Posted by: niadilova | 03/11/2008

TRANSKRIPSI TEKS LAGU DALAM KLIP VCD MINANG (Catatan kecil untuk pelaku industri rekaman daerah Sumatera Barat)

vcd-minangSejak beberapa tahun belakangan ini saya melakukan penelitian yang cukup mendalam mengenai seluk-beluk industri rekaman daerah di Sumatera Barat dalam rangka menulis disertasi di Universitas Leiden dengan judul proposal: The Cultural Significance of the Regional Recording Industry and Minangkabau Commercial Cassettes in West Sumatra, Indonesia. Penelitian itu, dengan pendekatan studi budaya (culturalstudies) dan studi media (media studies), mencakup teks dan konteks kaset-kaset komersial Minang dan unsur-unsur yang terlibat dalam kemunculan dan perkembangan perusahaan-perusahaan rekaman daerah di Sumatera Barat sejak zaman piringan hitam sampai era VCD.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Sumatera Barat adalah inti (core) industri rekaman daerah di Indonesia bagian barat, bahkan mungkin yang paling menonjol di luar Jawa (Barendregt 2002; Suryadi 2003). Industri rekaman daerah Sumatera Barat telah mempengaruhi perkembangan musik pop Minang dan genre-genre tradisional lainnya, menimbulkan dinamika pada seni (pop) daerah-daerah sekitarnya (seperti daerah Kampar yang terkenal dengan kaset-kaset Ocu-nya yang kebanyakan direkam di Padang dan Bukittingi (Suryadi 2005).

Berkat perkembangan industri rekaman daerah Sumatera Barat, pop Minang menjadi dikenal di level nasional dan diapresiasi juga oleh etnis-etnis lain di luar etnis Minangingat misalnya lantunan lagu-lagu Minang oleh Betharia Sonatha dan Edy Silitonga). Banyak album pop Minang yang direproduksi dengan legalisasi Pemerintah Malaysia dan diedarkan di negara itu (Suryadi 2007).

Karena terbatasnya ruang, artikel ini tidak menguraikan aspek teoretis dan temuan-temuan empiris seputar industri rekaman daerah Sumatera Barat, tetapi lebih difokuskan kepada satu aspek intrinsik VCD karaoke Minang, yaitu transkripsi (tampilan visual) teks lagu-lagu dalam VCD Minang.

Setelah menonton puluhan VCD Minang, khususnya album-album pop Minang, saya sampai kepada kesimpulan bahwa proses produksi VCD itu, yang jumlahnya mungkin puluhan ribu, atau mungkin lebih, tampaknya agak mengabaikan unsur kebahasaan.

Proses pengeditan unsur visual dalam VCD karaoke Minang, khususnya yang terkait dengan transkripsipemindahan dari lisan ke tulisanteks lagu-lagu dalam banyak album pop Minang, tampaknya tidak (pernah) melibatkan bahasawan. Akibatnya, cukup banyak ditemukan kesalahan leksikal dan gramatikal dalam transkripsi teks-teks lagu dalam banyak VCD Minang.

Beberapa kesalahan atau ketidakkonsistenan penulisan dalam trankripsi itu yang sudah saya identifikasi adalah: penulisan huruf pertama kalimat, nama orang, gelar, jabatan, dan nama tempat tidak memakai huruf besar; penulisan awalan (tunggal maupun ganda) dan akhiran dipisahkan dari kata dasarnya; penulisan kata depan digabungkan dengan kata yang mengikutinya; penulisan partikel Si digabungkan dengan kata yang mengikutinya; dan penulisan partikel lah dipisahkan dari kata yang diikutinya.

Sekedar contoh untuk melihat kesalahan-kesalahan di atas, berikut saya sajikan transkripsi teks lagu Dendang jo Tari (lagu no.5) dalam VCD 12 Karya Emas Legendaris; Tari & Lagu Yusaf Rahman oleh Sanggar Tari Syofyani (vokalis: Vika Ardi; Padang: Tanama Record, tanpa tahun). Di dalam tabel, kesalahan-kesalahan penulisan (lihat kursif) ditaruh di kolom sebelah kiri, sementara di kolom sebelah kanan dijelaskan penulisan yang sebenarnya yang diberi tanda garis bawah.

Tertulis di tampilan visual VCD karaoke

Cara penulisan yang seharusnya

mari kito kaladang (Ref.)kaladang ambiak kamirimari kito badendang

badendang sambia manari

babiduak kapulau pandan

baranang yo kasubarang

lenggang lenggok kan badan

sairiang jo buni gandang

marilah kito

baoklah manari basamo

sambia bandedang basuko hati

tuo jo mudo

tagak manari basamo

hilangkan rusuah yo didalam hati

kapulau kito kapulau

kapulau manjariang udang

bagurau mari bagurau

bagurau jo hati sanang

rang mudo dikoto gadang

nak pai kabukiktinggi

manari sambia badendang

hilangkan rusuah dihati

mari lah kito

baoklah manari basamo

sambia badendang basuko hati

tuo jo mudo tagak manari basamo

hilangkan rusuah

yo didalam hati

Mari kito ka ladangka ladang ambiak kamirimari kito badendang

badendang sambia manari

Babiduak ka Pulau Pandan

baranang yo ka subarang

lenggang lenggokkan badan

sairiang jo buni gandang

Marilah kito

baoklah manari basamo

sambia badendang basuko hati

Tuo jo mudo

tagak manari basamo

hilangkan rusuah yo di dalam hati

Ka pulau kito ka pulau

ka pulau manjariang udang

bagurau mari bagurau

bagurau jo hati sanang

Rang mudo di Koto Gadang

Nak pai ka Bukiktinggi

manari ambia badendang

hilangkan rusuah di hati

Marilah kito

baoklah manari basamo

sambia badendang basuko hati

Tuo jo mudo tagak manari basamo

hilangkan rusuah

yo di dalam hati

Pada tataran leksikal sering juga ditemukan kesalahan penulisan yang tentu saja dapat mengelirukan makna. Demikianlah umpamanya, dalam album yang sama tertulis secara visual di layar televisi tuanku basah / basah batuah, kanduang yang maksudnya adalah Tuanku Basa / Basa Batuah, Kanduang (lagu nomor 1: Tari Pasambahan) dan kasiah bakisah kami ndak tahu, yang maksudnya adalah …kasiah bakisa kami ndak tahu (lagu nomor 9: Tari Patenggangkan) (kursif dan garis bawah oleh Suryadi).

Dalam VCD Album Kocak Edi Cotok dkk. (Bukittinggi: Minang Record, tanpa tahun) kesalahan penulisan itu lain lagi: huruf pertama pada setiap kata ditulis dengan huruf besar, seperti dapat dilihat dalam kutipan teks lagu ketiga, Nasib Seniman: Oi Adiak Niniang Lai Dentau (sic) / Jikok Rasaki IndakBapintu / Mangko Den Jago Lah Tinggi Hari / Bakureh Malam Sampainyo Pagi (kursif oleh Suryadi).

Hemat saya, kesalahan leksikal dan gramatikal pada transkirpsi teks-teks lagu dalam VCD Minang itu akan dapat dihilangkan apabila proses editing-nya juga melibatkan pula bahasawan. Saya kira kesalahan-kesalahan tersebut disebabkan tidak ada pemilahan antara aspek kelisanan dan keberaksaraan ketika pelaku industri rekaman daerah Sumatera Barat memproduksi VCD-VCD Minang. Yang harus diingat adalah bahwa begitu teks lagu-lagu itu dituliskan, kita mesti tunduk kepada dan taat azas mengikuti sistem ortografi Bahasa Minang (lihat Lukman Ali dkk.1990).

Ke depan, transkripsi teks lagu-lagu yang akan ditampilkan dalam video klip VCD karaoke album-album pop Minang seharusnya dibuat dengan sebaik mungkin dengan berpedoman kepada sistem ortografi (ejaan) yang berlaku. Dengan begitu, berarti pelaku industri rekaman daerah telah ikut memberi kontribusi positif mereka bagi pengembangan dan pelestarian Bahasa Minangkabau. Jika kesalahan itu terus berlanjut bukan tak mungkin akan berdampak negatif kepada kebudayaan dan Bahasa Minang, mengingat lagu pop Minang diapresiasi oleh orang Minang secara luas, baik di ranah sendiri maupun di rantau, dan juga oleh masyarakat di luar etnis Minangkabau.

Kerja yang baik para pelaku industri rekaman daerah Sumatera Barat dalam soal editing transkripsi teks lagu-lagu dalam VCD Minang, secara langsung atau tidak, ikut membantu proses standardisasi dan pemeliharaan Bahasa Minang. Lagu-lagu daerah seperti pop Minang adalah salah satu inang bagi pengembangan dan pemertahanan penggunaan bahasa daerah, baik dalam arti lisan maupun tulisan. Kreasi prima dari para pelaku industri rekaman daerah Sumatera Barat, yang tidak mengabaikan aspek-aspek kebahasaan yang terkait dengan produk yang mereka hasilkan (dalam hal ini VCD), sacara langsung atau tidak, tentu akan memberi sumbangan yang amat bernilai bagi keberlangsungan eksistensi kebudayaan Minangkabau.

Rujukan

Buku/Artikel

Ali, Lukman, dkk. 1995. Pedoman Ejaan Bahasa Minangkabau. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud.

Barendregt, Bart. 2002. B2002. The sound of longing for home; Redefining a sense of community through Minang popular music, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 158-3: 411-450.

Suryadi. 2007. Transnasionalisasi muzik Indonesia; Makna kultural dan fungsi sosio-politik resepsi muzik pop Minang di Malaysia, Jurnal Wacana Seni vol. 6: 1-30.

Suryadi. 2005. Media, identity, and the margins: Radio in Pekanbaru, Riau (Indonesia), Journal of Southeast Asian Studies 36.1: 131-151.

Suryadi. 2003. Minangkabau commercial cassettes and the cultural impact of recording industry in West Sumatra, Asian Music 32.2: 51-89.

VCD Minang

Cotok, Edi, dkk. tt. Album Kocak. Karnslay: Kandua Salayang. Bukittinggi: Minang Record.

Sanggar Tari Syofyani. tt. 12 Karya Emas Legendaris; Tari & Lagu Yusaf Rahman. Padang: Tanama Record.

*Catatan: artikel ini dimuat Padang Ekspres, Minggu, 2 November 2008.

Suryadi, dosen dan peneliti Opleiding Talen en Culturen van Indonesi, Universiteit Leiden,

Belanda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: