Posted by: niadilova | 08/08/2011

KPM #40 – HATI HANGUS BAGAI DIGUNTING

Rubrik Khazanah Pantun Minang Padang Ekspres Minggu, yang pada minggu ini memasuki edisi nomor 40 dan bilangan bait ke-300, setidaknya memperlihatkan bahwa repertoar pantun Minang sangat kaya. Apakah gerangan selama ini genre ini kurang terbukukan? Sumber-sumber yang kami pakai di sini menunjukkan bahwa naskah-naskah tentang pantun Minangkabau dulu ditulis oleh kalangan yang mengenyam sekolah sekuler, bukan mereka yang berasal dari sekolah agama. Ini tentu menarik didiskusikan lebih lanjut. Kita tunggu saja penelitian dari para pakar dari UNAND, UNP, Balai Bahasa Padang, dll. Di nomor ini kami sajikan tujuh bait pantun Minang lagi.

316.

Babelok aia ka Duku,

Di Duku den subarangkan,

Sasimpang ka Limau Manih,

Gadanglah aia Batang Mangguang,

Indak patuik Tuan bak itu,

Kami diguyu digamangkan,

Digamangkan lalu di patangih,

Gadanglah doso Tuan Kanduang.

317.

Tinggilah gaduang Kampuang Parik,

Tampak nan dari Kampung Bateh,

Hati di dalam bajaraik,

Musim pabilo ka balapeh.

318.

Tarantang kawek ka Silaiang,

Taantak ka rumah bola,

Anguihlah hati bak diguntiang,

Maliek lenggang gadih Jawa.

319.

Mantari di Balai Gurah,

Malinteh lalu ka Sikilang,

Adiak den marilah cacah,

Sakik bak raso lai ka sanang.

320.

Baririk pandan di Sumani,

Baririk lalu ka jambatan,

Pakirim urang Bukiktinggi,

Elok dilipek diadokpan.

321.

Sutan Juaro ‘nak ‘rang Solok,

Guru sikola ‘rang Maninjau,

Tidua samalam indak lalok,

Sayang bak raso ka maimbau.

322.

Koto nan tantang Padang Alai,

Panek manyisia rimbo juo,

Apo dimakasuik tidak sampai,

Kurang di ameh nangko juo.

Jangan sekedar merayu, terus kalau dia sudah jatuh cinta, lalu Anda meninggalkannya, kemudian Anda pergi merayu yang lain. Itu pasti menyedihkan hatinya. Anda dinilainya hanya mempermainkannya saja. Itulah refleksi terhadap bait 316. Ini jelas sindiran kepada cowok (tapi bisa juga cewek) yang suka mengumbar rayuan gombal sana-sini. Modalnya biasanya wajah tampan atau cantik. Nanti kalau kena batunya, kena karma, baru tahu rasa.

Bait 317 menggambarkan suasana hati yang terlalu amat susah (bajaraik; lih.: Kamus Pamoentjak 1935:59) karena rindu yang tertahan kepada si dia, yang entah kapan (musimpabilo) akan dapat berjumpa dengannya. Ada jarak yang memisahkan kedua kekasih itu.

Ada hiperbol cantik dalam bait 318: Hangus hati bagai digunting, melihat lenggang gadis Jawa. Ahai…titik air selera melihat goreng tempe, tergelicik mata melihat rendang. Ini konon acap kali terjadi di kalangan mahasiswa Minang yang kuliah di Yogyakarta. Yang jelas, sejak akhir zaman kolonial telah banyak terjadi kawin campur antara bujaha Minang dengan gadis Jawa. Representasinya dalam ranah literer toh dapat dikesan dari perkawinan antara Poniem dan Leman dalam novel Merantau ke Deli karya Hamka (1939). Wajar kalau banyak gadis Minang was-was jika kekasih atau tunangannya pergi merantau ke Tanah Jao. Khawatir kekasih atau tunangannya mati kena raok oleh kemben.

Hati yang sedang merindu membayang lagi dalam bait 319. Anda minta kepada si dia untuk datang sebentar sekedar untuk melihat keningnya. Konteksnya mungkin sedikit lebih rumit lagi: ada yang sampai jatuh sakit karena terpaksa putus hubungan kasih karena orang ketiga. Kalau bisa ketemu lagi sama si dia, walau hanya sebenar, mungkin akan dapat mengobati sakitnya. Ah, para pembaca setia rubrik Khazanah Pantun Minang seperti tak tahu saja (kura-kura dalam perahu): toh bertemu, walau sesaat, hati baru merasa senang.

Penolakan yang halus atas sebuah lamaran: kiriman dari orang Bukitinggi langsung dilipat di hadapan orang yang menyampaikan kiriman itu, tanda penolakan yang tegas. Itulah refleksi bait 320. Cukup jelas konteks kulturalnya: darek (Bukittinggi) versus rantau. Sudah jadi pameo di Pariaman: Iyo ka daghek lapeh anak kau? Ondeh, iyo lah ka kalam dek wee jalan ka Piaman tumah. Folklor-folklor lokal di selingkung budaya Minangkabau seperti ini menarik dan tentu penting untuk didokumentasikan.

Bait 322, yang manis gaya bahasanya, mengilatkan suara si pecundang lagi. Banyak maksud yang tidak sampai karena tak ada emas di pinggang. Memang benar kata orang:dek ameh kamehdek padi jadi; kalau tak ada emas di pinggang, sahabat karib menjadi renggang. Tak percaya? Tanyalah kepada para pengusaha kita yang sukses seperti Basrizal Koto (Basko). Sekampung saya dengan beliau, Piaman asli, tapi nasib berbeda. Saya sering dilarikan untung perasaian seperti gelapung hanyut, beliau sering dilarikan sedan berkilat dan pesawat terbang. Tak usah disesali, sudah tergaris sejak di rahim bundo.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 7 Agustus 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: