sudah ingin pergi dari Anda. Sudah sejak beberapa bulan ini si dia ingin ngacir dari hidup Anda (mancari bakeh lapeh). Mungkin tak ada gunanya lagi mempertahankan hubungan kasih Anda dengannya. Lebih baik bubar saja. Demikianlah kurang lebih refleksi bait 349.

Bait terakhir (350) cukup hiperbolis juga: masak sih kalau Anda putus hubungan dengan dia, lalu dia akan berdosa dan masuk neraka? Seperti sudah dikatakan dalam nomor-nomor terdahulu, gaya hiperbol sangat menonjol dalam pantun-pantun Minangkabau. Gunanya adalah untuk menimbulkan kesan emosional yang ekstrim. Tapi dalam konteks bait ini, kalau kasih sayang yang tulus ditinggalkan, mungkin juga si pencinta yang tidak setia itu akan diganjar dengan hukuman ‘neraka’, paling tidak ‘neraka dunia’.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  4 September 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: