Posted by: niadilova | 04/07/2011

KPM #36 – AUR BULAT PAGARNYA DURI

Muatan lokal yang tersedia dalam kurikulum pengajaran dasar dan menengah di Sumatra Barat tentu dapat dimanfaatkan pula untuk mengajarkan genre sastra Minangkabau seperti pantun. Guru yang pintar akan dapat membuat ‘kontes’ berbalas pantun di kelas. Atau lomba berbalas pantun seperti yang digagas oleh panitia Festival Sitti Nurbaya (lihat: Padang Ekspres, 26-6-2011). Melalui kegiatan-kegiatan seperti itu, lambat tapi pasti, kita bisa menanamkan lagi rasa dan adab berbahasa Minangkabau kepada anak-anak muda kita yang sekarang makin mengalami ketirisan bahasa ibu yang makin parah. Mari kita pikirkan hal itu sambil menikmati sajian pantun klasik Minangkanau di nomor ini.

276.

Tajongkek batang tabanam,

Tabanam urek kalimomyo,

Bulan sakik matoari damam,

Bintang ka mano mintak cahayo?

277.

Bahujan di tantang Padang,

Bataduah di bangka kayu,

Manangih batarang -tarang,

Bapasan ka urang lalu.

278.

Tak padi parupuak alah,

Indak pandan ka bansa lai,

Tak kini isuak kan alah,

Tak badan manyasa lai.

279.

Tantangan mano Bukik Sumpu?

Di tantang Bukik Galogandang,

Tamanuang duduak di pintu,

Nan kuniang tak kunjuang ilang.

280.

Tanggiri lawan jo pari,

Pari disemba iyu parang,

Dari sahari ka sahari,

Dandam birahi batambah gadang.

281.

Tinggi bukik jalan ka darek,

Padam palito dari kapeh,

Sakiro buliah diganggam arek,

Padam nyao mangko ka lapeh.

282.

Paranglah Batak jo Mantawai,

Sinan Ulando banyak mati,

Sungguah talatak jan diawai,

Aua bulek paganyo duri.

283.

Si Dauik anak ‘rang Padang,

Badeta batiak barendo,

Di lauik bungo nan kambang,

Di darek kumbang nan gilo.

Sebuah hiperbol yang menggambarkan duka yang dirasakan seseorang karena orang lain yang dia cintai juga berduka terefleksi dalam bait 276. Dulu, jika permaisuri (simbol: bulan) dan raja (simbol: matahari) berduka (demam), maka rakyat banyak (simbol: bintang-bintang) juga ikut berduka, suasana negeri jadi suram. Jika dipakaikan dalam konteks sekarang: orang-orang andalan Anda, tempat anda menggantungkan hidup, dalam keadaan berduka. Maka tentu saja hal itu juga akan melemahkan persendian Anda.

Rupanya rasa kangen sudah memecah pembuluh darah. Sehingga tak segan-segan lagi berpesan kepada orang yang lewat (urang lalu) dan sudah tak malu menangis di depan orang banyak (bait 277). Bait ini cukup rancak gaya bahasanya, mengena di hati: ‘Menangis berterus terang, berpesan di orang lalu.’

Tak ada yang menginginkan perpisahan, tapi toh akhirnya terjadi juga. Walaupun begitu tak perlu ada sesal di hati, karena dulu sudah merasakan kasih sayangnya. Tapi, tetap saja gadis berkulit kuning itu tertinggal dalam ingatan, sering membuat diri Anda terkulai di pintu bila ingat kepadanya. Memang susah melupakan masa lalu yang indah, membuat diri kadang terseok menghadapi masa depan.  Demikian refleksi bait 278 dan 279.

Kasih sayang yang makin bertambah karena bagaluik asal mulanya, terefleksi dalam bait 280. Harapan akan abadi bersamanya diungkapkan dengan hiperbol yang indah dalam bait 281: sentana cinta kasihnya boleh digenggam erat, maka sampai mati kasih sayangnya itu tidak akan Anda lepaskan (padam nyao mangko ka lapeh). Ada nada gombal memang, tapi masih dalam batas kewajaran.

Etika berpacaran masa saisuak, yang tentu saja sangat bagus kalau masih dipraktekkan oleh sejoli yang sedang dimabuk asmara di masa kini, direfleksikan dalam kiasan pada bait 282: ‘sunggupun terletak jangan dipegang’. Tapi dulu memang ada larangan karena bila sembarang kaca, Anda akan menghadapi konsekuensi besar. Paling tidak, Anda akan berhadapan dengan mamak (-mamak) dan saudara-saudara laki-laki si gadis. Kalau Anda berani manggaduah si Sabai, jelas Mangkutak segera akan bertindak. Sebab gadis-gadis diproteksi oleh keluarga matrilinealnya: lubuk berbatu, ijuk ber-saga (aua bulek paganyo duri).

Kiasan pada bait akhir sangat rancak: kata bungo dan kumbang jelas simbol untuk gadis dan bujang. ‘Di laut bunga yang mekar, di darat kumbang yang gila.’ Ini jelas gambaran efek dari kecantikan seorang kembang desa di suatu nagari yang bikin hati banyak pemuda dari berbagai tempat mabuk kepayang. Saya yakin di antara pembaca setia rubrik ‘Khazanah Pantun Minang’ pasti ada yang pernah mengidap ‘dekam kuro’ yang tak bisa disembukan oleh perasan air buah mingkudu ini. Dan siapa tahu Dr. Agusli Taher, pencipta ‘Kasiak Tujuah Muaro’ itu, pernah juga mengalaminya.

(bersambung minggu depan)

Suryadi [Leiden University, Belanda] | Padang Ekspres, Minggu,  3 Juli 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: