Posted by: niadilova | 15/08/2011

KPM #41 – ‘NAKHODA’ MUNGKIN AKAN DIGANTI

Kekhasan stilistik yang yang sangat menonjol dalam pantun-pantun Minangkabau adalah gaya hiperbolnya yang ‘menggigit’. Penggunaan gaya hiperbol ini menimbulkan efek ‘letusan’ pada siratan makna yang terkandung dalam baris-baris isi. Kalau Anda orang Minang sejati, jangan merasa tersanjung dulu kalau mendengar sebuah hiperbol ditujukan kepada Anda. Maksudnya bisa sebaliknya, walaupun mungkin pada sisi lain ia menyiratkan kejujuran hati. Kita lanjutkan menikmati pantun-pantun klasik Minang yang ‘manis’nya bak mangga (kuini) orang Tarusan itu.

323.

Jelo-bajelo aka Cino,

Jelo-bajelo ka halaman,

Salindik duo talinyo,

Saisuak kami nan punyo,

Sakarang lapeh di tangan,

Ka tangan urang mah painyo.

324.

Karambia batandan-tandan,

Satandan tidak barisi,

Ondeh harumnyo bungo pandan,

Tingga di jalan di tangisi.

325.

Tinggi bukik Galanggang Kuau,

Tampak nan dari Kampuang Jao,

Tujuh bukik sembilan pulau,

Lenggang nan kuniang tampak juo.

326.

Apo bakilek di subarang,

Rajo Amaik bapacu kudo,

Bulan Puaso kami pulang,

Adiak balimau kami tibo.

327.

Batang siriah junjuang surian,

Di baliak lumbuang nan tinggi,

Kasiah nan tidak babarikan,

Tatuntuang bakeh nan kini.

328.

Sikaduduak ka pupuak padi,

Batangnyo digiriak kumbang,

Balayia manapi-napi,

Ka tangah garik di galombang.

329.

Ayam kinantan Sutan Bantan,

Basah dadonyo pulang mandi,

Elok dibongka isi sampan,

Nangkodo raso ka baganti.

330.

Tinggilah gaduang Tuan Leman,

Tampak nan dari Batu Tigo,

Susahlah buruang ganggok aman,

Ditawan buruang baru tibo.

Kekasih yang direnggut orang lain, membuat si dia akhirnya lepas dari tangan Anda. Janji erat itu akhirnya mungkir, hancur di tengah jalan. Itulah siratan dalam bait 323. Pujaan hati Anda yang cantik dan elok bagai bunga pandan itu – harum tapi dilingkung duri – terpaksa dilepas (tingga di jalan). Wajar jika Anda menangisinya (bait 324), karena pasti bakal susah mencari pengganti yang setara dengannya.

Memang kalau si dia yang kuning (langsat) yang paling menawan hati Anda terpaksa pergi (karena direnggut orang lain), hati Anda akan diliputi kesedihan. Atau karena Anda harus meninggalkannya sebab Anda harus pergi merantau, dari rantau yang jauh (di balik 7 bukit dan 9 pulau), lenggangnya yang gemulai tetap terbayang (bait 325). Akibatnya, baru setahun merantau, Anda tampaknya tak tahan untuk pulang kampung untuk menjenguk ‘Nan Kuniang’ itu lagi. Bulan puasa tahun ini, pas di hari balimau, sebelum takbir berkumandang di mesjid, Anda berjanji sudah sampai di jenjang rumah gadangnya. Itulah refleksi bait 326 yang gaya bahasanya terasa sangat indah.

Ada siratan penolakan cinta pada bait 327: rupanya Anda sudah ada yang punya, sudah lekat cincin tunangan di jari manis Anda. Tapi ada yang lain yang naksir Anda. Bait ini mengajarkan kejujuran cinta: kalau sudah ada yang punya, jangan terima cinta yang lain. Bait ini mengingatkan pembaca setia rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ agar jangan meniru gaya playboy cap kodok.

Bait 328 merefleksikan sifat hati-hati, walaupun di sisi juga merefleksikan ketidakberanian: ‘berlayar menepi-nepi, ke tengah takut oleh gelombang (besar)’. Dalam konteks kehidupan anak muda, bait ini bisa diartikan: lihat-lihat dulu yang akan ditaksir. Ingat posisi sosial sendiri, ukur isi saku dan penampilan. Bait ini cukup berisi pengajaran bagi orang yang suka pada prinsip kehati-hatian.

Ada kiasan pekat yang indah dalam bait 329: ‘Ada baiknya dibongkar isi sampan, karena kelihatannya nakhoda akan diganti’. Si Minang yang arif sudah pasti tahu betul apa yang disimbolkan oleh kata ‘sampan’ dan ‘nakhoda’ dalam bait ini. Bait ini mungkin mengingatkan kita pada simbolisme di balik ungkapan ‘biduak satu nakhoda dua’ (seorang wanita yang mencintai dua lelaki). Jadi, bait ini menyiratkan akan adanya perpecahan dalam rumah tangga seseorang (simbol: sampan), karena sepertinya si wanita (istri) jatuh hati kepada pria lain (punya PIL). Anehnya, bait ini mewakili suara lelaki (yang dikecewakan oleh istrinya). Betulkah wanita Minangkabau lebih bagak? Jangan-jangan ini penyebab banyak lelaki Minang sekarang kawin dengan wanita dari suku lain.

Bait terakhir (330) juga mengandung kiasan pekat. ‘Burung’ dalam baris pertama isi jelas menyimbolkan perempuan. Sedangkan ‘burung’ pada baris kedua isi menyimbolkan lelaki. Rupanya ada bujang yang baru datang (yang naksir belakangan) langsung berhasil mendapatkan gadis yang sebelumnya sudah diincar banyak pemuda. Nah, ini yang namanya rejeki nomplok. Mungkin Anda pernah mengalaminya:  sebagai pecundang atau sebagai pemenang seperti ‘burung yang baru tiba’ itu.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  14 Agustus 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: