Posted by: niadilova | 07/06/2008

J.L. Van Der Toorn: Kepala Sekolah Raja (Kweekschool) Bukittinggi Pemerhati Budaya Minang

jl-vanBagi peneliti sejarah Minangkabau, khususnya di bidang bahasa, pendidikan, dan antropologi, nama J.L. van der Toorn tentu tidak asing lagi. Tetapi mungkin sekarang tidak banyak orang yang tahu nama Van der Toorn dan sumbangan ilmiah yang telah diberikanya kepada the body of knowledge kebudayaan Minangkabau.

J.L. van der Toorn adalah salah seorang directeur (kepala) Sekolah Raja (Kweekschool) di Bukittinggi, sebuah sekolah Eropa yang ternama di Sumatra pada zaman kolonial yang mulai didirikan tahun 1872 (sebelumnya bernama Noormaalschool yang didirikan tahun 1856). Ia menjabat sebagai kepala sekolah itu tahun 1877 sampai 1888, dan kemudian menjabat lagi selama beberapa bulan saja di awal tahun 1895. Beberapa guru yang pernah membantu Van der Toorn mengajar di Sekolah Raja yaitu guru Eropa kelas 2 D. Grivel (1877-1883), J. Ennen (1884-1888), W. Voorthuijsen dan J.G. Dammerboer (1895); Guru Eropa kelas 3 L.K. Harmsen (1877-1878), C.J. van Haastert (1879-1881), dan G.J.F. Biegman (1882-1897) yang kemudian juga menjadi directeur sekolah itu (1897-1904). Selain itu ada empat orang guru Melayu/Minangkabau yang pernah membantu Van der Toorn, yaitu Nawawi, Si Daoed Radja Medan, Dt. Pada Besar, dan Soetan Oloan.

Selama masa tinggalnya di Sumatra Barat (1877-1895), di samping mengajar, Van der Toorn juga banyak mengadakan penelitian mengenai berbagai aspek kebudayaan Minangkabau, yang telah menghasilkan lebih dari selusin artikel ilmiah dan buku mengenai bahasa, upacara tradisional dan kepercayaan lokal orang Minang.

Van der Toorn sangat rajin mencatat berbagai aspek kebudayaan Minangkabau. Ia boleh disebut sebagai sarjana (Eropa) pertama yang dengan serius berusaha mengembangkan bahasa Minangkabau ragam tulis memakai huruf Latin. Ia menyusun kamus pertama Minangkabau-Belanda dan ejaan pertama untuk Bahasa Minangkabau (1891). Pada tahun 1899 ia menerbitkan buku Tatabahasa Minangkabau yang pertama: Minangkabau Spraakkunst (s-Gravenhage: Nijhoff).

Van der Toorn juga menulis beberapa artikel mengenai bahasa Minangkabau yang isinya ingin menunjukkan bahwa Bahasa Minang adalah bahasa tersendiri, bukan sekadar sebuah dialek Bahasa Melayu Riau. Ia menyebut bahwa Bahasa Minangkabau kaya sekali. Ia tertarik dengan kata-kata indah dalam Pasambahan dan menulis beberapa artikel tentang upacara perkawinan orang Minangkabau. Ia juga mengusahakan penerbitan beberapa kabaMinangkabau dan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Belanda, seperti Kaba Mandjau Ari,Minangkabausche Vertelling (Batavia: Albrecht & Co.,1885) dan Kaba Cindoer Mato:Minangkabausch-Maleische Legende (Batavia: Albrecht & Rusche,1886).

Van der Toorn juga menulis beberapa artikel tentang kepercayaan tradisional orang Minang: dalam Babagai-bagai Tjoerito nan Dipitjajoi Oerang Melaijoe Tanah-Dar Alam Minangkabau (Verscheidene Verhalen omtrent het Bijgeloof van de Malaiers in het Land Minangkabau, (Tijdscrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 25, 1879: 441-459), misalnya, Van der Toorn mencatat Carito Palasik, Carito Batu Pandapekan di Tj. Sungayang, Carito Urang Tuo jo Urang Aluih di Sungai Kamuyang, Carito Urang jadi-jadian,Carito batu Mandaruik, tradisi Batarak, Carito urang diangkuik urang Bunian, dan Carito urang Manangkok Harimau.

Unsur kepercayaan tradisional Minangkabau yang paling menarik bagi Van der Toorn adalahsumangaik yang, menurut kepercayaan orang Melayu tanah darek, dapat dikeluarmasukkan ke dalam tubuh manusia melalui guna-guna. Ini dipraktekkan secara luas dalam banyak aktivitas magis (ilmu hitam dan putih) seperti dalam tradisi manggasiang, manggayuangorang, dan pedukunan. Jihin (jin) adalah makhluk halus yang dipercayai dapat diminta bantuannya dalam aktivitas-aktvitas magis seperti itu.

Van der Toorn mencatat beberapa mantra yang merefleksikan kepercayaan terhadapsumangaik itu, seperti mantra berikut ini: Babuah-buah si lakuik / babuah duo puluah / sumangaik lah kami japuik / badiri ka batang tubuah ; Babuah-buah si lakuik / babuah sakampia baih / sumangaik lah kami japuik / badiri ka jari manih ; Babuah-buah si lakuik / babuah sakampia pandan / sumangaik lah kami japuik / badiri ka induak tangan ; Babuah-buah si lakuik / babuah sakampia padi / sumangaik lah kami japuik / badiri ka induak kaki ;Babuah-buah si lakuik / babuah duopuluah aso / Sumangaik lah kami japuik / badiri ka urang-urang mato (Van der Toorn, Het Animisme bij den Minangkabauer der Padangsche Bovenlanden, BKI 39: 48-104, hal. 52-3; ejaan disesuaikan).

Saya belum memeroleh informasi kapan persisnya Van der Toorn lahir dan meninggal. Tampaknya ia dilahirkan di Scheveningen, sebuah distrik pantai di Belanda (lihat syair di bawah). Pada tahun 1895 Van der Toorn diberhentikan sebagai kepala sekolah Raja Bukittingi. Ia hanya menjabat sampai bulan Maret saja tahun itu (lihat syair di bawah). Masih kurang jelas apakah ia diberhentikan karena memang sudah memasuki usia pensiun atau karena sebab lain (misalnya karena tidak setuju dengan kebijakan pemerintah Jajahan Belanda). Aneh sekali bahwa dalam satu artikelnya, Van der Toorn memakai pseudonymEen Wachtgelder (Seorang pegawai yang dibebastugaskan) (lihat Tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur 7, 1892:146-166).

Sejarah kolonial mencatat bahwa banyak pegawai kolonial dari kalangan non-militer yang bersimpati kepada masyarakat jajahan: sebagai contoh, ada nama Multatuli dan S.E.W. Roorda van Eysinga di Jawa (Eysinga telah menulis sebuah puisi berjudul De Laatste dag de Hollanders op Java, Hari terakhir orang Belanda di Jawa, yang mengeritik keras Pemerintah Kolonial Belanda, yang akhirnya memecatnya sebagai pegawai kolonial dan memulangkannya ke Belanda tanpa santunan). Di Sumatra Barat kita tentu ingat nama Residen Le Febre yang sangat bersimpati kepada masyarakat Minang yang diperas oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk mengerjakan program Tanaman Paksa (Cultuurstelsel) dan membayar belasting, dan karena itu juga cepat didepak oleh pimpinannya di Batavia.

Yang jelas bahwa Van der Toorn, yang amat tertarik dengan bahasa dan kebudayaan Minangkabau, adalah seorang guru dan kepala Sekolah Raja Fort de Kock (Bukittinggi) yang dekat sekali dengan murid-murid pribumiya, suatu sikap yang memang tidak disukai oleh pemuja kolonialsme yang tetap ingin merendahkan martabat dan menjaga jarak sosial dengan masyarakat jajahan. Ketika ia dan istrinya akan meninggalkan Sumatra Barat sekitar Maret 1895, murid-muridnya mempersembahkan sebuah syair (terdiri dari dua bagian: I & II; aksara Latin) untuknya, yang berisi ungkapan perasaan sedih mereka berpisah dengan guru yang mereka cintai itu. Syair itu saya salinkan di bawah ini. Ejaanaslinya sengaja saya pertahankan, agar pembaca masa kini dapat memeroleh kesan tentang bentuk bahasa tulis schoolchriftenbahasa tulis anak sekolah Minangpada abad ke-19. Naskah syair ini sekarang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Cod. Or 5825). Terima kasih kepada Jeffrey Hadler yang menarik perhatian saya untuk membaca naskah ini. Foto Van der Toorn yang jadi ilustrasi untuk tulisan ini diambil dari Gedenkboek; Kitab Peringatan Kweekschool Sekolah-Radja Fort de Kock Boekit-Tinggi, 1873-1908(Arnhem: Thieme, [1908]) hal.16, yang disusun oleh Guru Nawawi dan kawan-kawan.

Sair Toean van der Toorn I
5825, Universiteitsbibliotheek Leiden)

Mengangkat tangan sapoeloeh djari
Kapada toean laki isteri
Ampoen karoenia minta dibari
Kami berdatang sambah dan pari
Berdatang sambah kabawah tachta
Kapada toean tadjoek mahkoeta
Serta njonja emas djoewita
Kadoeanja padoeka tempat berkata
Toean kadoea oesoel jang sahda
Kami sekalian mana jang ada
Pada pikiran di dalam dada
Kadoeanja bagai ajah dan boenda
Tjinta kami oetoes beroetoes
Salama hidoep tidakkan poetoes
Maskipoen tahoennja berbilang ratoes
Antah ko njawa soedahlah poetoes
Karena padoeka orang dermawan
Toeloes ichlas barang kelakoean
Itoe membawa hati jang rawan
Kapada kami orang sakawan
Akan padoeka toean antalas
Hati toeloes lagipoen ichlas
Belijau pengasih soedahlah djelas
Goena ta dapat kami membalas
Dengan padoeka seri oetama
Kami bertjampoer beloemlah lama
Sakedar satahoen bersama-sama
Banjaklah pengadjaran kami terima
Akan padoeka empoenja djasa
Sedikit tidak memberi binasa
Kami membalas tidak koeasa
Hanya harapkan Toehan jang esa
Harap kami bersoenggoeh hati
Kapada Toehan raboel izati
Membalas toean empoenja pekerti
Dengan selamat djangan berhenti
Demikian pikir petang dan pagi
Doa kapada Toehan jang tenggi
Razki tjoekoep Allah membahagi
Mara bahaja biarlah pergi
Selamat samperna poeteri Wilhelmina
Di tanah Nederland dengan sampoerna
Kami poehoenkan kapada Allah Soebhana
Warta baginda masjhoer bahana

Sair Toean van der Toorn II

Maksoed kita segala orang
Sebab berkoempoel masa sekarang
Semoeanja itoe soedahlah terang
Bersoeka2an berhati girang
Maafkan toean djangan tiada
Akan sekalian kami jang ada
Rasanja hati sangatlah goenda[h]
Hantjoer rasanja di dalam dada
Karena toean akan berdjalan
Maart [1895; Suryadi] koenoen namanja boelan
Kami sekalian orang setolan
Pintakkan toean selamat didjalan
Harap kapada Toehan Jang Esa
Dalam perdjalanan nama dewata
Selamatlah toean senantiasa
Terhindar dari bala binasa
Berkat Allah Toehan jang tinggi
Padoeka selamat patang dan pagi
Salamat datang salamat pergi
Meninggalkan negeri Boekittinggi
Moela berangkat di bovenlanden
Naik kapal di benedenlanden
Menompang kapal singgah di Aden
Selamatlah sampai di Nederlanden
Di Nederland tanah jang rendah
Scheveningen negeri jang endah
Boleh bertemoe ajah dan boenda
Karena batjarai lamalah soedah
Sabagai lagi kami oetjapkan
Oemoer oesia Allah landjoetkan
Mara bahaja Allah djaoehkan
Rezeki moerah Allah toeroenkan
Barang dikaboelkan Allah Taala
Kami sekalian demikian poela
Moedah2an kemoedian kala
Padoeka dan kami bertemoe poela
Sadikit lagi kahendaknja hati
Barang dikaboelkan Rabbil izati
Bagai nan hilang bagai pengganti
Demikianlah harap tiada berhenti
Dipoehoenkan kapada Toehan jang bahri
Rahman kasihan Ia memberi
Bagaimana nan hilang baitoe panoekari
Sahingga ini saja berperi
Soenggoeh saorang berdatang sembah
Ibarat sekalian tiada beralah
Kami sakoempoel sebagai lebah
Pikiran masing2 soedah di gobah

Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesi Universiteit Leiden, Belanda (Email: s.suryadi@hum.leidenuniv.nl)

Advertisements

Responses

  1. Reblogged this on Bukit Tinggi Heritage and commented:
    Salah seorang Kepala Sekolah Raja


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: