Posted by: niadilova | 30/08/2010

Bahasa Melayu Juga Diangkut ke Belanda

Apa yang dibawa oleh orang Belanda ke negerinya selama lebih dari 350 tahun menjajah Indonesia? Orang mungkin akan langsung menjawab: berbagai jenis hasil bumi dan hasil tambang dari negeri kita.

Memang demikianlah halnya. Selama zaman kolonial Indonesia telah dijadikan sebagai gabus tempat mengapung oleh Belanda, terutama saat mereka mengalami kesulitan ekonomi. Bila kita ke Belanda sekarang dan melihat banyak gedung-gedung klasik yang interiornya memakai kayu-kayu kuat yang tahan lama, maka kita dapat menduga bahwa kayu-kayu itu dulu diambil dari hutan-hutan Indonesia.

Tapi kita mungkin lupa bahwa ada yang bersifat non material yang juga banyak diambil orang Belanda dari bumi Indonesia: yaitu (unsur) bahasa Melayu (sekarang bahasa Indonesia). Ada ratusan kosakata Melayu yang pernah menjadi bagian dari khazanah kosakata bahasa Belanda, dan banyak di antaranya yang masih bertahan sampai sekarang di mulut orang Belanda. Nicoline van der Sijs pernah mendatanya dalamLeenwoordenboek: de invloed van andere talen op het Nederlands (Kamus pinjaman: pengaruh bahasa-bahasa lain dalam bahasa Belanda) ( Den Haag: Sdu Uitgevers, 1996).

Kata pinjaman dari bahasa Melayu dalam bahasa Belanda mencakup berbagai konsep: mengenai kuliner, hewan, musik, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya. Selama masa penjajahan Belanda di Indonesia, banyak terjadi kawin campur antara orang Belanda dan penduduk pribumi, baik secara resmi maupun melalui sistem per-nyai-an. Faktor perkawinan campur ini merupakan salah satu jalan bagi masuknya kosakata Melayu ke dalam bahasa Belanda. Dulu ada ungkapan di Belanda: Beladjar bahasa dalam klamboe. Maksudnya: untuk mempelajari bahasa Melayu orang Belanda mengawini perempuan Melayu. Jadi, ia memakai kamus hidup untuk belajar bahasa Melayu. Sampai sekarang taktik ini masih sering dipraktekkan oleh beberapa Indonesianist asal Belanda.

Ambil contoh kosakata yang terkait dengan makanan: kata-kata seperti kropoeks, sambal, martabak, teloer matasappi, sate kambing, agaragar dan tjendol – contoh ini bisa diperbanyak – sudah menjadi bagian dari leksikon bahasa Belanda. Di Belanda, kuliner Indonesia memang sangat disukai, khususnya di kalangan indo (orang-orang Belanda yang berdarah Indonesia).

Untuk buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan, kata-kata seperti djeroek, doerian, kapok (kapuk), lombok, nangka, ramboetan, mangoe (mangga), djati, bamboe, alangalang, rotan, waringin (beringin) – untuk sekedar menyebut contoh – juga sudah menjadi bagian dari khazanah kosakata bahasa Belanda.

Dulu para pejabat Belanda, mulai dari Gubernur Jendral sampai Tuan Kontroleur, suka sekali pergi berburu binatang. Umumnya orang Belanda juga suka meneliti alam Nusantara. Maka tak salah jika banyak nama hewan (termasuk jenis-jenis ikan) dalam bahasa Melayu juga menjadi kata pinjaman dalam bahasa Belanda, sebutlah misalnya ajam (ayam), babi, badak, banteng, kantjiel, kaketoe (kakatua), karbouw (kerbau), kalong, tjitjak, oerangoetan, (ikan) doejoeng dan kaalkop (kakap).

Beberapa kosakata bahasa Melayu yang terkait dengan konsep geografi tradisional juga menjadi kata pinjaman dalam bahasa Belanda, seperti doesoen, kampoeng, negorij (negeri) dan rimboe (rimba). Demikian juga halnya kata ladang, sawa (sawah) dan gejala alam seperti bandjir.

Kata-kata yang terkait dengan pekerjaan seperti tandil, mandoer, koeli, baboe, sinjo, toean dan njonja juga menjadi kata pinjaman dalam bahasa Belanda. Demikian juga halnya kata-kata yang mengkodifikasikan sistem pemerintahan tradisional, khususnya di Jawa, seperti kata adipati, penghoeloe, pangeran, raden, ratoe dan keraton.

Kosakata Melayu yang terkait dengan musik dan seni pertunjukan juga banyak dipinjam oleh bahasa Belanda: seperti angkloeng, gamelan, gong, wajang (wayang), krontjong, dalang, tandak dan nontonnen (menonton).

Beberapa jenis senjata tradisional Nusantara juga akrab di lidah orang Belanda, seperti blatie (pisau belati), kris (keris) dan kelewang.

Dulu Militer Belanda menggunakan banyak kosakata bahasa Melayu untuk berkomunikasi dengan penduduk pribumi Indonesia, yang kemudian banyak yang diadopsi ke dalam bahasa Belanda. Demikianlah umpamanya, kata ambil, apa, ajo, awas!, ada, bagoes, baik, banjak, barangkali, begini, brapa (berapa), bersih, betoel (-betoel), binatang, boeng (bung), dimana, djalannen (berjalan), goedang, habis, lekas, lihatten (lihat), mataglap (mata gelap), oeroessan (urusan), amok (amuk), moeloet, panas, perkara, slamat, sobat, soerat, dan orang toetoepan (residivis) sudah menjadi bagian dari khazanah kosakata bahasa Belanda.

Pendek kata, banyak kosakata bahasa Melayu sudah memperkaya leksikon bahasa Belanda. Karena keterbatasan ruang, cukuplah saya tambahkan beberapa kosakata lagi, seperti aloenaloen, balebale, goenagoena, kakoes, mandin (mandi), djimat, rampok, sado, kartjangsaus (kuah kacang), kammer ketjil (WC), kontol, snapan (senapan), tjoelikken (culik) dan kassian (kasihan).

Demikianlah, dalam bahasa Belanda kita misalnya sering mendengar kalimat (garis bawah oleh Suryadi):Maak niet zon riboet (Jangan bikin ribut); Mag ik een portie sate kambing bestellen? (Boleh saya pesan satu porsi sate kambing?); De commandant wild at telegram getoetoept hebben (Komandan ingin telegram itu segera dikirim).

Ternyata kolonialisme Belanda di Indonesia telah memperkaya kosakata bahasa Belanda sendiri. Orang Belanda meminjam kosakata Melayu jauh lebih banyak dari orang Inggris yang seringkali  hanya tahu kata amock (amuk). Nah, mijnheer, tak jadi masalah kalau kosakata bahasa Melayu ‘dicuri’ oleh orang Belanda. Sebab bahasa tidak akan jadi rusak atau berkurang walau banyak kosakatanya diambil oleh bahasa lain***

Suryadi, peneliti pada Istitute for Area Studies / School of Asian Studies, Leiden University, Belanda

Catatan: artikel ini diterbitkan juga di harian Padang Ekspres, Minggu, 29 Agustus 2010

Advertisements

Responses

  1. Bagi saya ada beberapa kata serapan Melayu yang menurut saya bermula dari kebingungan orang Belanda mendengar ungkapan Bhs. Melayu yang tidak ada padananya dalam bahasa Belanda. Misalnya kata pikir = denken, kalau “pikir-pikir” = ?. Waktu dulu orang Belanda jadi bingung, karena ungkapan tersebut tidak ada padanannya, akhirnya orang Belanda mengadopsi kata pikir-pikir ke dalam bhs Belanda, seperti dalam frasa berikut ini : Ik zit te piekeren.

  2. Iya, Pak Tarmizi. Ini dapat dimengerti karena setiap bahasa tumbuh dari konsep budaya dan alam lingkungan sendiri yang berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya. Mungkin ada lagi contoh di mana kata serapan berubah makanya. Hal yang sama juga terjadi dalam bahasa Indonesia. Saya heran, sekarang kata TERDAMPAR dan EKSEKUSI maknanya tampaknya meluas dari makna semula.

  3. Mengenai kata “eksekusi”, kecuali praktisi hukum, hampir semua media cetak mau pun elektronik memang salah menggunakannya.

  4. Betul, Pak Tarmizi. Kadang2 bingung kita memahaminya.

    Salam,
    Suryadi

  5. Sebagai tambahan dari komentar saya untuk artikel ini adalah kata “kakoes”. Sebaliknya, kata ini diserap oleh kita (Indonesia) dari bahasa Belanda, yakni dari kata “kak-huis”. (“kakken” = berak).

    Wass. Tarmizi Bustamam

  6. Betul, Pak Tarmizi. Terima kasih atas tambahan keterangan ini.

    Wassalam,
    Suryadi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: