Posted by: niadilova | 25/07/2011

KPM #39 – DALAM SURAT ADA GAMBARNYA

Rasanya kita akan menjadi orang Minangkabau yang sebenarnya jika pandai meniti buih dalam lautan kata. Ideal seperti inilah yang telah menghilang dari Minangkabau yang dikhawatirkan akan menjadi kubangan kerbau meminjam idiom salah satu lirik lagu Minang kontemporer. Khazanah pantun Minang bermanfaat dibaca untuk mengasah pedang kearifan generasi Minangkabau yang kini kelihatan makin majal. Kita lanjutkan menikmatinya di nomor ini sambil mengistirahatkan BlackBerry Anda beberapa menit.

300.

Bukiktinggi tanami pinang,

Aua bulek lado paganyo,

Dalam mimpi sungguah lah ilang,

Dalam surek ado gambarnyo.

301.

Kayu kalek madang di lurah,

Baukia batang tanggonyo,

Janji arek buektan sudah,

Ka mungkia pulo mah candonyo.

302.

Babunyi tabuah di Bonjo,

Urang manyarang Kampung Alai,

Mulonyo badan ka bak nangko,

Dandam jo Adiak tabangkalai.

303.

Sumbayang ateh pambatang,

Kabilaik ka Indogiri,

Kasiah sayang tulak balakang,

Carai bataun anyo lai.

304.

Padi jo banto punyo buah,

Pandan tibarau malantaikan,

Hati jo mato punyo ulah,

Badan cilako marasaikan.

305.

Kain putiah sasah jo sabun,

Ka lauik buang dakinyo,

Adiak sapantun kasah ambun,

Rumiklah kami manggantinyo.

306.

Asok api di Pulau Punjuang,

Urang manyarang Kampung Alai,

Muksuik hati mamaluak gunuang,

Apo dayo tangan tak sampai.

307.

Anak Cino bapayuang satin,

Sudah satin sikalat pulo,

Awak hino lagi musikin,

Sudah musikin mularaik pulo.

Ahai…foto diri yang diselipkan dalam surat cinta dengan kertas bergambar bunga mawar merah jambu memang trend dulunya. Paling tidak tradisi ini masih eksis di zaman generasi Gamawan Fauzi, Hasril Chaniago, Sutan Zaili Asril, Darman Moenir, Harris Effendi Tahar, Indra Catri, dan Wiztian Yoetri lagi sedang bujaha-bujaha-nya di tahun 1970-an dan 80-an. Gadis yang ditaksir dikirimi surat dan di dalamnya diselipkan foto diri dengan tampilan rambut lalok ka balakang karena disirami dengan minyak sitakom. Itulah yang direfleksikan oleh si pemantun dalam bait 300.

Bait 301 – 304 mengisahkan mengerutnya rasa cinta yang akhirnya berderai bak manik putus. Janji erat yang sudah diikrarkan di Pantai Air Manis, di bawah tudung daun keladi dalam guyuran hujan lebat, tampaknya akan berakhir berantakan, tersebab si dia tidak memegang teguh sumpah setianya (301). Rindu (dandam) kepada si dia akhirnya terbengkalai, putus di tengah jalan, membuat tubuh dan jiwa sang kekasih yang ditinggalkan menjadi merana (302).

Kebersamaan itu akhirnya patah arang juga. Jika patah tebu tentu masih bisa dibalek. Apabila kasih sayang sudah tolak belakang (bubar), jika perasaan sudah dilukai, maka pilihan yang mungkin adalah: si bujang pergi merantau (Cina), larek berbilang tahun (303). Itulah konsekuensi yang harus diterima tersebab ulah hati dan mata: kenapa dulu Anda jatuh cinta kepadanya (304). Ini pelajaran penting bagi muda-mudi: jangan mudah jatuh hati. Carilah cinta yang tidak berbau Rupiah apalagi Dollar dan Euro.

Simbolisme yang cantik tertuang dalam bait 305: kekasih hati Anda adalah seorang gadis cantik nan sempurna, baik fisik maupun tingkah lakunya, yang diibaratkan seperti kain kasah embun (sejenis kain putih yang lembut) yang kalau hilang mungkin tak akan ada yang bisa menggantikannya. Ia terlalu berharga dan tak ada bandingannya. Ini mungkin sedikit gombal tapi bukan tak mungkin bisa terjadi di alam nyata.

Suara si miskin yang jatuh hati kepada seseorang yang status sosialnya amat tinggi terefleksi dalam bait 306. Itulah arti kiasan maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Makanya, kalau masih kerja serabutan jangan jatuh cinta kepada anak menteri deh. Itu namanya mimpi di siang bolong, menaruh racun dalam hati sendiri.

Bait terakhir (307) menjelaskan secara eksplisit penyebab kasih sayang sering tak kesampaian: awak dagang hina, lagi pula miskin, sudahlah miskin melarat pula. Sungguh miskin tampaknya, sehingga baju sudah sarat oleh panumbok. Benar kata orang bijak: harta dan tahta juga yang dipandang orang di dunia ini. UUD (Ujung-Ujungnya Duit, kata orang sekarang.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu, 24 Juli 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: