Posted by: niadilova | 29/08/2011

KPM #43 – MENANGIS TULANG DALAM KUBUR

Selain mencatat sifat-sifat khusus manusia Minangkabau, terutama yang terkait dengan hubungan keluarga yang merefleksikan karakteristik sistem kekerabatan Matrilineal Minangkabau, pantun-pantun Minangkabau juga merekam kekhasan nagari-nagari tertentu. Dalam kaitannya dengan hal ini tak dapat diragukan pula bahwa pantun-pantun Minang adalah salah satu ‘teks’ etnografis yang unik, seperti telah diperlihatkan oleh R.J. Chadwick (1986, 1994). Di nomor ini (43) kita lanjutkan ‘pelayaran’ kita mengarungi samudera makna dan estetika pantun-pantun Minang yang tak bertepi itu.

337.

Lah buliah kami talinyo,

Talang dipapek ‘nak ‘rang Aceh,

Dibao anak urang Padang,

Nak lalu ka Banuhampu,

Lah buliah kami gantinyo,

Kampia batulih banang ameh,

Harago sasuku Riyal Padang,

Labiah saaluih nan daulu.

338.

Kuriak-kuriak kalapo Puan,

Tak Puan kalapo Bali,

Ambo arok kapado Tuan,

Tak Tuan siapo lagi?

339.

Rangkiang gadang sadirik tigo,

Sabuah di  tangah ngarai,

Kapuak gadang patah gonjongnyo,

Ati siapo tak ka ibo,

Nan kanduang putuih bacarai,

Rang siko kasek basonyo.

340.

Rumpuik banamo rumpuik rantai,

Sakah diimpok dahan kundua,

Bukan mudah janji tak sampai,

Manangih tulang dalam kubua.

341.

Tak lamak gulai ‘rang Sumpu,

Dek gulai ayam sabuangan,

Tak dapek di den di pintu,

Den rateh tulang bubuangan.

342.

Panek maisok makan siriah,

Duduak bajuntai di pambatang,

‘Ndak talok Adiak jo pakasiah,

Nanti sijundai nan kadatang.

343.

Anak balam di ujung tanjuang,

Talang panjang di Rimbo Panti,

Sananlah sariak mudo-mudo,

Jago dubalang dalam kampuang,

Mayintak padang di nagari,

Namun Adiak den jalang juo.

Ada sedikit nada balas dendam dalam pantun 8 baris di bait 337. Si pecundang mendapatkan pengganti kekasihnya yang telah tega meninggalkannya. Pengganti (dilambangkan dengan kampia) yang diperolehnya justru lebih cantik lagi (labiah saaluih nan daulu) dibanding kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya. Saya kira siapapun akan senang dan tentu bangga (asal jangan jadi sombong) jika yang hilang ‘Kijang’ tapi yang datang menggantikannya adalah ‘Volvo’.

Bait 338 merefleksikan harapan besar dari seorang gadis kepada kekasihnya. Tampaknya ia tak dapat berpindah ke lain hati: ‘Kalau tidak Tuan [Kakanda], siapa lagi?’, katanya. Maka berbahagialah jika pembaca setia rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ mendapatkan gadis setia seperti itu.

Ada sedikit nada sarkastis dan berterus terang dalam bait 339. Rupanya di pecundang ditolak lamarannya mentah-mentah, tanpa tedeng aling-aling. Tidak saja dia mengalami ‘putus bercerai’ dengan kekasihnya, tapi kekasihnya atau keluarganya tampaknya agak bersikap dan berkata kasar kepadanya. Itulah sebabnya dia mengatakan bahwa ‘orang di sini kasar (kasek) budi bahasanya (basonyo).’

Kiasan pada bait 339 indah sekali: menangis tulang dalam kubur jika janji (baca: cinta) di dunia kepada si dia tidak sampai. Kisah Laila Majnun memang bisa saja muncul di mana-mana. Bait ini menyampaikan pengajaran tentang betapa agungnya kestiaan dalam berkasih sayang.

Bait 341-343 mengingatkan saya pada mantra sirompak di Luhak 50 Koto (lihat: J.L. van der Toorn 1890; Marzam 2001). Nyanyian magis dukun di tepi rimba yag sedang memutar gasing tengkorak (gasiang tangkurak). Gasing yang dapat disuruh diseraya untuk mensijundaikan seorang gadis yang dengan kasar telah menolak cinta dan menghina seorang pemuda.

Ketiga bait terakhir itu merefleksikan tindakan yang sudah di luar kewajaran dalam menggapai cinta. Kalau tak bisa menemui si dia lewat pintu, akan diretasnya tulang bubuangan (atap) rumahnya (341). Siratan maknanya adalah: memaksakan kehendak dalam bercinta. Malah di bait 342 si pemuda sudah minta bantuan dukun untuk mensijundaikan si gadis sehingga ia memanjat-manjat dinding. ‘Tak lalu dandang di aia, di gurun ditanjakkan’, kata satu pepatah Minangkabau. Perbuatan seperti itu tentu tak pantas ditiru. Pantun ini ditemukan juga dalam mantra sirompak di Payakumbuh.

Bait 343 juga menggambarkan aksi nekat si pemuda untuk menemui kekasihnya. Walaupun hulubalang dalam nagari menghunus pedang untuk menghalanginya, si pemuda tetap tak gentar pergi menemui pujaan hatinya. Di sini ada hiperbol lagi: maksudnya untuk konteks sekarang: walau ayah dan mamak si gadis pasang wajah sangar dan memilin misai, tapi Anda tetap berani datang ke rumahnya. Itu baru jantan namanya.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  28 Agustus 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: