Posted by: niadilova | 09/08/2010

Mencari Hari Pers Nasional Yang Punya Pijakan Sejarah[1]

Suryadi[2]

surayadi-makalah-suryadi-acara-aji

Dja Endar Moeda (kiri) dan Majoeddin Datoek Soetan Maharadja (kanan), (Sumber: Bintang Hindia, Thn. 1, No.15 (25 Juli 1903: 273 dan Amran 1986:155)

Pendahuluan

Sebagaimana telah sama diketahui, Hari Pers Nasional diperingati pada tanggal 9 Januari setiap tahunnya. Penetapan tanggal itu didasarkan atas pertemuan sejumlah wartawan pribumi di Solo pada tanggal 9 Februari 1946 untuk membentuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dalam Kongres Nasional Ke-16 PWI di Padang, 4-7 Desember 1978, peserta kongres di bawah pimpinan Harmoko yang pada waktu itu menjabat sebagai pimpinan PWI pusat mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional (Peringatan 1985/86:9). Melalui Surat Keputusan Presiden No. 5 tahun 1985 pemerintah kemudian menetapkan hari lahir PWI itu resmi menjadi Hari Pers Nasional (ibid.: 103; Lampiran 1).

Selama Zaman Orde Baru penetapan Hari Pers Nasional yang didasarkan atas hari kelahiran PWI itu hampir tidak pernah digugat. Hal itu terefleksi dalam tajuk rencana dan berita-berita surat kabar, sejak mulai peringatan Hari Pers Nasional yang pertama, 9 Februari 1985 (lihat: Peringatan 1985/86) dan berlanjut ke tahun-tahun berikutnya selama kekuasaan Orde Baru. Hal ini dapat dipahami mengingat kontrol ketat pemerintah di segala bidang kehidupan masyarakat pada masa itu, termasuk di bidang pers. Pada masa itu banyak pihak terpaksa mengamini saja segala macam keputusan yang dibuat oleh Rezim Orde Baru. Namun setelah bergulirnya reformasi politik di Indonesia, menyusul jatuhnya Rezim Orde Baru tahun 1998, mulai terdengar berbagai kritik terhadap penerapan hari lahirnya PWI (9 Januari 1946) sebagai Hari Pers Nasional. Tampaknya alasan utama kritik itu adalah bahwa PWI bukanlah satu-satunya organisasi wartawan di Indonesia. Oleh karena itu alasan menetapkan Hari Pers Nasional berdasarkan hari kelahiran PWI dianggap tidak merepresentasikan seluruh wartawan Indonesia dan juga mengabaikan dimensi eksistensi pers pribumi sebelum zaman kemerdekaan dan sumbangsih mereka dalam penyemaian dan penumbuhan nasionalisme keindonesiaan.

Percanggahan persepsi tentang istilah Pers Nasional

Jika kita ikuti wacana publik dan diskusi-diskusi mengenai Hari Pers Nasional, dapat diperoleh gambaran bahwa timbulnya kontroversi mengenai Hari Pers Nasional disebabkan oleh tidak adanya kesamaan persepsi mengenai istilah pers nasional itu sendiri. Secara umum pemikiran-pemikiran di seputar hal ini dapat dipetakan sebagai berikut.

Pertama, bahwa pers nasional mesti muncul setelah Indonesia merdeka. Dengan demikian, kata nasional dalam konteks ini dihubungkan dengan negara-bangsa (nationstate) Indonesia yang sudah wujud dan sudah merdeka dari Belanda. Sangat boleh jadi konsep inilah yang antara lain mengemuka ketika muncul gagasan mencari Hari Pers Nasional dalam pertemuan ke-16 anggota PWI di Padang pada tahun 1978. Oleh karena PWI dideklarasikan di Solo pada tanggal 9 Januari 1946, setahun setelah Indonesia memerdekakan diri dari Belanda, maka menurut mereka logis kalau tanggal itu ditetapkan sebagai Hari Pers Nasional. Tentu saja tidak pula dapat dinafikan kemungkinan politis di balik ambisi-ambisi Harmoko sebagai ketua PWI pada waktu itu untuk menaikkan pamor organisasi kewartawanan yang dipimpinnya sekaligus untuk mendekati Presiden Suharto. Belakangan terbukti bahwa Harmoko memang diangkat menjadi Menteri Penerangan oleh Presiden Suharto dan menjabat cukup lama.

Kedua, pemikiran yang berpijak pada slogan yang berbau nasionalisme radikal dalam surat kabar pribumi, tanpa mempertimbangkan apakah surat kabar itu terbit sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan atau sesudahnya. Anggapan ini cukup masuk akal tetapi sangat sederhana: masuk akal dalam arti bahwa slogan radikal seperti itu memang secara eksplisit menyatakan perasaan nasionalisme pemilik atau redaktur surat-kabar itu, yang tak jarang adalah orang pergerakan; sederhana (atau boleh dikatakan sedikit naif) bahwa slogan surat kabar seperti itu sepertinya diandaikan dapat menyulut perasaan nasionalisme orang banyak secara serta merta dan seketika seperti api disulutkan ke ilalang kering yang sudah disirami dengan bensin, atau ibarat perintah serang oleh seorang komandan di medan perang kepada pasukannya. Ada beberapa penganut pemikiran ini, tapi yang paling menonjol di antaranya adalah Taufik Rahzen yang, lewat surat kabar yang dipimpinnya, belum lama ini meluncurkan apa yang beliau sebut sebagai Seabad Pers Nasional. Titik berangkatnya dari kelahiran surat kabarMedanPrijaji  yang dipimpin Raden Mas Tirto Adhi Soerjo di Bandung pada 1 Januari 1907.Pilihannya itu didasarkan atas slogan MedanPrijaji yang berbunyi: “Soeara bagi sekalian Radja-radja, bangsawan asali dan fikiran, prijaji dan saudagar boemipoetra dan officier-officier serta saudagar-saudagar dari bangsa jang terprentah laennja jang dipersamakan dengan anak negri di seloeroeh Hindia Olanda”, yang menyiratkan haluan politik redakturnya, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, yang anti kolonial. Pendapat Rahzen itu sepertinya menggemakan pandangan Pramoedya Ananta Toer terhadap Tirto Adhi Soerjo, sebagaimana dapat dikesan dalamS ang Pemula (1985) dimana Pramoedya menyebutnya sebagai Bapak pers nasional (hal.21). Dalam pengantarnya untuk rubrik Seabad Pers Nasional di harian Jurnal Nasional, Taufik Rahzen mengatakan bahwa MedanPrijaji adalah surat kabar pribumi yang pertama kali menyebarkan semangat rasa mardika dalam bentuk pemberitaan dan advokasi.[3]

Ketiga, pemikiran yang menganggap bahwa pers membentuk nasionalisme sebuah bangsa secara kolektif.[4]Menurut anggapan ini, surat kabar apapun yang terbit sebelum zaman kemerdekaan, sepanjang memakai bahasa Melayu dan berkasara Latin, memberi kontribusi kepada penyebaran perasaan nasionalisme Indonesia yang berpunca pada proklamasi kemedekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Dengan demikian, peran pers pribumi dalam menyemaikan semangat nasionalisme Indonesia di zaman penjajahan bukanlah atas peran dan jasa satu surat kabar saja. Ia adalah sebuah proyek gotong-royong yang berlangsung dalam rentang waktu hampir satu abad. The emergence of modern Indonesian consciousness, meminjam judul karya Ahmat Adam (1995), tidak didorong oleh sebuah surat kabar pribumi berbahasa Melayu saja dan tidak diteroka oleh MedanPrijaji. Banyak surat kabar pribumi yang sudah terbit sebelum MedanPrijaji lahir maupun sesudahnya telah ikut menyumbang bagi penyemaian dan mengembangbiakkan kesadaran nasional di kalangan bangsa Indonesia, khususnya di kalangan kaum intelektualnya.

Pers pribumi sebagai ladang persemaian nasionalisme keindonesiaan

Beberapa studi menunjukkan bahwa pertumbuhan pers pribumi (vernacular pers) telah memberi sumbangan besar terhadap penyemaian dan pembiakan kesadaran nasional (national consciousness) (lihat: Anderson 1983; Roff 1994). Berbicara tentang peran yang dimainkan pers pribumi sebagai agen pembentuk kesadaran nasional berarti berbicara tentang efek dari keberaksaraan cetak (print literacy) dalam masyarakat Indonesia. Perkembangan pers pribumi berbahasa Melayu di Hindia Belanda sejak pertengahan abad ke-19 telah memberi kesempatan kepada golongan pribumi dari latar belakang etnis yang berbeda-beda untuk saling mengenal melalui halaman-halaman surat kabar. Sadar atau tidak, sebuah kesadaran akan ruang geografi dan budaya yang lebih luas dari ruang geografi dan budaya etnis sendiri, mulai terbentuk, dan pelan tapi pasti kesadaran itu terus mengakumulasi dalam masyarakat, khususnya kalangan yang sudah melek huruf. Hal inilah yang menjadi modal dasar nasionalisme keindonesiaan yang kini kita warisi.

Sudah barang tentu perasaan nasionalisme itu dibawa oleh bahasa Melayu tulis yang dipakai dalam koran-koran pribumi yang terbit di Hindia Belanda pada masa itu. Terbentuk dan terakumulasinya perasaan nasionalisme itu tidak karena orang membaca berita politik yang bernada menentang penjajah saja. Perasaan itu bisa muncul dan terpupuk dengan membaca tulisan-tulisan yang mempunyai topik apa saja: ekonomi, budaya, sastra, musik, dan lain sebagainya.

Penggunaan bahasa Melayu beraksara Latin dalam halaman-halaman surat kabar jelas membawa perasaan baru di kalangan kaum pribumi melek huruf, berbeda hakekatnya dengan pengunaannya dalam bentuk naskah yang memakai aksara Jawi. Aksara Latin membawa perasaan modern. Sebagai lingua franca di Kepulauan Nusantara, bahasa Melayu mendapatkan peran barunya melalui tradisi keberaksaraan cetak memakai huruf Latin yang diperkenalkan oleh koran-koran peribumi tersebut. Inilah era baru dimana perasaan kebersamaan sebagai bangsa pribumi (natives) diserap melalui pembacaan atas tulisan di halaman-halaman kertas lebar menggunakan aksara Latin yang disebut surat kabar. Surat kabar atau koran itu tersebar melintasi batas-batas suku bangsa (etnik), sehingga melahirkan kesadaran bersama dan rasa senasib di antara para pembacanya yang berlain-lainan suku bangsa itu (Suryadi 2007). “Pehala soerat-chabar yang terpenting adalah Memboekakan dan mengembangkan pikiran: Ijani mengabarkan perkara segala negri negri di boemi ini, sopaja djangan kita seperti katak di bawah tempoeroeng. [] Maka barangsiapa jang membatja soerat-chabar itoe, saoelah oelah ija mendjalani segala negri negri jang terseboet dalamnja itoe, dan melihat sendirinja apa apa jang mendjadi dalam negri itoe”, demikian kata Pandjang Sedjengkal (nama pena) dalam Bentara Melajoe (terbit di Padang), edisi Selasa, 15 Mei 1877, mengutip pendapat Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1864). Kutipan itu menyiratkan pentingnya surat kabar sebagai penumbuh dan pembangun kesadaran geografis lintas wilayah dan budaya etnis dalam diri kalangan melek huruf di zaman kolonial, sehingga membentuk gambaran imajiner dalam pikiran mereka tentang wilayah luas berbilang pulau yang disebut Indonesia. Dan hal itu adalah berkat kontribusi tidak hanya MedanPrijaji, tapi juga berkat peran Soerat Chabar Bahasa Melaijoe (Surabaya, 1856), Soerat Chabar Betawi (Betawi, 1858), Selompret Malajoe [belakangan bernama Slompret Melayoe] (Semarang, 1860), Pertela Soedagaran (Surabaya, 1863), Bintang Timor (Padang, 1865), Bintang Djohar (Betawi, 1873), Mata Hari (Makassar, 1883), Pelita Ketjil (Padang, 1886), Insulinde (Padang, 1901) dan lain sebagainya.

Jadi, menurut pandangan ini setiap surat kabar pribumi pada zaman kolonial memiliki cara dan taktiknya sendiri dalam menyebarkan semangat nasionalisme Indonesia. Cara Raden Mas Tirto Adhi Soerjo dengan Medan Prijaji-nya hanya salah satu pilihan dari banyak pilihan yang tersedia dan yang mungkin. Satu cara dipilih karena itulah yang paling memungkinkan untuk konteks zamannya. Masing-masing surat kabar pribumi menyesuaikan diri dengan konstelasi politik semasa di negeri terjajah yang bernama Hindia Belanda (ibid.)

Beberapa kriteria alternatif

Dari uraian di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa menentukan hari (jadi) pers nasional tidak semudah menentukan hari jadi-hari jadi yang lain seperti Hari Kesaktian Pancasila, Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan dan lain sebagainya. Dalam menentukan berbagai macam hari jadi yang lain itu, ada peristiwa penting yang dijadikan titik landasan yang umumnya berterima dalam masyarakat. Namun dalam kasus Hari Pers Nasional, mengingat peran pers pribumi berbahasa Melayu yang bersifat gotong royong dalam menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran nasional, maka harus dicoba mencari kriteria-kriteria alternatif lain.

Dengan kata lain, penentuan Hari Pers Nasional yang dikenal sekarang mesti ditinjau ulang, sebab cenderung meremehkan peran pers pribumi Indonesia yang terbit sebelum 9 Februari 1946 yang, tak dapat diragukan lagi, sudah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap menyemaikan dan menumbuhkan kesadaran nasional. Pun kelahiran Medan Prijaji, dengan bertolak dari slogan surat kabar itu, yang digunakan oleh Taufik Rahzen, kelihatannya juga belum begitu memuaskan. Dilihat dari hakekatnya sebagai media yang bertujuan mencerdaskan masyarakat pribumi agar mereka menjadi berdaulat di negerinya sendiri, slogan “Medan-Prijaji Soeara bagi sekalian Radja-radja, bangsawan asali dan fikiran, prijaji dan saudagar boemipoetra dan officier-officier serta saudagar-saudagar dari bangsa jang terprentah laennja jang dipersamakan dengan anak negri di seloeroeh Hindia Olanda” tidak lebih menonjol dan istimewa dari slogan-slogan surat kabar-surat kabar pribumi lainnya pada zaman itu, seperti “Haloean bagi segala periai dan toean-toean jang hendak menonteoet ilmoe kepandaian dan sebagainja” (slogan Insulinde, Padang, mulai terbit 1901); “Organ bagi boemipoetra” (slogan Sinar Djawa, Semarang, mulai terbit 1914); “Soeara dan pemimpin anak negeri” (slogan Boemi Poetera, Weltevreden, mulai terbit awal 1930-an); “Soeara boeat segala bangsa” (slogan Bintang Tiong Hoa, Padang, mulai terbit 1911); “Organ dari segala bangsa” (slogan Pertja Barat, Padang, mulai terbit 1911); “Soerat chabar Melajoe dari kaoem jang berhaloean kemadjoean” (slogan Tjaja Sumatra, Padang, mulai terbit 1916); “Pembatjaan bagi pemimpin anak negeri” (slogan Tjaja Hindia, Weltevreden, mulai terbit 1913); “Penjokong gerakan kebangsaan” (slogan Tjaja Bogor, Bogor, mulai terbit 1937), untuk sekedar menyebut beberapa.[5]

Menurut saya, kriteria utama dan paling penting dalam rangka mencari Hari Pers Nasional yang punya pijakan sejarah tentu saja harus bertolak dari bahasa yang dipakai oleh pers pribumi, yaitu bahasa Melayu (yang kemudian disebut bahasa Indonesia), baik bahasa Melayu rendah maupun bahasa Melayu tinggi. Yang kedua, aksara yang dipakai adalah aksara Latin. Alasannya adalah bahwa surat kabar-surat kabar pribumi yang memakai bahasa Melayu dan beraksara Latin menumbuhkan kesadaran modern, bersifat lintas etnis, dapat dibaca oleh masyarakat pribumi melek huruf dari berbagai suku bangsa. Oleh sebab itu surat kabar-surat kabar yang memakai bahasa daerah, walau beraksara Latin, apalagi yang beraksara lokal (Aksara Jawi, aksara Jawa, dll.), seperti Darmowarsito yang berbahasa Jawa (mulai terbit 1879) dan Tapian Naoeli yang berbahasa Batak (mulai terbit 1900) dapat dikesampingkan, sebab surat kabar-surat kabar tersebut lebih diperuntukkan bagi kalangan melek huruf dari etnis tertentu saja dan, oleh karenanya, lebih menumbuhkan kesadaran etnis ketimbang perasaan nasionalisme keindonesiaan.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah soal editor surat kabar-surat kabar tersebut. Jika kata nasional dalam konteks pembicaraan kita ini mesti gayut dengan identitas ras atau bangsa, maka surat kabar-surat kabar pribumi berbahasa Melayu yang dieditori oleh orang Eropa, khususnya Belanda, sebaiknya diabaikan pula, meskipun dari perspektif sejarah misalnya, surat kabar-surat kabar yang dieditori oleh orang-orang Eropa itu juga berkontribusi dalam menyemaikan dan membesarkan perasaan nasionalisme Indonesia. Demikian pula halnya, jika kata nasional itu digayutkan dengan wilayah geografis, maka surat kabar-surat kabar berbahasa Melayu dan beraksara Latin yang terbit di luar wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia, walaupun penyebarannya sampai ke Hindia Belanda pada waktu itu, seperti Pewarta Boemi(Amsterdam, mulai terbit 1891) dan Bintang Hindia (Amsterdam, mulai terbit 1903) dapat pula diabaikan.

Berikut ini ada beberapa alternatif kriteria lain yang menurut saya perlu dipertimbangkan untuk merevisi Hari Pers Nasional, sesuai dengan tujuan workshop ini.

Bertolak dari kelahiran surat kabar pribumi terawal yang berbahasa Melayu dan berkasara Latin yang isinya tidak menunjukkan eksklusivisme etnisitas.

Bertolak dari kelahiran surat kabar pribumi terawal yang berbahasa Melayu dan beraksara Latin yang dieditori oleh intektual pribumi asli atau berdarah Indo.

Bertolak dari kelahiran surat kabar pribumi terawal yang berbahasa Melayu dan beraksara Latin yang dimiliki dan dieditori oleh intelektual pribumi yang concern terhadap pencerdasan kaum sebangsanya dan paling banyak menerbitkan surat kabar-surat kabar pribumi. Dalam hal ini dua tokoh pribumi asal Sumatra, Dja Endar Moeda (1861-19??; lihat gambar)[6], dan Mahjoeddin Datoek Soetan Maharadja (1858-1921)[7].Patut pula dicatat bahwa kedua tokoh ini, sejauh yang saya ketahui, adalah intelektual pribumi yang awal membeli atau mendirikan percetakan sendiri untuk menerbitkan surat kabar-surat kabar mereka dan buku-buku untuk murid-murid pribumi.[8]

Bertolak dari kelahiran surat kabar pribumi terawal yang berbahasa Melayu dan beraksara Latin yang dieditori oleh intelektual pribumi yang bekerjasama dengan intelektual warga keturunan atau Timur Asing lainnya seperti Cina, Arab dan India. Kerjasama intelektual yang berasal dari latar belakang etnis dan ras yang berbeda ini tentu satu catatan positif bagi keindonesiaan yang heterogen dari segi (suku)bangsa, agama dan budaya.

Bertolak dari kelahiran surat kabar pribumi terawal yang berbahasa Melayu dan beraksara Latin yang paling luas sirkulasinya di Hindia Belanda.[9]

Penutup

Dalam makalah ini, untuk memenuhi undangan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang disampaikan kepada saya kurang lebih sebulan sebelum keberangkatan saya ke Indonesia, saya sudah mengemukakan persoalan yang cukup rumit, namun tetap memungkinkan untuk dicarikan solusinya, dalam menentukan Hari Pers Nasional yang punya pijakan sejarah. Dalam waktu yang pendek dan agak tergesa, tentu saja saya tidak dapat mengolah banyak data yang sudah saya kumpulkan menyangkut eksistensi pers pribumi sebelum 1900-an dan dekade-dekade pertama abad ke-20. Namun demikian, dalam makalah sederhana ini saya coba mendiskusikan dengan para pembaca tentang kemungkinan beberapa kriteria lain yang bisa kita pakai dalam menentukan (atau merevisi) Hari Pers Nasional yang punya pijakan sejarah. Tentu saya ide-ide dalam makalah ini dapat diperkaya dengan pemikiran-pemikiran lain yang diharapkan akan mengapung dalam workshop ini.

Kepustakaan

Adam, Ahmat. 1975. The vernacular press in Padang, 1865-1913,Akademikano. 7: 75-99.

Adam, Ahmat B. 1995.The vernacular press and the emergence of modern Indonesian consciousness (1855-1913). Ithaca: Cornell University Southeast Asia Program.

Adam, Ahmat B., Dja Endar Moeda, dalam : http://www.mandailing.org/Eng/djaendar.html(dikunjungi, 18-6-2010).

Amir. 1921. In memoriam Datoe[k] Soetan Maharadja,JongSumatra, No. 1. Officieel Nummer, 4e Jrg. (1921): 107-8.

Amran, Rusli. 1986.Padangriwayatmudulu. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.

Anderson, Benedict. 1983.Imagined communities: Reflections of the origin and spread of nationalism. London: Verso.

Azwar, Nasrul. 2007. Sejarah pers Sumbar dialih orang lalu,PadangEkspres, 17 Desember 2007. Peringatan. [1985/86].Peringatan Hari Pers Nasional ke-1, 9 Februari 1985. Jakarta: Proyek Pembinaan Pers, Ditjen Pembinaan Pers dan Grafika, Departemen Penerangan.

Hartanto, Agung Dwi dkk. 2008.Sebad pers kebangsaan, 1907-2007. Jakarta: I: Boekoe.

Munsyi, Abdullah bin Abdul Kadir. 1864.Bahwa ini kitab pada menjataken dari hal djinis-djinis elmoe kepandajan orang-Airopa. Batavia: Landsdrukkerij. Pandjang Sedjengkal, Pehala Soerar-chabar (sic),BentaraMelajoe, Selasa, 15 Mei 1877.

Pramoedya Ananta Toer. 1985.Sang pemula dan karya-karya non-fiksi (jurnalistik), fiksi (cerpen/novel) R. M. Tirto Adhi Soerjo. Jakarta: Hasta Mitra.

Roof, William R. 1994.TheoriginofMalaynationalism. Kuala Lumpur:Oxford University Press.

Schrieke, B.J.O. 1973.Pergolakan agama di Sumatra Barat: sebuah sumbangan bibliografi(penerjemah: Soegarda Poerbakawatja). Jakarta: Bhratara.

Suryadi. 2007. Hari (Jadi) Pers Nasional: meremehkan peran surat kabar lain,PadangEkspres, 6 Oktober 2007.

Lampiran

Beberapa nama surat kabar dan berkala yang terbit di Hindia Belanda sebelum 1900[10]

Soerat Kabar Bahasa Malaijoe (Surabaya, 1856[11])

Soerat Chabar Betawie (Betawi, 1858)

Bintang Timoor (Surabaya, 1862)

Bintang Timor (Padang, 1864)

Selompret Melajoe (Semarang, 1865)

Biang-Lala (Betawi, 1867)

Mata Harie (Betawi, 1869)

Tjehaja Siang (Tondano, 1869)

Bintang Barat (Betawi, 1871)

Bintang Purnama (Padang, 1871)

Bentara Melajoe (Padang, 1877)

Wazir India (Betawi, 1878)

Pembrita Bahroe (Surabaya, 1881)

Tjahaja India (Semarang, 1882)

Tjahaja Moelia (Surabaya, 1883)

Dini Hari (Betawi, 1884)

Pembrita-Betawi (Berawi, 1884)

Batara Indra (Surabaya, 1885)

Pembrita-Betawi (Betawi, 1886)

Bintang Soerabaia (Surabaya, 1887)

Soeloeh Pengadjar (Probolinggo, 1887)

Bintang Barat (Betawi, 1888)

Sinar Terang (Betawi, 1888)

Tamboor Melajoe (Semarang, 1888)

Bintang Betawi (Betawi, 1893)

Penghentar (Ambon, 1894)

Pelita Ketjil (Padang, 1894)

Courant Doeminggoe (Betawi, 1894)

Matahari Terbit (Probolinggo, 1895)

Pertja Barat (Padang, 1895)

Warta-Brita (Padang, 1895)

Pengadilan (Bandung, 1897)

Tjahaja Sumatra (Padang, 1898)

Pewarta Prajangan (Bandung, 1898)

Hoekoem Hindia (Betawi, 1899)

Taman Pengajar (Semarang, 1899)

PrimbonSoerabaja (Surabaya, 1900)

Sinar Djawa (Betawi,1900)

Catatan Kaki

[1] Makalah padaWorkshop Refleksi Sejarah Pers Nasional yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Jakarta, 22 Juli 2010.

[2] Staf pengajar dan peneliti bidang kajian Indonesia, Leiden Institute for Area Studies / School of Asian Studies, Leiden University, Belanda (E-mail:s.suryadi@hum.leidenuniv.nl).

[3] Artikel-artikel yang terbit dalam Jurnal Nasional yang terkait dengan tema ini kemudian dibukukan dengan judul Sebad pers kebangsaan (2008). Proyek Seabad Pers Nasional yang diluncurkan Taufik Rahzen itu mendapat banyak tanggapan dari berbagai kalangan (Lihat mis.: http://andreasharsono.blogspot.com/2007/10/polemik-sejarah-pers-indonesia.html; dikunjungi 22/6/2010). Saya sendiri juga menulis tanggapan yang intinya menganggap bahwa penetapan hari kelahiran Medan-Prijaji oleh Rahzen sebagai titik berangkat perjalanan pers kebangsaan terasa mengabaikan peran surat kabar-surat kabar lain dalam menyemai dan membentuk nasionalisme Indonesia (Suryadi 2007).

[4] Saya termasuk salah seorang yang menganut pendapat ini (lihat Catatan 3), juga Azwar (2007) dan Andreas Harsono, sebagaimana dapat dikesan dalam tulisan-tulisan Andreas dalam blognya yang sudah diinformasikan di atas (Catatan 3).

[5] Sebenarnya slogan-slogan surat kabar pribumi ini menarik untuk disenaraikan dan dianalisis secara linguistis dan dikaitkan dengan konteks historisnya. Perhatikan misalnya pemakaiankata-kata “organ”, “haloean”, “soeara”, “penjokong”, dan lain sebagainya dalam slogan-slogan itu. Menurut saya kata “terprentah” yang terdapat dalam slogan MedanPrijaji yang tampaknya telah menginspirasi Taufik Rahzen untuk menetapkan seabad usia persnasional (1907-2007), memiliki pengertian yang relatif sama dengan kata diperintah dalam bahasa Indonesia kini. Pendapat ini didasarkan atas pengamatan saya terhadap beberapa kamus Melayu klasik. Artinya, arti kata itu cukup netral, bukan provokatif. Walau bagaimanapun, bentuk jadian “terperintah” tidak begitu terpakai lagi di zaman sekarang.

[6] Dalam kesempatan ini saya tidak akan mendeskripsikan secara rinci riwayat hidup Dja Endar Moeda dan bisnis pers pribumi yang dikelolanya. Lebih jauh mengenai Dja Endar Moeda bisnis persnya di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, lihat Ahmat B. Adam dalamhttp://www.mandailing.org/Eng/djaendar.html. Lihat juga Bintang Hindia, Thn. 1, No.15 (25 Juli 1903: 273).

[7] Riwayat hidup Mahjoeddin Dt. Soetan Maharadja, yang disebut oleh Schrieke (1973:8) sebagai “Bapak dari wartawan Melayu”, juga tidak akan dideskripsikan secara rinci di sini. Lebih jauh mengenai Mahjeddin Datoek Soetan Maharadja, lihat antara lain Amir (1921:107).

[8] Dja Endar Moeda memiliki percetakan sendiri yang bernama Insulinde, dan Mahjoeddin Datoek Soetan Maharadja memiliki percetakan sendiri yang bernama Pertjetakan Orang Alam Minangkabau. Lihat lebih jauh Adam (1975).

[9] Keluasan sirkulasi itu dapat dikesan dari tempat-tempat kantor perwakilan dan agen-agennya di Hindia Belanda.

[10] Sumber: Adam (1992, 1995).

[11] Yang dicatatkan hanya tahun awal terbitnya masing-masing surat kabar atau berkala itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: