Posted by: niadilova | 14/10/2008

Menyambut FSSM, Mengenang “Abuan Saudagar”

Berbeda dengan Pertemuan Saudagar Bugis yang berlangsung di Makassar (4-5 Oktober 2008) yang terus-terang menyatakan dukungan politik kepada pasangan SBY-JK untuk pemilu mendatang (Kompas 6-10-2008), Panitia Forum Silaturahmi Saudagar Minang (FSSM) yang, sebagaimana halnya Pertemuan Saudagar Bugis, akan dibuka oleh Wakil Presiden, Yusuf Kalla, sudah lebih dahulu menyatakan bahwa kegiatan ini tidak bermotif politik (Padang Ekspres, 10-10-2008).

Pernyataan itu tampaknya dimaksudkan untuk mengantisipasi isu-isu yang terkait dengan politik praktis yang di negeri ini acap kali mengemuka kalau orang sudah berkumpul-kumpul, apalagi yang berkumpul-kumpul itu orang besar-besar seperti para saudagar Minang yang sudah berjaya di berbagai rantau.

Konon saudagar Minang itu bermental sentrifugal, berbeda dengan saudagar Cina yang bermental sentripetal. Jadi, untuk menyatukan mereka memang merupakan suatu tantangan yang berat juga. Dan oleh sebab itu pula secara umum koneksi dan jejaring (networks) di antara saudagar Minang itu tak begitu solid. Jadi, kalau sekarang lebih dari 700-an orang saudagar Minang akan pulang kampung dan berkumpul-kumpul, membincangkan berbagai hal untuk kemajuan sesamanya, maka hal itu adalah sesuatu yang luar biasa dan patut disambut gembira. Mudah-mudahan urun rembuk para saudagar Minang dalam FSSM itu mencerminkan pula perubahan filosofi hidup dan filosofi dagang di antara para saudagar Minang.

Tinggal pertanyaan: akankah FSSM yang kedua inimudah-mudahan akan berlanjut pada tahun-tahun berikutnyadapat menjadi tali singalik bagi saudagar Minang di kampung untuk dapat memanjat ke tingkat yang lebih tinggi? Dengan kata lain, apakah FSSM ini akan membahas langkah-langkah dan terobosan konkrit untuk lebih memberdayakan saudagar Minang yang berusaha di kampung halaman? Sejauh mana forum silaturahmi itu mambao sato rekan-rekannya yang ada di ranah? Semua itu tentu terpulang kepada para saudagar dari rantau yang akan berurun rembuk itu.

Untuk itu mungkin ada baiknya kita mengenang kembali pertemuan saudagar Minang yang pertamasejauh yang diketahuiyang diadakan pada akhir 1920-an. Pada tanggal 6 Desember 1930 beberapa orang saudagar Minang seperti Anwar Sutan Saidi, M. Taher Marah Sutan, Datuak Mangulak Basa, dan lain lain, bertemu di toko Haji Sulaiman di Bukittinggi (Fort de Kock). Pertemuan itu diikuti oleh anggota teras Perhimpunan Saudagar Indonesia (HSI) Cabang Bukittinggi. HSI adalah himpunan saudagar kecil Minang yang berpusat di Padang. Organisasi ini bersifat nonpolitis yang ditujukan sebagai forum tempat bermusyawarah untuk membela kepentingan dagang mereka dan dalam upaya melindungi saudagar Minangkabau dalam berkompetisi dengan pedagang Tionghoa yang mendapat proteksi dan prioritas dari Belanda (Sudarmoko 2008:43).

Pertemuan di toko Haji Sulaiman (Percetakan Islamiyah) itu menyepakati pembetukan apa yang kemudian dikenal sebagai Abuan Saudagar. Organisasi ini kemudian berkembang dan banyak menolong para saudagar yang kekurangan modal. Organisasi inilah yang menjadi cikal-bakal Bank Nasional yang sempat menjadi kebanggaan orang Minang karena bank itu memberi pinjaman kepada para pedagang kecil dan menengah Minang untuk memajukan usaha mereka (lihat: Aziz Thaib dkk.1970).

Berbeda zaman tentu berbeda pula tantangan yang dihadapi oleh saudagar Minang. Akan tetapi tetap saja ada pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa sejarah di masa lalu. Forum silaturahmi saudagar Minang yang tergabung dalam HSI pada tahun 1930 di Bukittingi berhasil mendirikan Abuan Saudagar yang kemudian berkembang menjadi Bank Nasional, sebuah sumbangan nyata para sudagar Minang yang bermodal besar pada waktu itu untuk membantu rekan-rekan mereka yang bermodal kecil atau kekurangan modal.

Dia abad ke-21 ini kembali saudagar Minang mengadakan pertemuan dan silaturahmi. Masyarakat ingin melihat apa wujud konkrit dari hasil silaturahmi itu, seperti terefleksi dalam berbagai komentar yang muncul di media. Dengan berbagai fasilitas modern yang ada sekarang, mestinya FSSM jangan sampai kalah oleh para pendahulu mereka dalam membantu mewujudkan kerjasama dan saling memberi dorongan, baik moril maupun materil, demi untuk kemajuan sesama saudagar Minang, yang tentu akan berdampak kepada masyarakat Minangkabau secara keseluruhan.

Di tahun 1930 Anwar Sutan Saidi dan kawan-kawan mengadakan rapat di Bukittinggi di bawah pengawasan mata elang aparat PID (Politieke Inlichtingen Dienst) Belanda; minggu ini Fahmi Idris dan kawan-kawan bertemu dan berkumpul di Padang di bawah kilatan lensa sensitif kamera para wartawan. Mari sama-sama kita lihat apa efeknya terhadap para saudagar Minang yang ada di ranah.

Jika tidak ada konkretisasi dari FSSM (yang kedua) ini, maka masyarakat Minangkabau, baik yang di rantau maupun yang di ranah, mungkin boleh menyebutnya sebagai sekedar pulang basamo saudagar perantau Minang.

Oleh Suryadi, dosen dan peneliti Leiden University, Belanda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: