Posted by: niadilova | 04/01/2010

‘Roman Indonesia’ : Sebuah Seri Sastra Pop Yang Pernah Terbit Di Padang

suryadi-cover-roman-indonesia-2Sampai sekarang studi sastra Indonesia modern masih tetap lebih condong kepada karya-karya yang dianggap bernilai susastra, semisalBelenggu karya Armijn Pane atau Burungburung Manyar karya YB Bangunwijaya. Sementara itu genre sastra pop, yang dianggap berseberangan dari segi estetika dan kedalaman makna dengan golongan yang pertama tadi, masih tetap dipandang sebelah mata.

Secara umum kita memperoleh kesan bahwa penelitian mengenai sastra pop Indonesia masih dapat dihitung dengan jari. Adalah R. Roolvink yang pertama kali memberi perhatian kepadanya dalam artikelnya, De Indonesische dubbeltjesroman (1950). Dalam artikel itu Roolvink menggambarkan secara umum genre roman picisan yang muncul di Medan pada tahun 1930-an.

Tahun 1963 Siti Faizah Rivai menulis skripsi di Universitas Indonesia tentang roman pitjisan sebelum perang. Sayang sekali penelitiannya itu tidak dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi dan mendalam. Sementara A. Teeuw dalam Modern Indonesian Literature (1967) hanya membuat kilasan umum mengenai sastra pop Indonesia. Tahun 2005 Nova Tampubolon menulis thesis MA di Univeristas Leiden tentang seriLupus oleh Hilman yang populer di akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Doris Jedamsky (2007) membahas perdebatan semasa mengenai genre roman yang terbit sebelum perang di kalangan umat Islam Indonesia.

Penelitian terbaru mengenai sastra pop Indonesia dilakukan oleh Sudarmoko (2008), yaitu tentang seri Roman Pergaoelan yang diterbitkan oleh penerbit Penjiaran Ilmoe di Bukittinggi antara 1937(?) -1941.

Tentu patut pula dicatat di sini beberapa penelitian mengenai apa yang disebut sebagai Sino-Malay literature, misalnya disertasi John B, Kwee, Chinese Malay literature of the Peranakan Chinese in Indonesia, 1880-1942, di Auckland University (1977), Literature in Malay by Chinese of Indonesia oleh Claudine Salmon (1981), dan seri penerbitan kembali oleh karya-karya sastra Cina peranakan yang diusahakan oleh Pax Benedanto dkk. sejak tahun 2000 yang diterbikan oleh KPG, Jakarta.

Dari segi sosiologi sastra dan sejarah, fenomena sastra pop Indonesia sesungguhnya tidak kalah menariknya daripada genre susastra (sastra dengan S besar). Sastra pop, khususnya yang terbit pada zaman sebelum perang, mengandung semangat resistensi terhadap dominasi nilai-nilai (politik, budaya, ekonomi, dan kesusastraan itu sendiri) yang nota bene ditentukan oleh pusat kekuasaan (di zaman kolonial berarti Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia). Sudarmoko (2008) menyentil peran ideologi kanonisasi sastra ala Barat yang dulu disosialisasikan Belanda dalam peminggiran sastra pop dalam dunia akademis dan kritik sastra di Indonesia sampai kini.

Satu ciri khas sastra pop Indonesia sebelum perang adalah bahwa penerbitannya tidak terkonsentrasi di Jakarta (pusat kekuasaan negara) saja. Sastra pop di zaman ituyang sering memakai istilah roman muncul di berbagai kota, baik di Jawa maupun di luar Jawa, misalnya di Medan, Bukittinggi, Padang, Djakarta, Malang, Surabaya, dan Makassar.

Salah satu korpus sastra pop Indonesia yang hampir-hampir dilupakan orang dan belum pernah mendapat perhatian akademis selayaknya adalah seri Roman Indonesia yang terbit di Padang pada 1939-1941. Artikel ini adalah catatan awal saya untuk memperkenalkan seri ini kepada pembaca. Harapan saya, akan ada yang berminat untuk menelitinya lebih lanjut.

Seri Roman Indonesia terbit pertama kali sekitar bulan September 1939. Dengan demikian munculnya seri ini di Padang kurang lebih bersamaan dengan terbitnya seri Roman Pergaoelan di Bukittinggi. Belum dapat diketahui apa hubungan (kausalitas) antara kedua seri ini. Sejauh yang dapat dikesan, tak ada penulis seri Roman Pergaoelan yang juga menjadi penulis seri Roman Indonesia, atau sebaliknya.

suryadi-roman-indonesiaSeri Roman Indonesia terbit sekali sebulan dengan ketebalan kurang dari 100 halaman dalam format buku saku. Belum dapat diketahui nomor pertama seri ini, tapi nomor kedua terbit pada bulan Oktober 1939, berjudul Tragedie Dilajar Pergerakan karya Decha, yang saya kira merupakan singkatan dari nama D. Chairat Rahman yang menjadi pemimpin redaksi seri Roman Indonesia ini (bukan pseudonym dari Rasjidin sebagaimana dikatakan Siti Faizah Rivai (1963)).

Masih sedikit yang dapat saya ketahui mengenai D. Chairat Rahman, selain bahwa tampaknya ia adalah pribadi yang aktif dalam politik pergerakan pada masa itu, seperti terefleksi dalam karya-karyanya sepertiTragedi Dilajar Pergerakan. Ia boleh disamakan dengan putra Minang lainnya, Maisir Thaib (Martha), salah seorang penulis prolifik seri Roman Pergaoelan yang menggegerkan masyarakat dengan karyanya, Oestaz A.Masjoek (1940?), sehingga akhirnya ia berkali-kali berurusan dengan penjara kolonial (lihat bukunya:Menempuh Tujuh Penjara: Pengalaman Seorang Perintis Kemerdekaan. Bukittinggi[?]: Syamza Offset Print, 1992).

Anggota redaksi seri Roman Indonesia yang lain adalah: Boerhanoeddin Suska (hoofdredacteur harianPersamaan di Padang), Dali, .A. Damhoeri (sidang pengarang); A.M. Ismail, A. Hasjmy (putra Aceh, waktu itu juga jadi staf redaksi majalah Poedjangga Baroe) dan A.M. Zainal (merangkap administrateur); A. Nas SM (ilustrator dan iklan).

Seri Roman Indonesia diterbitkan oleh Boekhandel & Uitgever [Toko Buku & Penerbit] Noesantara yang beralamat di Pasar Malintang Padang, yang juga menjual buku-buku terbitan penerbit lain di Sumatra dan Jawa. Paling tidak seri Roman Indonesia dicetak oleh dua percetakan: De Volharding di Padang dan Tsamaratoelichwan di Fort de Kock (Bukittinggi). Harga setiap judul berkisar antara 0.17 0.50 Gulden.

Para penulis seri Roman Indonesia tampaknya tidak berasal dari Minangkabau saja, tapi juga dari daerah lain, misalnya Sjamsoedin Nasoetion dari Sumatra Utara (lihat Senarai Judul Seri Roman Indonesia).

Dalam pengantarnya untuk seri no.2 [hlm.2], sidang redaksi menulis: Roman Indonesia akan tetap menghidangkan dengan djalan berganti2: ROMAN POLITIEK, ROMAN SEDJARAH, ROMAN DETECTIVE, ROMAN SEMANGAT, ROMAN SOCIAAL [] mengichtiarkan roman jang mengandoeng isi dan paedah oentoek masjarakat.

Kutipan di atas menyiratkan fungsi sastra pop pada era sebelum perang yang cukup berbeda dengan masa sekarang yang cenderung lebih mengeksploitasi aspek erotisme saja. Di zaman kolonial genre roman juga menjadi media perlawanan atau propaganda politik menentang memerintah kolonial Belanda, di samping juga mengandung pelajaran sejarah. Peran ini menghilang dalam sastra pop Indonesia kontemporer seperti dapat dikesan dalam seri Nick Carter, Lupus, atau karya-karya Fredy S.

Seri Roman Indonesia berhenti terbit dari pada tahun 1941. Dengan demikian seri ini hanya bertahan selama kurang lebih tiga tahun saja. Belum dapat diketahui penyebab tamatnya riwayat seri ini. Penyebabnya boleh jadi karena tekanan politik kolonial seperti yang juga dialami oleh seri Roman Pergaoelan (Sudarmoko 2008), tetapi mungkin juga karena sifat kesementaraan yang merupakan salah satu ciri penting kehidupan sastra di Indonesia, seperti dikatakan Will Derks dalam artikelnya A literary mycelium: some prolegomena for a project of Indonesia literatures in Malay (JSEAS 32.3, 2001:367-84).

Walau bagaimanapun, dimensi kesejarahan, budaya, politik, ekonomi, dan kesastraan seri Roman Indonesia yang pernah meramaikan jagat kesusastraan (populer) Indonesia, tentu menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Senarai judul seri Roman Indonesia

Berikut ini senarai judul-judul seri Roman Indonesia yang berhasil teridentifikasi. Tahun terbit beberapa judul belum dapat ditentukan secara pasti karena sering tidak tercatat dalam eksemplar aslinya. Kemungkinan masih ada beberapa judul lagi dari seri ini yang belum terlacak, untuk mana penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.

Decha. 1939. Tragedie dilajar pergerakan: roman semangat! Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Dniar S.B.. 1939. Ke Boven Digoel dengan kekasih. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].*

Dniar S.B.[?]. 1939. Pemboenoehan ngeri. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].*

Dniar S.B.[?]. 1939. Dibawah kaki Merapi. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].*

Tahir, R.A. 1939. Bereboet harta. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Decha.1939 [?]. Perantaian 167. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Decha.1940. Gagak hitam memboeka rahasia. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].*

Decha.1940. Gagak hitam menjoesoel. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Decha. 1940. Gagak hitam contra Elang Merah. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Chairat, D..1940. Soempah iboe. Padang: Noesantara [Roman Indonesia].

Chairat, D..1940 [?]. Djoelist boeaja Betawi. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Decha. 1940. Bereboet Palestina: pertentangan antara kewadjiban dan tjinta: sedjarah dan perdjoangan. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Damhoeri, A. 1940. Djajanagara. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Damhoeri, A. 1940. Karena menghilangkan djasa. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].*

Damhoeri, A. 1940. Poetera mahkoeta Kelantan. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].*

Damhoeri, A. 1940. Liesje van Minang. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].*

[Rahman]. D. Chairat. 1940. Memegang gagang pena. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].*

Doeta. 1940. Di tepi Soengai Brantas. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Emhy. 1940 [?]. Dalam genggaman 2 komplot: Tragedie. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Nasoetion, Sjamsoeddin.1940. Keris poesaka (fictief). Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Nasoetion, Sjamsoedin.1940 [?]. Ditepi djoerang kematian. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

Manuturi, D.E.. 1941. Tjintanja seorang voetballer: fictief. Padang: Noesantara [Seri Roman Indonesia].

* Diidentifikasi dari iklannya, contoh eksemplarnya belum ditemukan.

Suryadi, dosen dan peneliti di Leiden Institute for Area Studies (LIAS), Universiteit Leiden, Belanda

Catatan: artikel ini juga dimuat di harian Padang Ekspres, Minggu, 3 Januari 2010.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: