Posted by: niadilova | 06/06/2008

Mengenang Kebangkitan Bahasa Nasional

Lebih dari 400 tahun lamanya sebuah bahasa asing dari utara, dengan struktur morfologis, sintaksis, dan semantis yang sangat aneh terdengar di telinga dan sulit dilafalkan oleh mulut si pribumi, bertengger di atas puncak piramid struktur sosial-politik bumi Nusantara bikinan Belanda. Bahasa itu adalah Bahasa Belanda—sebuah bahasa yang pada mulanya diperkenalkan di bumi persada ini oleh mulut para pencari rempah-rempah dari Eropa yang berkulit putih, berhidung mancung, berperawakan tinggi dan sering brewokan. Posisi superior dan ekslusif Bahasa Belanda itu ditegakkan oleh si penjajah di bumi Nusantara dengan pena, lidah, dan senjata.

Selama beratus tahun Bahasa Belanda diangungkan dan dibuat ekslusif dalam masyarakat Hindia Belanda yang dikendalikan oleh minoritas ruling class penjajah sehingga sulit diakses oleh kaum pribumi. Seperti kata Kees Groeneboer dalam Jalan ke Barat: Bahasa Belanda di Hindia Belanda, 19600-1950 (1995), ‘penjarakan’ Bahasa Belanda dari kaum pribumi itu disengaja, yang maksudnya adalah untuk menjaga superioritas dan hak-hak istimewa si penjajah serta menghalangi subjek terjajah untuk menjadi pintar. Kebijakan itu dipertahankan selama lebih dari empat abad dengan politik bahasa kolonial yang terencana. Hasilnya: beratus tahun lamanya Bahasa Belanda yang minoritas itu berdiri pongah di hadapan bahasa-bahasa pribumi di Nusantara.

Dalam artikelnya yang menarik, “A Foreign investment: Indies Malay to 1901” (1979), John Hoffman menunjukkan betapa para ahli bahasa dan pegawai kolonial Belanda begitu getol ‘mengutak-atik’ Bahasa Melayu. Lingua franca di Kepulauan Nusantara itu dipelajari dengan antusias oleh Belanda, untuk kemudian diajarkan secara sistematis kepada para calon pegawai kolonial yang akan ditugaskan di Hindia Belanda.

Seorang pribumi mengungkapkan kejengkelannya dalam jurnal Jong Sumatra: “Sedang lagi orang Belanda mengichtiarkan sebagaimana daja oepaja boeat memoedahkan bahasanja sendiri, bahasa Melajoe diichtiarkannja boeat menjoekarkan, karena gramatika kita orang Melajoe diatoer oleh orang koelit poetih. Insjaflah kita, bahwasanja boekan sadja kita telah diperintah oleh orang Belanda, melainkan bahasa kita sekalipoen telah dikoetar-katirkannja, sebagaimana kehendaknja” (H[oesin] 1919:22).

Gema peringatan 100 tahun kebangkitan nasional masih belum redup, besambung dengan gema peringatan Hari Kelahiran Pancasila (1 Juni). Dr. Soetomo, sebagai pelopor berdirinya Boedi Oetomo (BU), organisasi sosial ‘modern’ pertama bangsa Indonesia, dikenang sebagai penyemai benih nasionalisme keindonesiaan. Dalam sebulan terakhir banyak sudah hasil bahasan para pakar mengenai aspek kehidupan Dr. Soetomo, khususnya yang terkait dengan perannya dalam dunia pergerakan Indonesia pada dekade-dekade awal abad ke-20. Namun, ada satu aspek yang tampaknya jarang sekali disinggung: yaitu perannya—langsung atau tidak langsung—dalam mengangkat derajat Bahasa Indonesia di hadapan bahasa resmi rezim kolonial, Bahasa Belanda.

Dr. Soetomo adalah salah seorang di antara pemimpin pergerakan yang, langsung atau tidak, telah memberi sumbangsih bagi pengembalian marwah Bahasa Melayu yang prestisenya sengaja diletakkan oleh penjajah di bawah bahasa ibu mereka sendiri. Ia adalah salah seorang dari sedikit intelektual pribumi pada masa itu yang sejak dini sudah menyadari pentingnya sebuah bahasa pemersatu bagi nation (Indonesia) yang sedang dicita-citakan.

Cita-cita Dr. Soetomo untuk mengembalikan marwah Bahasa Melayu itu dan mengimpikannya menjadi sebuah bahasa kebangsaan memang belum terlihat dalam program-program BU. Mungkin ini disebabkan oleh belum adanya elit pribumi dari suku-suku lain di luar Jawa yang terlibat dalam gerakan ini. Cita-cita itu baru diexplisitkan dalam gerakan Partai Indonesia Raya (PARINDRA) yang didirikan Dr. Soetomo pada bulan Desember 1935. Boleh jadi kesadaran itu dalam diri Dr. Soetomo muncul setelah sebelumnya dia mengabdikan diri dalam lingkungan penduduk Sumatra di Lubuk Pakam.

PARINDRA—gabungan BU dan Persatuan Bangsa Indonesia yang berdiri tahun 1931 sebagai reinkarnasi dari Indonesische Studie Club (berdiri1924)—adalah salah satu organisasi pergerakan nasional yang nyata-nyata mencantumkan upaya pengembalian prestise Bahasa Melayu—yang sejak akhir 1920-an sudah sering juga disebut dengan istilah Bahasa Indonesia—dalam plafon partai itu. Upaya itu dijalankan dengan menuntut secara resmi penggunaan Bahasa Melayu dalam forum-forum resmi yang juga melibatkan orang Belanda.

Wakil-wakil PARINDRA di pusat (Batavia) menuntut dengan tegas pemakaian Bahasa Melayu/Indonesia oleh Faksi Nasional dalam sidang-sidang Volksraad. Sementara wakil-wakil cabang partai ini di daerah-daerah memperjuangkan hal yang sama dalam sidang-sidang gemeenteraad setempat, seperti di Gemeenteraad Surabaya, Malang, Bogor, Medan, Solo, dan Semarang.

Kecuali atas nama pribadi, pada masa itu tak ada partai pribumi selain PARINDRA yang nyata-nyata memperjuangan pemakaian Bahasa Melayu dalam sidang-sidang resmi pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dalam satu rapat Gementeeraad Malang pada awal November 1939, misalnya, wakil PARINDRA berbahasa Melayu atas perintah partainya (Pandji Poestaka [PP] 88/XVII, 4 Nov. 1939).

Sebelumnya, pada bulan Juni 1939, wakil PARINDRA di Gemeenteraad Surabaya mengambil keputusan yang cukup radikal: “Memoeteoeskan bahwa di Gemeenteraad kalau dibitjarakan hal2 jang penting anggotanja akan memakai bahasa Melajoe. Hal2 jang koerang penting akan dibitjarakan dalam bahasa Belanda.” (PP 51/XVII, 28 Juni 1939).

PARINDRA tak gentar menghadapi ancaman Pemerintah Kolonial dan maju terus dengan tuntutannya itu: melakukan ‘sabotase’ terhadap kesuperioritasan dan ‘keagungan’ Bahasa Belanda yang dijaga dan diperlihatkan dalam ruang-ruang sidang resmi Pemerintah Kolonial. Pada 2 -3 Desember 1939 para fungsionaris PARINDRA mengadakan decentralisatiecongres yang pertama di Semarang. Salah satu agenda kongres itu adalah mempertegas tuntutan penggunaan “bahasa Indonesia pada raad2 locaal” (PP 94/XVII, 25 Nov. 1939).

Sejarah telah mencatat bahwa aksi wakil-wakil PARINDRA itu menular dengan cepat ke hampir setiap jiwa anggota Faksi Nasional di pusat dan daerah. Untuk pertama kalinya otoritas Bahasa Belanda sebagai bahasa resmi pemerintah yang bergengsi ‘digoyang’ oleh Bahasa Indonesia, yang mengandung semangat nasionalisme yang membara dan oleh karenanya semakin mengkhawatirkan Pemerintah Kolonial.

Para anggota Faksi Nasional di Volksraad makin berani berpidato dan mengemukakan pendapatnya dalam Bahasa Indonesia. Salah seorang bintangnya adalah Jahja Datoek Kajo, salah seorang utusan Minangkabau di Volksraad (Suryadi 2006). Pidato-pidatonya dalam Bahasa Indonesia di Volksraad, yang selama ini hanya memakai Bahasa Belanda, berdentam-dentam di telinga para pejabat kolonial Belanda. Jahja Datoek Kajo digelari sebagai “Jago Bahasa Indonesia” oleh pers pribumi dan, sebaliknya, dicibirkan oleh pers berbahasa Belanda (Pedoman Masjarakat 23, 1938).

Itulah sumbangsih lain dari Bapak Kebangkitan Nasional Indonesia, Dr. Soetomo, melalui PARINDRA yang didirikannya. Mengenang kebangkitan Bahasa Nasional, di samping memperingati Hari Kebangkinan Nasional, mungkin akan membuat kita tetap waspada akan ancaman yang kini dihadapi Bahasa Indonesia, menjadikan anak bangsa ini tetap bangga dengan bahasa kebangsaannya (Bahasa Indonesia).

Syukurlah bahwa sampai kini, saat kebangkitan nasional Indonesia mencapai umur satu abad, Bahasa Indonesia yang marwahnya telah diperjuangan Dr. Soetomo melalui jalur resmi kepartaian (PARINDRA) masih kokoh ‘mengikat’ dan mempersatukan Bangsa Indonesia, walau kini ia terancam kehilangan prestise oleh serbuan Bahasa Inggris yang dirancang oleh imperialisme budaya Barat, sebagaimana dulu ia direndahkan oleh Rezim kolonial yang disetir oleh kolonialisme Eropa.

Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië, Universiteit Leiden, Belanda

Dimuat di www.PadangKini.com; Jumat, 6/6/2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: