Posted by: niadilova | 22/08/2011

KPM #42 – KAMI DIGENGGAM-GENGGAM LEPAS

Koleksi pantun Minangkabau klasik yang terdapat dalam lusinan naskah Minangkabau yang tersimpan di Leiden University Library menunjukkan warna lokal. Rupanya inside Minangkabau itu cukup beragam, bukan sesuatu yang sewarna saja. Itu mungkin terefleksi dalam konsep ‘Adaik salingka nagari’. Setelah membaca pantun-pantun itu, kita dapat mengidentifikasi pantun-pantun dari pesisir barat Minangkabau dan kawasan darek. Banyak juga pantun yang merefleksikan pengaruh Belanda terhadap masyarakat Minangkabau. Kita lanjutkan menikmati pantun-pantun Minangkabau itu di nomor ini.

331.

Bulan bulek matoaria bunta,

Talang nan tidak kapanasan,

Katupek di dalam padi,

Sayang tatumbuak di nan suka,

Kasiah nan tidak babalasan,

Usah diupek badan kami.

332.

Tinggi gareja di Batawi,

Tampaik Ulando pulang makan,

Adiak lah buliah nan di hati,

Kami di mano ditinggakan?

333.

Sikaduduak parang jo mansi,

Sianik di talang banto,

Salasiah di dalam padi,

Talang di dulang mah kironyo,

Capo-capo di dalam padi,

Diajuak kami jo budi,

Dipintak kami jo baso,

Disangko kasiah di kami,

Sayang jo urang mah kironyo,

Apo cilako badan kami?

334.

Patah tuduang si batang karat,

Dikacak lalu diampaikannyo,

Kasiah sayang dunia akhirat,

Iko mah kini balasannyo?

335.

Urang barampek pai mamapeh,

Balimo turun ka kualo,

Kami diganggam-ganggam lapeh,

Indak baitu daulunyo.

336.

Tinggilah gaduang Padang Panjang,

Naiak Residen jo Mantari,

Batiga jo Tuan Laksamana,

Harumlah bungo jolong kambang,

Mukasuik hati nak mambali,

Taga harago maha bana.

Bait 331 merefleksikan cinta yang tidak berbalas. Baris ‘sayang tertumbuk pada hal yang sulit’ mengilatkan adanya permasalahan yang rumit yang menyebabkan si gadis tidak membalas cinta si bujang. Barangkali penyebabnya seperti yang dijelaskan pada bait 332: si gadis (Adiak) rupanya sudah punya pujaan hati: ganteng, tamusahua, dan selalu berkantong padat. ‘Dimanakah diriku akan engkau tinggalkan?’, demikian tanya si pecundang.

Seperti telah dikatakan dulu, pantun panjang cenderung bernada sedih. Ini terlihat lagi dalam pantun 10 baris dalam bait 333. Bahasa bait ini indah juga: baris-baris isinya menggambarkan seorang yang cintanya dipermainkan oleh kekasihnya. Di hadapannya si dia bilang cinta sekali, sering mengumbar janji bahwa mereka akan sehidup semati, dari dunia sampai akhirat (seperti dikatakan dalam bait 334). Tapi di belakangnya ternyata si dia bercintaan pula dengan orang lain, mungkin pada awalnya hanya chatting lewat BlakcBerry, tapi lama-lama jadi ‘kopi darat’. ‘Apa salah diriku?’, tanya si pencundang.

Memang tarumuak sekali jika kasih kita yang tulus dikhianati oleh pasangan kita. Banyak yang hangus hatinya karena ditimpa khianat cinta ini. Ini mungkin kritik yang dapat ditujukan kepada orang yang suka ‘menanam tebu di bibir’, tapi apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan.

Bait 335, yang manis gaya bahasanya, masih merefleksikan komitmen kasih yang tidak dipegang erat digenggam teguh, janji yang hanya manis di bibir.‘Kami digenggam-genggam lepas’  kata si pecundang. Berbeda dengan dulunya: ‘digenggam erat’. Mungkin ada bedanya antara ‘ganggamganggam lapeh’ dengan ‘ganggamganggam baro’. Ungkapan yang pertama menyiratkan kekurangseriusan, komitmennya tidak jelas. Kalau ganggam baro, bila terasa hangat dilepaskan. Maknanya: jika si dia memberikan hal-hal yang menyenangkan, dia disanjung dipuja, jika giliran harus berkorban untuk si dia, Anda keberatan dan cenderung berlepas tangan. Dengan kata lain: nan ka lamak dek awak sajo.

Kiasan dalam bait terakhir (336) cukup satiris. Bait ini tak ada kaitannya dengan tradisi bajapuik di Pariaman. Kata ‘harago’ (harga) pada bait ini menyiratkan sikap tinggi hati, sikap yang merendahkan orang lain. Bait ini mengandung suara lelaki yang jatuh cinta kepada seorang gadis atau ingin melamarnya, tapi si gadis menyepelekan, untuk tidak menyebut menghinakan si lelaki itu. Penolakan si gadis agak kasar, kurang bersopan santun. Mungkin si lelaki cukup beriman, kalau tidak pasti dia sudah pergi ke tukang sirompak di Taeh Bukik. Ini pesan kepada gadis cantik: hati-hati menolak cinta seorang lelaki, walaupun orang itu kelihatan sederhana. Sebagus-bagus lidah tentu lidah yang tidak menyakiti hati orang lain. Memang betul kata pepatah bahwa setiap mawar yang harum selalu berduri. Tapi yang harus diingat hendaknya durinya jangan mencucuk siapapun.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  21 Agustus 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: